Kamis, 11 Agustus 2022

TAK BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA KARENA TAK BERILMU

 

 

TAK BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA KARENA TAK BERILMU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika seorang anak tak memiliki ilmu tentang keutamaaan berbuat baik kepada orang maka ini merupakan salah satu sebab dia mengabaikan orang tuanya. Oleh karena itu sangat dianjurkan kepada anak anak belajar pengetahuan atau ilmu tentang kewajiban berbuat baik kepada orang tua serta keutamaannya.

Ketahuilah, sungguh sangatlah banyak keutamaan yang diperoleh seorang anak jika berbuat baik atau berbakti kepada kedua orang tuanya, diantaranya :

(1) Sungguh keutamaan paling terdepan berbuat baik kepada orang tua adalah untuk MEMENUHI PERINTAH  Allah Ta’ala dalam banyak firman-Nya, diantaranya adalah :

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوۤا۟ إِلَّاۤ إِیَّاهُ وَبِٱلۡوَ ٰلِدَیۡنِ إِحۡسَـٰنًاۚ

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah BERBUAT BAIK KEPADA IBU BAPAK. (Q.S al Isra’ 23).

(2)  Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda  ketika menjawab pertanyaan Ibnu Mas’ud :

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amal-amal yang paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya). Kedua BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA. Ketiga  jihad di jalan Allah. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

(3) Bahwa ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ  

Ridha Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu Hibban, at Tirmidzi dan al Hakim).

(4) Satu hal  termasuk keutamaan yang akan diperoleh seorang anak yang berbuat baik kepada kedua orang tuanya adalah bisa memasuki pintu surga yang paling tengah. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

Orang tua adalah PINTU SURGA PALING TENGAH. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi dan Ibn Majah.   Dihasankan oleh Syaikh Syuaib al Arnauth).

Al Qadhi Baidhawi berkata : Makna hadits, bahwa cara terbaik untuk masuk surga, dan sarana untuk mendapatkan derajat yang tinggi di surga adalah mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya. Ada juga ulama yang mengatakan bahwa di surga ada banyak pintu. Yang PALING NYAMAN DIMASUKI ADALAH PINTU PALING TENGAH. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu itu adalah menjaga hak orang tua. (Tuhfatul Ahwadzi).

Nah, jika seorang anak memiliki ilmu maka dia tahu persis bagaimana besar keutamaan dan kebaikan yang akan diperoleh jika dia berbuat baik kepada orang tuanya. Dengan begitu maka dia akan bersemangat melakukan apapun yang dia mampu untuk membalas kebaikan orang tuanya. Apalagi ketika orang tuanya sudah berusia lanjut.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua.Wallahu A'lam. (2.700) 

 

PENJAGAAN DARI ALLAH BAGI YANG MELAZIMKAN SHALAT DHUHA

 

PENJAGAAN DARI ALLAH BAGI YANG MELAZIMKAN SHALAT DHUHA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa  manusia  diciptakan bersifat lemah. Allah Ta'ala menjelaskan keadaan ini dalam firman-Nya :

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

Manusia diciptakan (bersifat) lemah. (Q.S an Nisa’ 28).

Kelemahan yang ada pada diri manusia membuatnya tak mampu melindungi atau menjaga sendiri, dirinya dari berbagai kesulitan, kesedihan dan marabahaya termasuk godaan dan gangguan syaithan.

KETAHUILAH BAHWA MANUSIA AKAN MENJADI KUAT BAHKAN SANGAT KUAT KETIKA MEMOHON PENJAGAAN  DAN MEMOHON KEKUATAN KEPADA AL QAWIY YAITU ALLAH TA’ALA YANG MAHA KUAT. Sungguh Allah Ta'ala melalui Rasul-Nya telah memberikan banyak petunjuk untuk mendapat perlindungan dan penjagaan dari Allah Ta'ala. Salah satunya adalah dengan MELAZIMKAN ATAU MEMBIASAKAN DIRI MENGAMALKAN SHALAT DHUHA.

Tentang makna shalat dhuha dijelaskan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz. Beliau berkata : Shalat dhuha  atau shalatul Awwabiin adalah shalat sunnah mu’akkadah, dimulai sejak terbitnya matahari setinggi tombak, sampai menjelang tergelincirnya matahari, minimal dua rakaat dan tak terbatas jumlah maksimalnya (www.binbaz.org.sa).

Sungguh,  seorang hamba yang melaksanakan shalat dhuha empat rakaat akan mendapat penjagaan dari Allah Ta'ala sehari penuh. Dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman : “Ibna aadamarka’ lii min awwalin nahaari arba’a raka’aatin akfika aakhirah”.  Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku di pagi hari empat rakaat, niscaya Aku akan menjagamu sampai akhir hari (mu). H.R at Tirmidzi dishahihkan oleh Syaikh al Albani. 

Selain itu, ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  memohon ampun dan bertaubat SETELAH SHALAT DHUHA, yaitu sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat Dhuha, beliau mengucapkan :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

مائة مرة  حتى  قالها

Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.  

Sampai beliau membacanya seratus kali. (H.R Imam Bukhari dalam al Adab al Mufrad, Syaikh al Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih).

Hadits ini menjadi dalil bahwa ketika selesai shalat dhuha dianjurkan membaca doa ini sebanyak seratus kali sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Insya Allah SANGAT BAIK untuk kita amalkan.

Oleh karena itu hamba Allah hendaklah berusaha melazimkan dirinya untuk istiqamah mengamalkan shalat dhuha yang memiliki sangat banyak keutamaan. Selain itu, sangat dianjurkan memohon ampun serta bertaubat seratus kali setelah shalat dhuha. Insya Allah ada manfaatnya bai kita semua. Wallahu A'lam. (2.699)

 

 

 

 

 

Rabu, 10 Agustus 2022

ANAK WAJIB SANTUN BERBICARA DENGAN ORANG TUANYA

 

ANAK WAJIB SANTUN  BERBICARA DENGAN ORANG TUANYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 Setiap anak harus senantiasa santun ketika berbicara dengan kedua orang tuanya. Ini adalah  SEBAGAI SALAH SATU BENTUK BERBUAT BAIK KEPADA ORANG TUA. Berbicaralah kepada kedua orang tua dengan santun, lemah lembut, kalimat yang baik. Terlebih lagi pada saat orang tua telah berusia lanjut maka hendaklah bersabar mendengar perkataannya dan membalas ucapannya dengan perkataan yang santun dan mulia.

Sungguh orang tua mempunyai hak yang sangat besar untuk diperlakukan dengan baik oleh anak anaknya. Ini adalah sebagaimana perintah Allah Ta’ala dalam firman-Nya : 

۞ وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia. Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu (dengan sebaik baiknya). Jika salah seorang dari keduanya atau kedua duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu maka janganlah sekali kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”. Dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya PERKATAAN YANG BAIK. (Q.S al Isra’ 23). 

Perhatikanlah bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ala menggandengkan hak-Nya untuk ditauhidkan dengan hak orang tua mendapat perlakuan baik dari anak anaknya. Dalam ayat ini pula Allah Ta’ala tidak memerintahkan manusia hanya berbuat baik sekedarnya atau sekenanya saja karena di sini ada kata, :  إحْسَانًا  dan kata ihsana dalam hal ini memiliki penekanan dalam berbuat baik yang paling baik. Ini menunjukkan betapa agungnya perbuatan berbuat baik dengan sebenar benarnya kepada kedua orang tua.

Tentang ayat dalam surat al Isra’ 23 ini, Syaikh as Sa’di berkata : Setelah menyebutkan hak  hak-Nya, Allah Ta’ala kemudian menyebutkan masalah pelaksanaan hak kedua orang tua dalam firman-Nya : “Dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu (dengan sebaik baiknya), maksudnya berbuat baiklah dengan segala bentuk kebaikan yang berupa PERKATAAN ATAUPUN PERBUATAN. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Cuma saja, kalau kita perhatikan,   manusia di zaman ini sangatlah santun dan hormat kalau berbicara dengan atasannya, rekan rekan bisnis atau pun dengan customernya. Ini tentu baik. Tetapi kalau berbicara dengan orang tuanya sebagian mereka sulit mencari dan menggunakan kalimat yang santun.

Cobalah renungkan apakah besarnya pengorbanan atau kebaikan yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya bisa dibandingkan dengan kebaikan yang diberikan atasan atau rekan rekan bisnis ataupun para customer itu. Jawabannya adalah : TIDAK. Tidak mungkin.

Sekali lagi, renungkanlah wahai saudaraku, insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.698)

 

 

Selasa, 09 Agustus 2022

MENGIKUTI RASULULLAH TANDA MENCINTAI ALLAH

 

MENGIKUTI RASULULLAH TANDA MENCINTAI ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh sangatlah banyak tanda bahwa seorang hamba mencintai Allah Ta’ala. Satu diantaranya dan  yang paling utama adalah bahwa seseorang dianggap mencintai Allah Ta’ala jika dia MENGIKUTI APA YANG DIBAWA DAN DIAJARKAN NABI DALAM SUNNAH BELIAU. As Sunnah menurut Ahlussunnah adalah segala perkataan, perbuatan dan persetujuan yang disandarkan kepada Rasulullah Salallahu ‘alahi wasallam.

Oleh karena itu tidaklah pantas jika seorang yang banyak meninggalkan dan menyelisihi sunnah, tidak meneladani contoh dari Nabi, lalu mengaku mencintai Allah Ta’ala. Apalagi jika keadaan dan penampilannya jauh dari sunnah, ibadahnya banyak yang menyelisihi sunnah. Bahkan lancang membuat perkara perkara baru dalam agama khususnya dalam ibadah. Takutlah dan malulah kepada Allah Ta'ala. Bersegeralah berdoa, memohon taufik dan hidayah-Nya,  minta ampun dan bertaubat kepada-Nya.

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan kita semua tentang hal ini. Allah Ta'ala berfirman : 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ 

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ

Katakanlah (Muhammad) :  Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha penyayang. Katakanlah (Muhammad) : Ta’atilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang orang kafir.  (Q.S Ali Imran 31-32).

Syaikh as Sa’di berkata : Ayat ini merupakan patokan dimana dengannya kita dapat membedakan orang yang mencintai Allah dengan sebenar benarnya dan orang yang hanya sekedar mengaku ngaku semata. Tanda tanda kecintaan kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah dimana Allah menjadikan tindakan mencontoh Rasulullah dan mengikuti apa yang diserukannya sebagai jalan kepada kecintaan kepada Allah dan keridhaan-Nya. 

Oleh karena itu tidaklah akan diperoleh kecintaan Allah dan keridhaan-Nya serta pahala-Nya kecuali dengan membenarkan apa yang dibawa oleh Muhammad Salallahu ‘alaihi Wasallam berupa al Qur an dan as Sunnah. Mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan menjauhi larangan keduanya. 

Maka barangsiapa yang  melakukan hal itu niscaya Allah akan mencintainya lalu membalasnya dengan balasan (untuk) orang orang yang dicintainya. Mengampuni dosa dosanya dan menutup aib aibnya. (Lihat Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah bersungguh sungguh untuk mengikuti apa yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam yaitu sebagai bukti nyata kecintaan setiap hamba kepada Rabb-nya. Wallahu A'lam. (2.697)

MALAS MELAKUKAN KETAATAN MENDATANGKAN KERUGIAN BESAR

 

 

MALAS MELAKUKAN KETAATAN MENDATANGKAN KERUGIAN BESAR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu sifat tak baik tetapi sering menghinggapi sebagian orang adalah SIFAT MALAS. Sungguh sangatlah banyak kerugian yang akan mendatangi orang orang yang memperturutkan rasa malas dalam dirinya. Ketika seseorang memiliki sifat malas ini maka hampir tak ada  pekerjaan atau urusan dunianya yang bisa dilakukan.

Ketahuilah bahwa yang paling berbahaya adalah MALAS DALAM MELAKUKAN KETAATAN. Kenapa ?, karena merasa bahwa ibadah dalam Islam ini sulit dan susah serta banyak sekali macam dan jenisnya.     Ketahuilah saudaraku bahwa Allah Ta'ala menyatakan agama Islam mudah tidak mendatangkan kesulitan. Allah Ta'ala berfirman : 

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. (Q.S. Al Baqarah 185).

Maksud ayat ini adalah Allah menghendaki hal yang memudahkan bagi kalian jalan yang menyampaikan kalian kepada ridha-Nya dengan kemudahan yang paling mudah dan meringankannya dengan keringanan yang paling ringan.

Segala yang diperintahkan Allah atas hamba-hamba-Nya pada dasarnya adalah sangat mudah sekali. Bila terjadi rintangan yang menimbulkan kesulitan maka Allah akan memudahkannya dengan kemudahan lain yaitu dengan menggugurkannya atau menguranginya dengan segala bentuk pengurangan. (Tafsir Karimir Rahman, Syaikh as Sa’di).

Sungguh merugi orang yang suka bermalas malasan terutama dalam ketaatan karena sering menunda nunda melakukan ibadah pada waktunya seperti shalat. Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata : 

سَأَلْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إلَى اللَّهِ ؟ قَالَ : الصَّلاةُ عَلَى وَقْتِهَا . قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ,  قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ ؟ قَالَ : الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ.

Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : Amal apakah yang paling dicintai Allah ?. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab : SHALAT PADA WAKTUNYA (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya). Aku bertanya lagi : Kemudian apa ?. Nabi menjawab : Berbakti kepada kedua orang tua. Aku bertanya lagi : Kemudian apa ?. Nabi menjawab : Jihad di jalan Allah. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan juga yang selainnya).

Ketahuilah bahwa yang terbiasa melalaikan shalat dari waktunya adalah orang orang orang munafik. 

تلك صلاة المنافق يجلس يرقب الشمس حتى إذا كانت بين قرنى الشيطان قام فنقرها أربعا لا يذكر الله فيها إلا قليلا

Ini adalah shalat orang munafik. Ia duduk sampai matahari terbenam di antara dua tanduk syaithan. Lalu ia mengerjakan shalat 'Ashar empat raka'at. Ia hanya mengingat Allah dalam waktu yang sedikit.  (H.R Imam Muslim).

Selain itu ketahuilah bahwa orang yang suka bermalas malasan maka akan sulit mempertanggung jawabkan nikmat waktu yang Allah Ta'ala  anugerahkan kepadanya ketika di dunia. Rasulullah Salaahu 'alaihi Wasallam mengingatkan kita dalam sabda beliau :   

لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ

Tidak  akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat sampai dia ditanya (diminta pertanggungan jawab) tentang UMURNYA UNTUK APA DIHABISKANNYA,   tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya serta tubuhnya untuk apa diletih letihkannya (H.R at Tirmidzi dan ad Darimi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani). 

Oleh karena itu hamba hamba Allah jangan memelihara sifat malas, bersemangatlah dalam ketaatan agar selamat di dunia dan di akhirat kelak. Bermohonlah kepada Allah Ta'ala agar dijauhkan dari SIFAT MALAS yaitu dengan doa yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ وَالكَسَلِ، وَالجُبْنِ وَالبُخْلِ وَالهَرَمِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالمَمَاتِ

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, serta bencana kehidupan dan kematian. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (2.696)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  

 

SANGAT DIANJURKAN BANYAK MEMBACA AYAT AL QUR AN DALAM SHALAT

 

SANGAT DIANJURKAN BANYAK MEMBACA AYAT AL QUR AN DALAM SHALAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam shalat, setelah membaca surah al Fatihah pada rakaat pertama dan kedua, sungguh kita sangat sangat dianjurkan membaca  ayat ayat al Qur an sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat dan dicontohkan oleh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Diantaranya sebagaimana disebutkan pada hadits berikut : 

انَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ مِنْ صَلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ، وَسُورَتَيْنِ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الآيَةَ أَحْيَانًا، وَكَانَ يَقْرَأُ فِي العَصْرِ بِفَاتِحَةِ الكِتَابِ وَسُورَتَيْنِ، وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الأُولَى، وَكَانَ يُطَوِّلُ فِي الرَّكْعَةِ الأُولَى مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ، وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ

Nabi shallallahu’alaihi wasallam membaca al Fatihah di dua rakaat pertama shalat zhuhur dan juga membaca dua surat yang panjang pada rakaat pertama dan pendek pada rakaat kedua dan terkadang hanya satu ayat. Beliau membaca al Fatihah di dua rakaat pertama shalat ashar dan juga membaca dua surat dengan surat yang panjang pada rakaat pertama. Beliau juga biasanya memperpanjang bacaan surat di rakaat pertama shalat subuh dan memperpendeknya di rakaat kedua (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Ketahuilah bahwa membaca al Qur an  memiliki kebaikan dan keutamaan yang banyak dan LEBIH BANYAK LAGI ketika dibaca saat shalat. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :  

مَنْ قَامَ بِعَشْرِ آيَاتٍ لَمْ يُكْتَبْ مِنْ الْغَافِلِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِمِائَةِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْقَانِتِينَ ، وَمَنْ قَامَ بِأَلْفِ آيَةٍ كُتِبَ مِنْ الْمُقَنْطِرِينَ

 Barangsiapa yang qaama (mendirikan shalat malam)  dengan membaca 10 ayat, maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai, barangsiapa yang qaama dengan membaca 100 ayat, maka dicatat sebagai orang yang qaanit (orang yang taat), barangsiapa yang qaama dengan membaca seribu ayat, maka dicatat sebagai orang yang mendapat pahala berlimpah . (H.R Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

 Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أيحب أحدكم إذا رجع إلى أهله أن يجد فيه ثلاث خلفات عظام سمان ؟ قلنا : نعم ، قال : فثلاث آيات يقرأ بهن أحدكم في صلاته خير له من ثلاث خلفات عظام سمان

Apakah salah satu dari kalian suka, jika kembali kepada keluarganya mendapatkan tiga unta bunting yang besar lagi gemuk ?. Kami menjawab : Ya.  Beliau bersabda : Tiga ayat yang dibaca oleh salah satu dari kalian DALAM SHALATNYA lebih baik dari pada tiga unta bunting yang besar lagi gemuk. (H.R Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Diantara faedah yang dapat diambil dari hadits ini disebutkan dalam  Arbauunal Qur'aniyah, yaitu : 

(1) Keutamaan membaca al Qur’an saat shalat, baik shalat Fardhu atau sunnah. 

(2) Bolehnya muraja'ah (mengulang) hafalan dalam shalat. 

(3) Bacaan tiga ayat lebih baik daripada mendapatkan tiga unta, begitu juga seterusnya. 

(4) Di zaman Sahabat Radhiyallahu 'anhum unta merupakan harta tunggangan yang paling besar yang dimiliki oleh orang Arab saat itu, hal ini bisa diqiyaskan dengan kendaraan yang paling mewah di jaman sekarang. 

(5) Motivasi dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kepada para sahabat terhadap amalan-amalan yang kekal, dan agar zuhud terhadap dunia dengan menyebutkan perumpamaan yang mudah dipahami. Seluruh dunia ini ahqar (nilainya lebih rendah) dibandingkan dengan mengenal satu ayat dari Kitabullah begitu juga dengan pahala yang Allah Ta’ala siapkan

Oleh karena itu seorang hamba jangan tergesa gesa menyelesaikan shalatnya. Perbanyaklah membaca ayat ayat al Qur an pada saat shalat wajib dan shalat sunnah dan ambillah   kesempatan lebih  banyak membaca ayat al Qur an  terutama pada shalat malam. Wallahu A’lam. (2.695)

 

 

Minggu, 07 Agustus 2022

BERSEGERA DAN BERLARI KEPADA KETAATAN

 

BERSEGERA DAN BERLARI KEPADA KETAATAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Dalam  usaha mencari keuntungan dunia seperti mencari rizki kebanyakan manusia selalu bersegera bahkan kelihatannya seperti berlomba untuk mendapatkan jumlah yang banyak. Padahal rizki sudah ditetapkan dan dijamin oleh Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya :

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) dibumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Q.S Hud 6.

