MANUSIA DIWAFATKAN
SESUAI CARA MEREKA MENJALANI KEHIDUPAN
Disusun oleh : Azwir B. Chaniago
Sungguh, hamba hamba Allah AMAT SANGAT
INGIN DIWAFATKAN DALAM KEADAAN BAIK YAITU HUSNUL KHATIMAH. Tetapi ketahuiah
bahwa semuanya
tergantung pada kebiasaan masing-masing saat menjalani hidupnya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu
Katsir dan Imam as-Sa'adi serta ulama lainnya rahimahumullaah bahwa : "Sungguh siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan
tertentu, ia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut" (Ibnu
Katsir, Tafsiir al-Qur'aan al-'Azhiim, as-Sa'adi, Taisiir al-Kariim ar-Rahmaan
fii Tafsiir Kalam al Manaan)
Kita memang selalu dan amat sangat berharap
diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Namun demikian, ketahuilah bahwa pada
akhirnya, kita akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaan kita di saat hidup.
Apakah biasa taat kepada Allah Subhanahu
wa Ta'ala ataukah biasa berbuat dosa dan
bermaksiat kepada-Nya. Apakah dalam keadaan selalu ingat atau sering lalai kepada Allah Ta'ala.
Sungguh, konsep "diwafatkan sebagaimana keadaan
hidupnya" merujuk pada kaidah Islam bahwa kebiasaan seseorang semasa
hidup, baik ketaatan maupun maksiat, cenderung menjadi penutup ajalnya yaitu husnul khatimah atau suul khatimah.
Perkara ini didasarkan pada prinsip dasar atau kaidah : "Man 'Aasya Ala Syaiin Maata Alaihi" siapa
terbiasa hidup dalam sesuatu, akan wafat di atasnya.
Ketahuilah
bahwa ada banyak penghambat untuk mendapatkan husnul khatimah. Imam Ibnul
Qayyim berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul
khatimah akan didapat seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada
Allah Ta’ala. (2) Selalu mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang
melampaui batas.
Sungguh,
orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul
khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya.
Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk
dengan maksiat. (Ad Daa’ wad Dawaa’).
Oleh
karena itu, hamba hamba Allah mestilah memeriksa keadaan dirinya dalam
menjalani kehidupan ini sebelum al maut datang. Sungguh kita betul betul tidak tahu kapan kematian itu akan
mendatangi kita. Jadi bersegeralah, bergegaslah untuk memperbaiki kekurangan diri. Segeralah isi kehidupan ini dengan kebiasaan yang terpuji baik dalam hal aqidah,
ibadah, akhlak dan muamalah, sehingga meninggal dalam kondisi sedang melakukan perbuatan
perbuatan baik yang disyariatkan.
Selain itu sangat dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar mendapat husnul khatimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan doa berikut ini dan sangat baik untuk kita amalkan yaitu :
اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ.
Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu. (H.R ath Thabrani dalam al Mu’jam al Ausath).
Wallahu A'lam. (3.691).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar