Sabtu, 04 April 2015

TENTANG SABAR DAN RIDHA



TENTANG SABAR DAN RIDHA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sabar dan ridha adalah dua sifat yang sangat mulia dan agung dan  seharusnya selalu dipelihara dan dilazimkan oleh seorang hamba dalam menjalani kehidupan ini. Terlebih lagi pada saat seseorang mendapat ujian, cobaan ataupun kesulitan.

Syaikh Utsaimin memberikan penjelasan tentang  sabar dan ridha. Kata beliau ridha lebih tinggi derajatnya dari sabar.   Ridha lebih tinggi dari sabar dan ada perbedaannya, yaitu : 

Pertama : Orang yang sabar.
Jika mendapat musibah, terkadang merasakan sakit,  hatinya merasa sedih atau terluka, tapi dia mampu bersabar dan  menjaga dirinya dari perbuatan haram.

Kedua : Orang yang ridha.
Jika mendapat musibah, hatinya ridha. Yaitu ia merasa ridha terhadap apa yang telah dipilihkan Allah untuknya. Ia selalu berjalan dengan qadha dan qadar Allah dan tidak memperdulikan apakah yang dirasakannya itu baik maupun buruk baginya. 
(Dari Kitab Syarah Arba’in Nawawiyah, Syaikh Utsaimin) 
 
Semoga Allah selalu memberi kekuatan kepada kita untuk selalu bersabar dan ridha terhadap apapun yang Allah Ta’ala takdirkan bagi kita. Sunguh Allah telah berfirman : “Qul lan yushiibanaa illa maa kataballahu lana, huwa maulaanaa wa ‘alallahi falyatawakkalil mu’minuun”. Katakanlah, Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakkal orang orang yang beriman. (Q.S at Taubah 51). 

Wallahu A’lam.  (257)




Jumat, 03 April 2015

SURAT AL IKHLAS SEPERTIGA AL QUR-AN



SURAT AL IKHLAS SEPERTIGA AL QUR-AN

Oleh : Azwir B. Chaniago

Surat al Ikhlas yaitu surat ke 112 dalam al Qur-an adalah salah satu surat yang  banyak dibaca bahkan dihafal oleh kaum muslimin.  Banyak yang menghafalnya karena surat ini termasuk salah surat pendek. Terdiri dari 4 ayat dan ayatnya tidak panjang. Semuanya terdiri dari 47 huruf. Dan juga surat ini menjelaskan ke Mahaesaan Allah serta mengandung berita yang jelas tentang Allah Ta’ala. 

Surat al Ikhlas dibaca Rasulullah pada rakaat kedua shalat ba’diyah maghrib dan sunah Fajr atau shalat sunat qabliyah shubuh . Dan juga beliau membaca surat ini pada rakaat ketiga shalat witir.

‘An ibnu mas’ud qaala : Maa ahsha maa sami’tu rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam yaqra-u fiir rak’ataini ba’dal maghribi wa fiir raka’ataini qablal fajri “qul yaa aiyuhal kaafiruuna wa qul huwallahu ahad”. Dari Ibnu Mas’ud ia berkata : Tidak terhitung olehku berapa banyak kudengar Rasulullah selalu membaca pada dua raka’at ba’diyah maghrib dan dua rakaat qabliyah shubuh  “qul yaa aiyuhal kaafiruuna dan  qul huwallahu ahad”. (H.R Imam at Tirmidzi).

‘An ibnu abbas qaala : kaana rasulullah salallahu ‘alaihi wasallam yaqra-u fil witri bi sabbihis ma rabbikal a’la waqul yaa ayuhal kaafiruuna wa qul huwallahu ahad fii rak’atin rak’atin.  Dari Ibnu Abbas ia berkata : Adalah Rasulullah biasa membaca pada saat witir dengan sabbihis ma rabbikal a’la, wa qul yaa ayuhal kaafiruuna, wa qul huwallahu ahad dalam setiap rakaat (H.R Imam at Tirmidzi dan Imam an Nasa’i).

Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan tentang sebab turunnya surat ini adalah ketika orang orang musyrik atau orang orang Yahudi yang berkata kepada Rasulullah : Beritakan kepada kami sifat Rabbmu. Kemudian Allah Ta’ala menurunkan surat ini.

Ketahuilah saudaraku bahwa diantara keagungan surat ini  adalah menyamai sepertiga al Qur-an. Rasulullah bersabda : “Innahaa ta’dilu tsulutsal qur-an” Bahwa dia (surat al Ikhlas) menyamai sepertiga al Qur an. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Lalu apa makna menyamai sepertiga al Qur an. Syaikh Muhammad Shalih al Utsaimin menjelaskan bahwa : Sepertiga al Qur an tetapi tidak dapat menggantikan sepertiga al Qur an tersebut. Dalilnya, kata beliau, kalau seorang membaca surat ini sebanyak tiga kali di dalam shalat, masih belum mencukupi sebelum dia membaca surat al Fatihah. Pada hal jika ia membacanya tiga kali seolah olah ia membaca seluruh ayat al Qur an (termasuk al Fatihah, pen) tetapi tidak dapat mencukupinya. (Kitab Tafsir Juz ‘Amma, Syaikh Utsaimin).

Selanjutnya, Syaikh al Utsaimin juga menjelaskan,  surat al Ikhlas ini menyamai sepertiga al Qur an adalah bahwa pembahasan al Qur an adalah meliputi :

Pertama : Berita tentang Allah Ta’ala.

Kedua : Berita tentang makhluk seperti berita tentang umat umat terdahulu, berita tentang peristiwa peristiwa yang tengah terjadi dan akan terjadi.

Ketiga : Hukum hukum seperti dirikanlah, tunaikanlah, jangan kalian berbuat syirik dan yang lainnya.

Sehingga, kata beliau, surat ini menyamai sepertiga al Qur an karena surat ini menyampaikan berita tentang Allah Ta’ala. (Lihat Kitab 100 Pelajaran dari Kitab Aqidah Wasithiyah).

Mudah mudahan bermanfaat bagi kita semua. Wallahu A’lam.  (256)

         

ADAB KETIKA MENDAPAT MUSIBAH



ADAB KETIKA MENDAPAT MUSIBAH

Oleh : Azwir B. Chaniago

Semua manusia, pada waktunya pasti akan mendapat ujian, cobaan ataupun musibah. Ini semuanya  bisa terjadi terhadap diri seseorang, keluarganya, hartanya dan yang lainnya. 

Banyak ayat al Qur an dan Hadits yang  telah menjelaskan tentang hal ini, diantaranya adalah : Allah berfirman :“Ahasiban naasu an yutrakuu an yaquuluu aamannaa wa hum laa yuftanuun” Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan dengan hanya mengatakan : “Kami telah beriman”, dan mereka tidak diuji ?.   (Q.S al Ankabuut 2)
Allah berfirman : “Wa la nabluannakum bisyai-in minal khaufi wal juu’i wa naqshin minal amwaali wal anfuusi wats tsamarat, wa basysyiril shaabiriin”  Dan kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang orang yang sabar. (Q.S al Baqarah 155)

Rasulullah bersabda :  “Matsalul mu’mini kamatsaliz zar’i, laatazaalur riihu tamiiluhu, walaa yazaalul mu’minu yushiibuhul bala’. Perumpamaan seorang mu’min tak ubahnya seperti tanaman, angin akan selalu menerpanya, ia akan selalu mendapat cobaan (H.R Imam Muslim).

Sungguh Islam ini adalah agama yang sempurna. Segala sesuatu telah diajarkan dalam syariat Islam. Juga telah diajarkan bagaimana adab seorang hamba  jika pada suatu waktu mendapat musibah. Diantaranya adalah : 

Pertama : Sabar dalam menerima musibah.
Ini adalah adab yang agung. Oleh karena itu seorang hamba hendaklah bersabar. Diantara bentuk kesabaran adalah menahan diri dari kemarahan, menahan lisan untuk mengeluh dan menahan anggota badan dari perbuatan yang mendatangkan murka Allah.  

