Selasa, 27 Oktober 2020

ADA LAKNAT ALLAH BAGI ORANG ZHALIM

TERSEDIA LAKNAT ALLAH BAGI ORANG ORANG ZHALIM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu cara bersyukur seorang hamba kepada Rabb-nya adalah dengan menggunakan nikmat yang diberikan Allah Ta’ala sebagai sarana MENCARI DAN MENDAPATKAN RIDHA-NYA. Cuma saja,  di zaman ini semakin banyak manusia yang lupa bahkan ada yang tidak MAU BERSYUKUR.

Lihatlah ketika sebagian manusia memperoleh anugerah Allah Ta’ala berupa pangkat, jabatan, kedudukan dan harta yang banyak lalu mereka tak bersyukur. Dan yang lebih parah lagi adalah menjadikan pangkat, jabatan, kedudukan dan harta oleh sebagian manusia SEBAGAI SARANA UNTUK MENZALIMI ORANG LAIN.

Ini kelakuan SANGAT BURUK AKIBATNYA. Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan bahwa LAKNAT ALLAH AKAN MENDATANGI ORANG ORANG ZHALIM. Allah Ta’ala berfirman :

Allah Ta’ala berfirman :  

 أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Ingatlah, (bahwa) laknat Allah menimpa orang-orang yang zalim.  (Q.S  Huud 18).

Syaikh as Sa’di berkata : ”Laknat Allah menimpa orang-orang yang zalim”.  Yakni LAKNAT YANG TAK TERPUTUS, karena kezhaliman telah menjadi sifat yang melekat pada diri mereka. Tak ada keringan bagi mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)  

 Sungguh, kezhaliman itu akan kembali kepada diri pelakunya. Seseorang yang telah melakukan kezhaliman terhadap orang lain berarti dia telah melakukan suatu PERBUATAN JAHAT. Sungguh perbuatan jahat yang dilakukan, cepat atau lambat  kembali kepadanya. Allah Ta’ala berfirman : 

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat keburukan maka (kerugian keburukan) itu untuk dirimu sendiri. (Q.S al Israa’ 7).

Selain itu ketahuilah bahwa ketika seseorang dizhalimi maka kemungkinan dia tidak bisa membalas karena tak punya kemampuan karena berhadapan dengan orang yang punya pangkat dan jabatan. Tetapi ketika orang yang dizhalimi berdoa maka doanya diijabah. Ini juga bisa membahayakan dan mendatangkan keburukan kepada yang berbuat zhalim.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam mengingatkan bahwa doa orang yang dizhalimi mustajab. Rasulullah pernah berpesan kepada Muadz bin Jabbal tatkala diutus berdakwah ke Yaman : 

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

Berhati hatilah (takutlah) terhadap doa orang  yang dizhalimi karena tidak ada penghalang antara dia dengan Allah (untuk dikabulkan doanya) (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Juga Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa doa orang yang dizhalimi tidak ditolak sebagaimana sabda beliau :

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ، لاَشَكِّ فِيْهِنَّ

دَعْوَةُاْلوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Ada tiga doa yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang tidak diragukan tentang doa ini, yaitu doa kedua orang tua terhadap anaknya, doa orang yang musafir dan DOA ORANG YANG DIZHALIMI. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Dawud, dan at Tirmidzi).  

Oleh karena itu KASIHANILAH DIRI KALIAN WAHAI ORANG ORANG YANG SUKA BERBUAT ZHALIM. Segeralah berhenti dan bertaubat dari perbuatan menzhalimi manusia.  Cepat cepatlah meminta maaf dan ridha kepada orang orang yang pernah dizhalimi. Wallahu A’lam (2.110)

 

 

 

 

 

Sabtu, 24 Oktober 2020

TUNGGU KEBINASAAN JIKA KEADILAN TAK DITEGAKKAN

 

TUNGGU KEBINASAAN JIKA KEADILAN TAK DITEGAKKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Terkadang kita bertanya : Apakah di zaman ini keadilan masih ada ?. Mungkin sudah langka kalau belum bisa dikatakan punah. Lihatlah keluhan banyak orang yang sulit mencari dan mendapatkan keadilan bagi masyarakat, bagi dirinya dan hartanya.

Sebagian orang berkata  : Kalau mencari keadilan disarankan melalui lembaga peradilan. Benarkah disitu betul betul bisa diperoleh keadilan  atau mungkin keadilan  sudah jarang dan susah diperoleh ?. Wallahu a’lam.

Sungguh Allah Ta’ala dalam banyak firman-Nya, dengan sangat tegas, telah memerintahkan manusia untuk berlaku adil, diantaranya adalah :

Pertama : Dalam surat an Nahal 90.

Allah Ta'ala telah memerintahkan manusia untuk berlaku adil  dan juga melarang manusia untuk berbuat keji dan mungkar. 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ  ۚ

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) BERLAKU ADIL dan berbuat kebajikan memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.

Kedua : Dalam surat al Maidah 8

Selain itu,  Allah Ta’ala juga memerintahkan orang yang beriman  untuk berlaku adil dalam berbagai keadaan. Allah Ta’ala berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ

تَعْمَلُونَ  خَبِيرٌبِمَا  إِنَّ اللَّهَ

Wahai orang orang yang beriman !. Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. 

Syaikh as Sa’di berkata : Dalam ayat ini Allah Ta’ala memerintahkan orang yang beriman untuk menegakkan konsekwensi imannya dengan menjadi orang yang selalu menegakkan keadilan Allah dan menjadi saksi dengan adil. Hendaknya gerak gerikmu, lahir dan bathin, terus bersemangat dalam penegakkan keadilan dan hendaknya pelaksanaannya itu hanya karena Allah semata, bukan karena tujuan dunia. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Ketahuilah saudaraku, ketika keadilan tidak ada atau tak bisa ditegakkan dalam suatu negeri atau dalam suatu masyarakat maka negeri atau masyarakat itu hakikatnya SEDANG MENUNGGU KEHANCURAN ATAU KEBINASAANNYA. Satu hadits dari ‘Aisyah menyebutkan tentang hal ini : 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الْمَخْزُومِيَّةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقَالُوا وَمَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِئُ عَلَيْهِ إِلَّا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَلَّمَهُ أُسَامَةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَتَشْفَعُ فِي حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ ثُمَّ قَامَ فَاخْتَطَبَ ثُمَّ قَالَ إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمْ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَايْمُ اللَّهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا

Dari 'Aisyah radhiallahu 'anha bahwa orang-orang Quraisy sedang menghadapi persoalan yang menggelisahkan, yaitu tentang seorang wanita tokoh Bani Makhzumiyah yang mencuri lalu mereka berkata : Siapa yang mau merundingkan masalah ini kepada Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam ?.

Sebagian mereka berkata : Tidak ada yang berani menghadap beliau kecuali Usamah bin Zaid, orang kesayangan Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam. Usamah pun menyampaikan masalah tersebut lalu beliau Salallahu ‘alaihi  Wasallam bersabda : Apakah kamu meminta keringanan atas pelanggaran terhadap aturan Allah ?.

Kemudian beliau berdiri menyampaikan khuthbah lalu bersabda : Orang-orang sebelum kalian MENJADI BINASA karena apabila ada orang dari kalangan terhormat (pejabat, penguasa, elit masyarakat) mereka mencuri, mereka membiarkannya dan apabila ada orang dari kalangan rendah (masyarakat rendahan, rakyat biasa) mereka mencuri mereka menegakkan sanksi hukuman atasnya. Demi Allah, SEANDAINYA FATHIMAH BINTI MUHAMMAD MENCURI, PASTI AKU POTONG TANGANNYA. (H.R Imam Bukhari).

Dari hadits ini kita melihat sikap tegas Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam untuk menegakkan keadilan. Beliau tidak mau meringankan apalagi membatalkan hukuman atas wanita yang mencuri itu karena hukum Allah wajib untuk ditegakkan terhadap siapapun. Bahkan beliau berkata sekiranya anak beliau, Fathimah mencuri, pasti tidak akan diberi keringanan.

Oleh sebab itu orang orang beriman hendaklah berusaha menegakkan keadilan di masyarakat sebelum datang kebinasaan yang lebih parah. Tetaplah menegakkan keadilan dan mulailah dari diri dan keluarga dan serulah orang orang untuk berlaku adil. Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala mencintai orang orang berlaku adil, sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Sungguh, Allah mencintai orang orang yang BERLAKU ADIL. (Q.S al Hujuraat 9)

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.109).

 

 

 

 

 

Jumat, 23 Oktober 2020

TETAP MENYERUKAN KEBAIKAN MESKI BELUM MAMPU MELAKUKAN

 

TETAP MENYERUKAN KEBAIKAN MESKI BELUM MAMPU MELAKUKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta’ala membenci orang orang yang mengatakan sesuatu yang mereka tidak mengerjakannya.  Allah Ta’ala  berfirman :

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ   يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman !. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan. (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa apa yang tidak kamu kerjakan. (Q.S ash Shaff 2-3).

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa’di berkata : “Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat”. Maksudnya : (1)  Mengapa kalian mengatakan kebaikan dan mendorong untuk melakukannya, dan boleh jadi kalian memuji muji kebaikan itu namun tidak kalian lakukan ?. (2) Mengapa kalian melarang keburukan, boleh jadi kalian sucikan diri kalian dari keburukan tersebut namun kalian lakukan bahkan menjadi sifat kalian ?.

Lantas apakah kondisi tercela seperti pantas bagi orang orang yang beriman ?. Bukankah amat besar murka Allah Ta’ala pada orang yang mengatakan sesuatu namun tidak dilakukan ?. Karena itu, orang yang memerintahkan berbuat baik seharusnya orang pertama yang melakukannya. Dan orang yang melarang keburukan seharusnya menjadi orang yang paling jauh darinya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Syaikh Utsaimin mengingatkan : Adapun orang yang menyerukan sesuatu (kebaikan)  dan ia (si penyeru ini) MAMPU UNTUK MELAKUKAN tapi tidak mau melakukannya, berarti itu KEBODOHAN AKALNYA dan kesesatannya dalam beragama. (Dari Kitabud Da’wah).

Dalam hal ini Syaikh Utsaimin memberikan ISYARAT YAITU :  JIKA YANG MENYERU KEPADA KEBAIKAN ITU MAMPU MELAKUKANNYA. Dengan demikian berarti bahwa seseorang yang TIDAK MAMPU MELAKUKAN SUATU KEBAIKAN  maka dia tetap dianjurkan untuk menyeru manusia kepada kebaikan. Diantaranya contohnya adalah :

Pertama : Jika seorang bapak tak mampu shalat ke masjid karena sakit atau ada udzur syar’i yang lainnya maka ia masih tetap boleh bahkan berkewajiban menyuruh anak laki lakinya untuk ke masjid. Meskipun dia sendiri shalat di rumah.

Kedua : Ketika seorang berilmu  bertemu teman teman atau saudara saudaranya yang memiliki harta dan diperkirakan punya uang cukup untuk berhaji maka orang yang berilmu ini hendaklah menyeru atau mendakwahi orang orang berharta itu untuk bersegera melaksanakan ibadah haji meskipun dia sendiri belum berhaji karena belum punya kemampuan keuangan.

Tak bisa dikatakan kepada penyeru ini  bahwa : Engkau menyuruh orang menunaikan ibadah haji sedang engkau sendiri tak melakukannya.

Ketiga : Ketika seseorang mengetahui ada temannya yang mampu  menulis lalu tulisannya difile sendiri maka dia sarankan agar teman ini mengirim tulisannya di medsos sehingga bisa dibaca orang banyak dan bermanfaat. Padahal yang menyarankan ini tak punya ilmu dan kemampuan untuk menulis tapi dia boleh memberi saran kepada orang yang mampu.

Ketahuilah bahwa ada banyak  keutamaan dan manfaat ketika seseorang menyeru atau memberi saran yang baik.  Diantaranya  adalah dia akan mendapat pahala sebanyak pahala orang yang mengikuti nasehatnya. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda :

 مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِن الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

 

Barangsiapa mengajak kepada kebaikan  maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun.  Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.(H.R Imam Muslim)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :   مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

 

Barangsiapa menunjukkan (manusia) kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya. (H.R Imam Muslim).

Oleh sebab itu tetaplah menyeru kepada berbagai macam kebaikan meski ada yang belum mampu dilakukan oleh si penyeru.  Sungguh, dalam hidup ini, setiap orang memiliki kemampuan dan kesempatan yang berbeda dalam melakukan kebaikan. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (2.108)