Selasa, 30 Juli 2019

SHALAT BERJAMAAH DI MASJID MENDAPAT DOA DARI MALAIKAT


SHALAT BERJAMAAH DIMASJID MENDAPAT DOA 
DARI MALAIKAT

Oleh : Azwir B. Chaniago

Sangatlah banyak keterangan yang tegas dari syariat bahwa laki laki shalat fardhu di masjid. Diantaranya adalah seperti berikut ini :

Pertama : Para ulama mengambil dalil tentang wajibnya shalat berjamaah (di masjid) antara lain dengan ayat 43 surat al Baqarah. Allah berfirman : 

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang yang rukuk. 
Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini bahwa : Hendaklah kalian bersama orang orang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik. Dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Dan banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi diwajibkannya shalat berjamaah. (Tafsir Ibnu Katsir)

Syaikh Abdurrahman  bin Nashir as Sa’di dalam kitab Tafsirnya menjelaskan : Dan rukuklah bersama orang  yang rukuk, maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah dan kewajibannya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kedua : Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa hukumnya orang yang mendengar adzan tapi tidak pergi ke masjid untuk shalat fardhu berjamaah.
Beliau menjawab : Itu tidak boleh. Yang wajib baginya adalah memenuhi seruan tersebut, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.

مَنْ سَمِعَ النِّدَاءَ فَلَمْ يَأْتِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ إِلاَّمِنْ عُذْرٍ

Barangsiapa mendengar seruan adzan tapi tidak memenuhinya, maka tidak ada shalat baginya kecuali karena udzur. (H.R Hadits Riwayat Ibnu Majah, Ibnu Hibban,
al Hakim dan yang selainnya)  


Sungguh sangatlah banyak keutamaan yang akan diperoleh orang orang yang senantiasa shalat fardhu berjamaah di masjid. Satu diantaranya adalah MENDAPAT DOA DARI MALAIKAT yaitu sebagaimana hadits berikut ini :

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
صَلاَةُ الرَّجُلِ فِى الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلاَتِهِ فِى بَيْتِهِ وَفِى سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا ، وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لاَ يُخْرِجُهُ إِلاَّ الصَّلاَةُ ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلاَّ رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ ، وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ ، فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تُصَلِّى عَلَيْهِ مَا دَامَ فِى مُصَلاَّهُ (مَا لَمْ يُحْدِثْ)  تَقُوْلُ : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ ، اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ . وَلاَ يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِى صَلاَةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلاَةَ

Shalat seseorang dengan berjamaah dilipatgandakan daripada shalatnya di rumah dan di pasarnya dua puluh lima kali lipat. Dan hal itu apabila ia berwudhu lalu memperbagus wudhunya kemudian keluar ke masjid dengan tujuan hanya untuk shalat. Tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya. Lalu apabila ia shalat, para malaikat akan terus mendoakannya selama ia berada di tempat shalatnya, selama ia tidak berhadats. MALAIKAT AKAN MENDOKAN : YA ALLAH SEJAHTERAKANLAH DIA, RAHMATILAH DIA. Dan ia dianggap terus menerus shalat selama ia menunggu shalat. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ketika seseorang didoakan oleh gurunya ataupun orang shalih tentulah sangat bergembira dan senang. Nah, bagaimana kalau yang mendoakannya adalah malaikat yaitu makhluk yang sangat patuh dan tak pernah bermaksiat kepada Allah Ta’ala. Dan mendapatkan doa malaikat ternyata tidak terlalu sulit bagi orang orang yang SENANTIASA SHALAT BERJAMAAH DI MASJID yaitu sebagaimana makna hadits dari Abu Hurairah diatas.   

Oleh karena itu mari biasakan diri kita untuk shalat berjamaah di masjid yaitu untuk memenuhi perintah Allah melalui Rasul-Nya sehingga mendapat kebaikan yang berlimpah termasuk doa dari malaikat. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.704).  
 

Senin, 29 Juli 2019

BERBUAT BAIK TAPI DILEMPARKAN KE NERAKA KARENA RIYA


BERBUAT BAIK TAPI DILEMPARKAN KE NERAKA 
KARENA RIYA

Oleh : Azwir B. Chaniago

Orang orang beriman wajib menjaga keikhlasannya dalam beribadah. Ketika amal ibadah DILAKUKAN DENGAN RIYA, tidak ikhlas karena Allah semata maka pastilah rugi besar dan menjadi penyesalan yang berkepanjangan.

Lalu apa makna riya ?. Secara bahasa riya bermakna memperlihatkan kepada orang lain sesuatu yang berbeda dengan yang ada padanya.  Menurut istilah maka para ulama memberikan definisi yang berbeda beda, namun intinya sama yaitu : Seorang hamba melakukan  ibadah yang seharusnya untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapi dia tidak meniatkannya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala bahkan untuk tujuan duniawi.

Imam al Qurthubi berkata : Hakikat riya adalah mencari apa yang ada di dunia dengan ibadah, asalnya mencari kedudukan di hati manusia. (Tafsir al Qurthubi).

Al Hafizh Ibnu Hajar Ashqalani berkata : Riya adalah menampakkan ibadah karena niat dilihat manusia lalu mereka akan memuji pelaku ibadah tersebut. (Fathul Bari).
Allah Ta’ala berfirman dalam satu hadits qudsi :

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكََاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أََشْرَكَ فِيْهِ غَيْرَهُ تَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ

Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia menyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu Aku tinggalkan dia dan sekutunya. (H.R Imam Muslim).   

Ketahuilah bahwa ketika seseorang beramal karena riya maka bukan hanya PAHALA AMALNYA TAK DIPEROLEH tapi Allah Ta’ala melalui Rasul-Nya menjelaskan bahwa mereka akan dilemparkan ke dalam neraka yaitu sebagaimana disebutkan dalam  hadits berikut ini :

Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : Dari Abu Hurairah, dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama kali yang akan diputuskan (pengadilannya) pada hari Kiamat adalah seorang laki laki yang mati syahid. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya.

Allah bertanya : Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia menjawab : Aku berperang untuk-Mu sehingga aku mati syahid. Allah berkata : Engkau dusta. Tetapi engkau berperang agar dikatakan seorang pemberani dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut , kemudiaan dia diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.

Dan seorang laki laki yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya. Dia membaca al Qur an. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya.

Allah bertanya : Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia menjawab : Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan aku membaca al Qur an untuk-Mu. Allah berkata : Engkau dusta. Tetapi engkau mempelajari ilmu agar dikatakan seorang yang ‘alim, engkau membaca al Qur an agar dikatakan seorang qaari  dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut kemudian dia diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka.

Dan seorang laki laki yang Allah luaskan rizkinya dan Allah juga memberikan berbagai macam harta benda. Dia didatangkan, Allah menyebutkan nikmat nikmat-Nya kepadanya dan dia mengakuinya.

Allah bertanya : Apa yang telah engkau lakukan dengan nikmat nikmat-Ku itu ?. Dia menjawab : Aku tidak meninggalkan satu jalanpun yang Engkau menyukai infaq padanya kecuali aku berinfaq padanya untuk-Mu. Allah berkata : Engkau dusta. Tetapi engkau melakukannya agar dikatakan dermawan dan dahulu (di dunia) telah dikatakan. Lalu diperintahkan mengenai orang tersebut kemudian dia diseret di atas wajahnya sehingga dilemparkan ke dalam neraka. (H.R Imam Muslim).

Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman :
 
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Q.S. Al Mulk 2).

Imam Fudhail bin Iyadh mengatakan bahwa yang lebih baik amalnya  maksudnya adalah yang paling ikhlas dan yang paling benar amalnya. Selanjutnya kata beliau , yang paling ikhlas dan paling  benar yakni : Sesungguhnya amalan apabila ikhlas tapi tidak benar maka tidak diterima, demikian juga apabila benar tetapi tidak ikhlas maka tidak pula. Orang yang ikhlas ibadahnya adalah yang beramal semata-mata karena Allah sedangkan yang benar adalah orang yang mencontoh Rasulullah dalam beramal. (Madarijus Salikin)

Oleh sebab itu maka wajiblah bagi orang orang beriman untuk beribadah DENGAN BAIK yaitu dengan  memenuhi dua syarat sahnya suatu ibadah yaitu : (1) Ikhlas karena Allah, JAUH DARI SIKAP RIYA dan (2) Ittiba’ yaitu sesuai dengan cara beramal yang diajarkan Rasulullah. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.703)

Minggu, 28 Juli 2019

BANYAK MENGINGAT MATI ADALAH TANDA ORANG CERDAS


BANYAK MENGINGAT MATI ADALAH TANDA ORANG CERDAS

Oleh : Azwir B. Chaniago

Manusia yang berakal sehat  paham betul bahwa semua manusia akan mati termasuk dirinya. Cuma saja sebagian dari mereka memiliki kelakuan  seolah olah akan hidup selamanya. Perhatikanlah bahwa saat ini masih sangat banyak manusia tengelam dalam dosa dan maksiat. Ada pula yang tak menjaga iman dan amal shalihnya. 

Ketahuilah bahwa  Allah Ta’ala telah mengingatkan agar manusia berbekal, sebagaimana firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Hasyr 18).

Sungguh Rasulullah Salallahu’alaihi Wasallam telah mengingatkan kita agar memperbanyak mengingat pemutus kelezatan. Beliau bersabda :

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أكثروا ذكر هاذم اللذات: الموت، فإنه لم يذكره في ضيق من العيش إلا وسعه عليه، ولا ذكره في سعة إلا ضيقها 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : Perbanyaklah mengingat pemutuskan kelezatan, yaitu kematian, karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan kesempitan hidup, melainkan dia akan melapangkannya, dan tidaklah seseorang mengingatnya ketika dalam keadaan lapang, melainkan dia tidak akan tertipu dengan dunia.  (H.R Ibnu Hibban, dihasankan oleh Syaikh al Albani)  

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala tidak akan menangguhkan waktu kematian WALAUPUN SESAAT, yaitu sebagaimana firman-Nya : 

وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila. datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.S al Munafiqun 11).

Oleh karena itu jadilah orang beriman yang cerdas yaitu banyak mengingat kematian. Rasulullah Salallahu ‘alahi Wasallam bersabda :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma bercerita : Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya :  Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling baik ?.  Beliau menjawab : Yang paling baik akhlaknya.

Orang ini bertanya lagi :  Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas) ?. Beliau menjawab : Yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya (untuk hidup)  setelah kematian, merekalah yang berakal. (H.R Ibnu Majah).

Nah, kalau kita ambil PEMAHAMAN SEBALIKNYA dari hadits ini adalah bahwa  ORANG BODOH adalah yang tak mengingat mati dan TAK MEMPERSIAPKAN BEKAL. Pada hal ketika orang bodoh ini mau keluar rumah untuk setengah hari saja  dia selalu mempersiapkan berbagai hal seperti sarapan pagi dulu, bahan bakar yang cukup untuk kendaraan serta uang yang cukup untuk kebutuhan diperjalanan dan yang lainnya.    

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita orang yang cerdas, berakal yaitu senantiasa mengingat kematian dan  berbekal untuk hidup setelah mati. Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A’lam. (1.702)