Ketahuilah bahwa sekuat dan sekeras apapun manusia bekerja mengejar rizki mereka tidak mendapatkan lebih dari apa yang Allah Ta'ala tetapkan baginya. Begitulah rizki itu dibagikan Alah Ta’ala kepada makhluk-Nya sesuai yang kehendaknya-Nya.  Allah Ta’ala berfirman : 

أَوَلَمْ يَعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ وَيَقْدِرُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Dan tidaklah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rizki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki) ?. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal. (Q.S az Zumar 52).

Oleh karena itu,  setiap hamba TAK PERLU BERUSAHA TERLALU KERAS untuk mengejar rizki dunia apalagi sampai melalaikan untuk akhiratnya. Sungguh yang sangat penting untuk disegerakan bahkan mesti berlari adalah  dalam ketaatan kepada Allah Ta’ala.

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata untukmu. (Q.S adz Dzaariyat 50).

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa’di berkata : Tatkala Allah Ta’ala menyeru hamba hamba-Nya untuk melihat tanda tanda kekuasaan-Nya yang mengharuskan mereka takut dan kembali kepada-Nya. Allah Ta’ala memerintahkan sesuatu yang menjadi tujuan dari seruan itu yaitu LARI (MENDEKAT) KEPADA-NYA.

Maksudnya  : (1) Lari dan menjauh dari semua yang dibenci Allah Ta’ala menuju YANG DICINTAI ALLAH TA’ALA. (2) Lari dari kebodohan menuju ilmu. (3) Lari dari kekufuran menuju iman. (4) Lari dari kemaksiatan menuju ketaatan. (5) Lari dari kelalaian menuju kewaspadaan.

Siapapun yang memenuhi hal tersebut maka dia telah menyempurnakan agama secara keseluruhan. Semua yang ditakuti akan lenyap darinya dan akan memperoleh tujuan yang diinginkan.

Allah Ta’ala menyebutkan KEMBALI KEPADA-NYA SEBAGAI LARI, sebab kembali kepada SELAIN ALLAH terdapat berbagai hal yang ditakuti dan tidak diinginkan. Sedangkan (jika) kembali kepada Allah Ta’ala terdapat berbagai hal yang disenangi, keamanan, kebahagiaan dan keberuntungan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Lafazh FAFIRRU ILALLAAH, BERLARILAH KEPADA ALLAH TA’ALA yaitu bergegaslah dan bersegeralah. Jangan berleha leha. Jangan berlalai lalai. Tidak pula berpangku tangan tanpa berbuat sesuatu yang sifatnya bersegera. Allah Ta’ala berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan BERSEGERALAH kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang bertakwa. (Q.S Ali Imran 133).

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala bahkan memerintahkan kita untuk berlomba dalam melakukan kebaikan, sebagaimana firman-Nya :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ

Maka berlomba lombalah kamu dalam kebaikan. (Q.S al Baqarah 148) 

Syaikh as Sa'di berkata : Berlomba dalam berbuat baik meliputi (1) Dengan melakukannya. (2) Dengan menyempurnakannya dan menempatkannya dalam bentuk paling sempurna. (3) Dengan bersegera kepadanya. Barangsiapa YANG BERLOMBA dalam kebaikan ketika  di dunia maka dia AKAN MENJADI PEMENANG di akhirat dengan surga. Dan orang orang yang dahulu dalam perlombaan adalah  yang paling tinggi derajatnya. (Tasir Taisir Karimir Rahman).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.694)