Selain itu, diantara yang bisa membantu seseorang bersabar dalam menerima musibah  adalah senantiasa meyakini bahwa kemarahan, kekesalan ataupun keluhan tidak akan merubah apa yang telah ditetapkan Allah Ta’ala. Oleh karena itu bersabarlah sebagaimana sabarnya orang orang yang bertakwa yakni sabar dengan penuh kerelaan.

Kedua :Tetaplah yakin bahwa segala sesuatu terjadi adalah karena ketetapan dan  kehendak Allah bukan kehendak atau tersebab siapa siapa. Seorang hamba harus pula yakin bahwa Allah telah menetapkan adanya hikmah di balik suatu musibah.

Sunguh Allah telah berfirman : “Qul lan yushiibanaa illa maa kataballahu lana, huwa maulaanaa wa ‘alallahi falyatawakkalil mu’minuun”. Katakanlah, Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakkal orang orang yang beriman. (Q.S at Taubah 51). 

Allah berfirman : “Maa ashaaba min mushiibatin fil ardhi walaa fii anfusikum illa fii kitaabin min qabli an nabra-ahaa, inna dzaalika ‘alallahi yasiir” Tiada sesuatu musibah yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Q.S al Hadiid 22).

Ketiga : Tidak mengeluh kepada manusia.
Seorang hamba yang mendapat musibah maka haruslah menjaga adab untuk tidak mengeluh kepada makhluk. Ketahuilah bahwa ini adalah tingkat keluhan yang paling hina karena dia mengeluhkan Mahapencipta yang menciptakannya kepada manusia. Ia mengeluhkan Allah yang Mahapenyayang, yang lebih sayang terhadap dirinya daripada dirinya sendiri atupun ibu kandungnya. 

Seseorang telah bersyair : Apabila engkau mendapat musibah, maka bersabarlah seperti kesabaran manusia yang mulia. Memang begitulah seharusnya. Apabila engkau mengeluh kepada makhluk, maka sesungguhnya engkau telah mengeluhkan Allah Yang Mahapenyayang kepada makhluk yang tidak menyayangi.
 
Keempat : Mengucapkan kalimat istirja’ dan berdoa.
Adalah juga merupakan salah satu adab jika  mendapat musibah yaitu mengucapkan kalimat istirja’. Allah berfirman : “…Wa basysyirish shaabiriin. Alladziina idzaa ashaabathum mushiibatun qaaluu inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun” Ulaaika ‘alaihim shalawaatun min rabbihim wa rahmah, wa ulaaika humul muhtaduun”  …Dan berilah kabar gembira kepada orang orang yang sabar. (yaitu) orang orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya. Dan mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk. (Q.S al Baqarah 155-157). 

Rasulullah bersabda : “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu membaca doa yang telah diperintahkan Allah : Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami akan kembali. (Allahumma ajurnii fii mushibatii wa ikhliflii khairan minha)  Ya Allah berilah aku pahala dari musibahku ini dan gantilah dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya. Melainkan Allah pasti memberinya pahala atas musibah tersebut dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya (H.R Imam Muslim).

Selain itu, diantara doa yang  juga sering dibaca oleh Rasulullah ketika beliau menghadapi kesulitan adalah : Yaa  haiyu yaa qaiyumu bi rahmatika astaghiits. Ya Allah yang Mahahidup kekal. Ya Allah, Rabb Yang terus menerus mengurus hambaNya. Dengan rahmatMu aku meminta pertolongan. (H.R Imam at Tirmidzi, dari Anas bin Malik). 
   
Kelima : Mengharapkan jalan keluar yang terbaik dari Allah.
Salah satu adab seorang hamba dalam menerima musibah adalah  senantiasa menggantungkan harapannya kepada Allah saja. Dialah yang mampu meringankan bahkan menghilangkan musibah yang menimpa. Dialah yang mampu menggantinya dengan pertolongan, kemudahan dan karuniaNya. Oleh karena itu berharaplah jalan keluar kepadaNya.

Imam as Syafi’i berkata : Barang siapa berharap kepada Allah niscaya dia akan mendapatkan apa yang diharapkan. 
   
Hendaklah seorang hamba menghadapkan hatinya dengan penuh harapan agar Dia berkenan menghilangkan beban musibah tersebut dan menghilangkan rasa sedih dan putus asa. Allah berfirman : …Walaa taiasu min rauhillah, innahuu laa yaiasu min rauhillah illal qaumul kaafiruun”.  …Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Q.S Yusuf 87).

Itulah sebagian adab jika seorang hamba mendapat ujian, cobaan ataupun musibah. Wallahu A’lam.  (255).
  
 

Kamis, 02 April 2015

MENGANYAM JARI JEMARI



MENGANYAM JARI JEMARI

Oleh : Azwir B. Chaniago

Seseorang memiliki pengalaman yaitu pada saat menunaikan ibadah haji  tahun 1994. Dia menceritakan bahwa pada suatu waktu dia melaksanakan shalat Jum’at di Masjidil Haram. Dia datang agak lebih awal ke masjid supaya dapat tempat di dalam masjid. Karena datang lebih awal maka dia lebih lama menunggu shalat Jum at dimulai. Lalu dia duduk di masjid dengan sopan. Tanpa sengaja sambil duduk dia menganyam jari jemarinya yaitu mempertemukan dua telapak tangan dan jari kanan dimasukkan disela jari kiri dan sebaliknya. Sebenarnya ini adalah pemandangan yang sering kita lihat. Sepintas tidak ada masalah.

Ada jamaah yang duduk disebelahnya mengingkari atau melarang dengan menepis tangannya yang sedang menganyam jari jemari ini. Yang menganyam jari ini bingung kenapa tidak boleh, tapi dia langsung berhenti dari menganyam jari jemarinya. Sebenarnya teman ini ingin bertanya kenapa tidak boleh duduk dengan menganyam jari di masjid. Namun orang yang mengingkari itu adalah orang asing,  berwajah Arab dan dia tidak bisa berkomunikasi karena hambatan bahasa.

Begitulah kisahnya. Kemudian katanya,  dua puluh tahun setelah melaksanakan ibadah haji tersebut saya menemukan sebuah hadits yang insya Allah shahih tentang larangan menganyam jari jemari yang termasuk adab dalam mendatangi masjid. Orang yang mendatangi masjid (menunggu shalat) hukumnya sama dengan sedang shalat. 

Rasulullah bersabda : “Idzaa  tawadha-a ahadukum fa ahsin wudhu-ahu tsumma kharaja ‘aamidan ilal masjidi fa laa yusybikunna ashaabi’ihi fa innahu fii shalaah” Apabila diantara kalian berwudhu’ lalu keluar (dari rumahnya) menuju masjid maka janganlah ia menganyam jari jemarinya  karena dia (berada) di dalam shalat. (H.R Imam at Tirmidzi)    
  
Syaikh al Mubarakfuri berkata : Dalam hadits ini dimakruhkan menganyam jari jemari saat keluar rumah menuju masjid untuk shalat dan orang yang menuju masjid untuk shalat akan diberikan pahala shalat dari sejak keluar rumah sampai pulangnya (Tuhfatul Ahwadzi bi Syarh Sunan at Tirmidzi).

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin menjelaskan bahwa larangan ini hukumnya makruh dan tidak haram. Jika suatu waktu dibutuhkan maka hal itu dibolehkan. Rasulullah pernah menganyam jari jemari  saat beliau butuh membuat permisalan ketika beliau bersabda : “Seorang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain seperti satu bangunan yang kokoh saling menguatkan satu sama lain. Lalu beliau menganyam jari jemarinya”. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Wallahu a’lam.   (254)