ABDULLAH BIN ABBAS
AHLI TAFSIR TERBAIK.
Disusun oleh : Azwir B. Chaniag
Abbas Abdullah bin Abbas lebih dikenal dengan Ibnu Abbas adalah saudara sepupu Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam yaitu salah satu anak paman Nabi yaitu Abdul Muthalib. Di kalangan sahabat yang sangat terkenal dalam sejarah Islam.
Banyak
julukan yang disematkan kepada Ibnu Abbas seperti Turjuman al-Qur’an (penafsir
al-Quran), Habrul ummah (guru umat) dan Ra’isul mufassirin (pemuka para ahli
tafsir). Julukan paling menonjol pada dirinya dan selalu melekat sepanjang masa
adalah ahli takwil yaitu ahli tafsir al-Quran.
Keahliannya di bidang tafsir tentu erat kaitannya dengan doa Rasululah Salallahu 'alaihi Wasallam kepada Ibnu Abbas yaitu :
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي
الدِّينِ
Ya Allah, jadikanlah ia orang
yang memahami agama Islam (dengan baik). H.R
Imam Bukhari dan Imam Muslim).
اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الكِتَابَ
Ya Allah ajarkanlah kepadanya
ilmu Alquran. (H.R Imam Bukhari).
اللهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
Ya Allah, jadikanlah ia orang
yang memahami agama Islam (dengan baik) dan ajarkanlah kepadanya ilmu
Tafsir. (As Silsilah ash Shahihah, Syaikh al Albani).
Dr. Mustafa Said Khan berkata : Hampir semua kitab-kitab tafsir, baik yang ditulis oleh ulama terdahulu maupun ulama yang datang belakangan selalu mengutip pandangan dan pendapat Ibnu Abbas dalam kitab tafsir mereka. Bahkan, ada kitab khusus berisi pandangan-pandangan tafsirnya, yaitu Tanwirul Miqbas yang ditulis oleh al-Fairuz abadi (w. 817 H).
Bahkan para sahabat Nabi umumnya, setelah Nabi wafat, sering kali bertanya kepada Ibnu Abbas tentang ayat al-Quran, karena mereka mengakui dia adalah sosok yang paling memahami maksud dari ayat tersebut. Lebih daripada itu, mereka mengakui keluasan ilmu, kecerdasan akal, dan kebijaksanaannya, sehingga dia selalu menjadi tempat bertanya tentang masalah-masalah agama.
Tidaklah mengherankan, jika banyak para sahabat yang menimba ilmu darinya. Dan jawaban-jawaban yang diberikan, selalu merujuk dari al Qur’an, jika ia mendapatinya. Apabila tidak ditemukan didalam kitabullah beliau menjawab sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.
Jika tidak mendapati Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka beliau pun mengutarakannya. Dan jika tidak ditemukan dalam dua rujukan ini, beliau merujuk pada perkatan sahabat Abu Bakar ataupun Umar, jika semua itu tidak ditemukan maka beliau berijtihad. (Kitab tentang Ibnu Abbas
Wallahu A'lam. (3.661).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar