Rabu, 08 April 2026

MANUSIA DIWAFATKAN SESUAI CARA MEREKA MENJALANI KEHIDUPAN

 

MANUSIA DIWAFATKAN SESUAI CARA MEREKA MENJALANI KEHIDUPAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, hamba hamba Allah AMAT SANGAT INGIN DIWAFATKAN DALAM KEADAAN BAIK YAITU HUSNUL KHATIMAH. Tetapi ketahuiah bahwa  semuanya tergantung pada kebiasaan masing-masing saat menjalani hidupnya.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ibnu Katsir dan Imam as-Sa'adi serta ulama lainnya rahimahumullaah bahwa : "Sungguh siapa saja yang hidup di atas suatu kebiasaan tertentu, ia pun akan diwafatkan di atas kebiasaan tersebut" (Ibnu Katsir, Tafsiir al-Qur'aan al-'Azhiim, as-Sa'adi, Taisiir al-Kariim ar-Rahmaan fii Tafsiir Kalam al Manaan)

Kita  memang selalu dan amat sangat berharap diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah. Namun demikian, ketahuilah bahwa pada akhirnya, kita akan diwafatkan sesuai dengan kebiasaan kita di saat hidup.

Apakah biasa taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala  ataukah biasa berbuat dosa dan bermaksiat kepada-Nya. Apakah dalam keadaan selalu ingat  atau sering lalai kepada Allah Ta'ala.

Sungguh, konsep "diwafatkan sebagaimana keadaan hidupnya" merujuk pada kaidah Islam bahwa kebiasaan seseorang semasa hidup, baik ketaatan maupun maksiat, cenderung menjadi penutup ajalnya yaitu husnul khatimah atau suul khatimah.

Perkara ini  didasarkan pada prinsip dasar atau kaidah :  "Man 'Aasya Ala Syaiin Maata Alaihi"   siapa  terbiasa hidup dalam sesuatu, akan wafat di atasnya. 

Ketahuilah bahwa ada banyak penghambat untuk mendapatkan husnul khatimah. Imam Ibnul Qayyim berkata : Bagaimana mungkin taufik untuk husnul khatimah akan didapat seseorang yang : (1) Hatinya lalai dari dzikir kepada Allah Ta’ala. (2) Selalu mengikuti hawa nafsunya. (3) Dan keadaannya yang melampaui batas.

Sungguh, orang yang hatinya lalai dari mengingat Allah Ta’ala sangat jauh dari husnul khatimah, tertawan oleh syahwatnya, lisannya kering dari dzikir kepada-Nya. Anggota tubuhnya tidak mentaati perintah Allah Ta’ala bahkan dia selalu sibuk dengan maksiat. (Ad Daa’ wad Dawaa’).

Oleh karena itu, hamba hamba Allah mestilah memeriksa keadaan dirinya dalam menjalani kehidupan ini sebelum al maut datang.  Sungguh kita  betul betul tidak tahu kapan kematian itu akan mendatangi   kita. Jadi bersegeralah,  bergegaslah untuk memperbaiki kekurangan  diri. Segeralah  isi kehidupan ini dengan  kebiasaan yang terpuji baik dalam hal aqidah, ibadah, akhlak dan muamalah, sehingga meninggal dalam kondisi sedang melakukan perbuatan perbuatan  baik yang disyariatkan.

Selain itu sangat dianjurkan untuk senantiasa berdoa agar mendapat husnul khatimah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam mengajarkan doa berikut ini dan sangat baik untuk kita amalkan yaitu :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ عُمْرِي آخِرَهُ، وَخَيْرَ عَمَلِي خَوَاتِيمَهُ، وَخَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ.

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu. (H.R ath Thabrani dalam al Mu’jam al Ausath).

Wallahu A'lam. (3.691). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar