Jumat, 28 Mei 2021

BERUSAHALAH SUNGGUH SUNGGUH MEMBACA DAN MEMPELAJARI AL QUR AN

 

BERUSAHALAH SUNGGUH SUNGGUH MEMBACA DAN MEMPELAJARI AL QUR AN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh al Qur an adalah kitab yang mulia, al Qur an al Kariim. Berlapis lapis kemulian ada pada al Qur an, yaitu : (1) Al Qur an adalah Kalamullah, diturunkan dari Allah yang Mahamulia. (2) Diturunkan melalui Malaikat Jibril, Malaikat yang mulia diantara para Malaikat. (3) Diturunkan kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam, Rasul yang mulia diantara para Rasul. (4) Diturunkan pada pada bulan yang mulia dan penuh berkah yaitu bulan Ramadhan. (5) Diturunkan pada malam yang mulia dan lebih baik dari seribu bulan yaitu malam lailatul qadr.

Sungguh, al Qur an diturunkan sebagai petunjuk yang sempurna dan pembeda antara yang hak dan yang bathil. Allah Ta’ala berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ

Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al Qur an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil). Q.S al Baqarah 185.

Rasulullah Salallahu Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :   

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selamanya jika kalian berpegang dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (al Qur an) dan Sunahku. (H.R al Hakim).

Ketahuilah bahwa untuk MERAIH PETUNJUK AGAR TIDAK TERSESAT  maka MENJADI KEWAJIBAN PALING PENTING bagi hamba hamba Allah untuk TERUS MENERUS BERUSAHA MEMBACA DAN MEMPELAJARINYA. Tak mungkin seseorang mendapat manfaat dari suatu petunjuk tanpa membaca dan mempelajari serta mengamalkannya. Bahkan sangat dianjurkan pula mengajarkan atau mendakwahkannya sesuai kemampuan. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

خيركم من تعلم القرآن وعلمه 

Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya. (H.R Imam Bukhari).

Oleh karena  itu hamba hamba Allah haruslah menyediakan waktu secara khusus dan terjadwal untuk membaca dan mempelajari al Qur an. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala telah memberi  kemudahan untuk mempelajari al Qur an sebagaimana firman-Nya :

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al Qur an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?. (Q.S al Qamar 17).

Ayat dalam surat al Qamar 17 ini diulangi Allah Ta’ala dalam redaksi yang sama dalam tiga ayat lainnya pada surat al Qamar yaitu di ayat 22, 32 dan 40.

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa’di berkata : Artinya, Kami (Allah Ta’ala) memudahkan KATA KATA AL QUR AN UNTUK DIHAFAL DAN DIJELASKAN UNTUK DIPAHAMI DAN DIKETAHUI KARENA KATA KATA AL QUR AN ADALAH KATA KATA YANG TERBAIK. Maknanya paling benar dan penjelasannya paling gamblang. Siapa saja yang mempelajarinya AKAN DIBERI KEMUDAHAN OLEH ALLAH TA’ALA untuk mencapai maksudnya secara mudah. (Tafsir Taisir Kaimir Rahman).

Saat ini, sangatlah banyak  sarana, lembaga, majlis ilmu, media elektronik, media sosial serta kitab kitab Tafsir yang ditulis ulama  sebagai jalan untuk mempelajari al Qur an. Ketika seorang hamba menyediakan dan mengatur  WAKTU SECARA KHUSUS untuk membaca dan mempelajari al Qur an, dengan pertolongan Allah Ta’ala maka akan didapatlah petunjuk itu.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.314).   

 

 

 

 

Selasa, 25 Mei 2021

TETAP MENJAGA KEIKHLASAN KETIKA BERSEDEKAH

TETAP MENJAGA KEIKHLASAN KETIKA BERSEDEKAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Berinfak atau bersedekah adalah perbuatan mulia yang betul betul sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Ketika bersedekah, sangatlah dianjurkan untuk tetap menjaga keikhlasan. Sungguh semua ibadah kita haruslah karena mencari wajah Allah, ikhlas karena Allah, termasuk berinfak dan bersedekah sehingga benar benar bernilai di sisi-Nya. Allah Ta’ala berfirman :

وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَآءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكُ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorangpun dengan Rabb-nya. (Q.S al Kahfi  110).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنَ العَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصاً وَ ابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menerima amal perbuatan, kecuali yang ikhlas dan dimaksudkan (dengan amal perbuatan itu) mencari wajah Allah. (H.R an Nasa-i, dihasankan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih at Targhib wat Tarhib).

Bahkan bersedekah dengan disembunyikan itu lebih baik (memiliki nilai lebih) dari pada terang terangan. Allah Ta’ala berfirman :

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Jika kamu menampakkan sedekah sedekahmu maka itu baik. Dan jika KAMU MENYEMBUNYIKANNYA dan memberikannya kepada orang fakir MAKA ITU LEBIH BAIK BAGIMU. Dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan kesalahanmu. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.  (Q.S al Baqarah 271).

Dalam surat al Insan digambarkan tentang orang yang memberi makanan dengan  mengharapkan ridha Allah saja. Allah Ta’ala berfirman :

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

(Sambil berkata) : Sesungguhnya kami memberikan makanan kepadamu (orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan) HANYALAH KARENA MENGHARAPKAN KERIDHAAN ALLAH, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu. (Q.S al Insan 9)

Syaikh as Sa’di berkata : Maksudnya mereka memberi makan dan infak adalah demi mencari ridha Allah Ta’ala semata. Mereka tidak mengharapkan balasan materi ataupun sanjungan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Diantara keutamaan sedekah dengan diam diam dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

 إن صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

Sesungguhnya sedekah yang dikeluarkan secara rahasia dapat memadamkan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala. (H.R ath Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Orang yang bersedekah mestilah menunjukkan bahwa dia seorang hamba berlaku ikhlas kepada Allah. Ia berlaku tulus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  yaitu bersedekah dengan cara diam-diam. Dengan demikian Allah Subhanahu wa Ta’ala akan ridha kepada-nya dan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat adzab ataupun murka-Nya atas hamba tersebut.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.313)



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Senin, 24 Mei 2021

TEMAN YANG SHALIH MENDORONG KEPADA KEBAIKAN

 

TEMAN YANG SHALIH MENDORONG KEPADA KEBAIKAN

                                               Disusun oleh : Azwir B. Chaniago                          

Manusia ditakdirkan Allah Ta’ala untuk hidup berkelompok, bergaul, bermasyarakat dan berteman. Sungguh tidaklah nyaman ketika seseorang hidup tanpa bergaul dengan orang lain. Namun demikian tidaklah baik ketika seseorang bergaul atau berteman akrab dengan semua orang karena orang orang memiliki berbagai karakter yang berbeda.

Sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan agar seseorang memilih teman akrab dalam bergaul sebagaimana sabda beliau :

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian. (H.R Abu Dawud, at Tirmidzi dan Imam Ahmad, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).  

Imam Ibnu Qudamah al Maqdisi memberikan nasehat tentang memilih teman (sahabat dekat  atau teman akrab). Beliau berkata :   Secara umum, hendaknya orang yang engkau pilih menjadi sahabat memiliki lima sifat berikut : (1) Orang yang berakal. (2)  Memiliki akhlak yang baik, (3) Bukan orang fasik (yang banyak berbuat dosa). (4) Bukan ahli bid’ah (yang suka mengada ada dalam agama) dan  (5)  Bukan orang yang rakus dengan dunia. (Mukhtasar Minhajul Qashidin)

Jadi, ketika memilih teman akrab haruslah dengan memperhatikan  keshalihannya.  Diantara keutamaan berteman akrab dengan orang shalih  adalah selalu mengajak dan mendorong temannya kepada kebaikan dan mengingatkan untuk menjauhi kemungkaran.

Syaikh as Sa’di berkata : Teman yang shalih senantiasa MENDORONG KITA UNTUK MELAKUKAN KETAATAN kepada Allah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, dan mengajak kita untuk senantiasa berakhlak mulia, baik dengan perkataannya, perbuatannya, ataupun dengan sikapnya.

Sesungguhnya seseorang akan mengikuti sahabat atau teman duduknya, dalam hal tabiat dan perilaku. Keduanya saling terikat satu sama lain dalam kebaikan ataupun yang sebaliknya. (Bahjah Quluubil Abrar).

Ketahuilah bahwa  berteman akrab dengan orang yang buruk kelakuannya akan menjadi penyesalan di akhirat kelak. Allah Ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya.

لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي ۗ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا   يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا

Wahai, celaka aku !. Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrab-ku. Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (al Qur an) ketika (al Qur an) itu telah datang kepadaku. Dan syaithan memang pengkhianat manusia. (Q.S al Furqan 28-29).

Wallahu A’lam. (2.312)