Kamis, 04 Juni 2026

 

SUKA CURHAT MUDAH TERGELINCIR KEPADA PERBUATAN GHIBAH

Sungguh ghibah adalah termasuk perbuatan yang diharamkan dalam syariat Islam. Apa itu ghibah ?. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah menjelaskan makna ghibah adalah sebagaimana sabda beliau : 

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu ?. Sahabat menjawab : Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : YAITU ENGKAU MENYEBUTKAN SESUATU YANG TIDAK DISUKAI OLEH SAUDARAMU.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya : Bagaimanakah pendapat engkau, jika itu memang benar ada padanya ?, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya. (H.R Imam Muslim, at Tirmidzi dan Abu Dawud)

Imam Nawawi  menyebutkan bahwa ghibah, menceritakan kekurangan atau kejelekan orang lain termasuk perbuatan yang diharamkan. (Syarah Shahih Muslim).

Dalam kenyataan banyak orang yang mudah tergelincir kepada perbuatan ghibah diantara contohnya adalah ketika seseorang curhat atau menceritakan perbuatan tetangga yang tidak disenanginya kepada orang lain. Terkadang memakai kedok minta nasehat, lalu berkata : Bagaimana pendapatmu tentang tetangga saya yang membuat saluran pembuangan air kotor dari kamar mandinya ke arah pekarangan saya. Kalau dibilangin bisa jadi  ribut bahkan pertengkaran panjang karena ada sifat buruk tetangga itu.

Bahwa ketika seseorang curhat yaitu menceritakan keburukan tetangganya kepada orang lain ini sudah termasuk perbuatan ghibah yang diharamkan. Dan yang mendengarkan curhat ini juga bisa jatuh pula kepada perbuatan ghibah.      

Oleh karena itu ketika seseorang curhat maka sebaiknya di cut saja pembicaraannya dengan bijak sehingga kita tidak terkena dampak buruk atau ikut jatuh kepada perbuatan ghibah.

Wallahu A'lam. (1.378)  Disusun oleh : Azwir B. Chaniago – 04.06 2026  

 

 

 

 

 

 

 

 

Selasa, 02 Juni 2026

TERUS MENERUS BELAJAR ILMU AGAR SEMAKIN SEMANGAT BERIBADAH

 

TERUS MENERUS BELAJAR ILMU AGAR SEMAKIN SEMANGAT BERIBADAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa sebagian saudara saudara kita di zaman ini ada yang terkadang  lemah semangat dalam beribadah bahkan ada yang sering lemah semangatnya dalam ibadah. Padahal Allah Ta'ala telah mengingatkan untuk menyembah Allah atau beribadah kepada-Nya sampai datangnya kematian. Allah Ta'ala berfirman :  


وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

 Dan sembahlah Rabbmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu. (Q.S al Hijr 99).

Syaikh as Sa’di berkata : Al yaqin yaitu sampai ajal tiba. Maksudnya, kontinyulah, engkau (Muhammad)  mendekatkan diri kepada Allah dengan segala macam ibadah disetiap waktu. Maka beliau mentaati perintah Rabb-nya dan senantiasa   beribadah sampai datang al yaqin  dari Rabbnya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Ketahuilah bahwa sungguh, kewajiban PALING UTAMA hamba hamba Allah   adalah beribadah, menyembah dan mengabdi kepada-Nya. Bahkan itulah tujuan  Allah menciptakan kita. Allah Ta'ala berfirman :

Pertama : Dalam surat al Baqarah ayat 20. Allah Ta'ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعْبُدُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُمْ وَٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai manusia !. Sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dan orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Kedua : Dalam surat adz Dzariyat ayat 56. Allah Ta'ala berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku

Ketahuilah diantara cara yang penting untuk bisa terus menerus bersemangat beribadah maka hamba hamba Allah MESTILAH BERSEMANGAT  BELAJAR ILMU SYARIAT. Ingatlah bahwa hamba hamba yang paling takut kepada Allah adalah orang orang berilmu sebagaimana firman-Nya :


إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Diantara hamba hamba Allah yang takut kepada-Nya HANYALAH PARA ULAMA. Sungguh Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Q.S Fathir 28).

Syaikh as Sa'di berkata bahwa seorang ulama (orang berilmu) yang makin banyak ilmunya tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala maka rasa takutnya kepada Allah Ta'ala pun semakin besar. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Oleh karena itu hamba hamba Allah mestilah terus menerus belajar ilmu agar semakin mengenal Allah dan kekuasaan-Nya yang Mahaagung sehingga timbul rasa takut mengabaikan perintahnya dan rasa takut melanggar larangannya.

Dan juga ketika seseorang memiliki ilmu maka akan selalu bersemangat dalam beribadah kepada Allah Ta'ala karena yakin akan mendapat balasan yang lebih baik dan berlipat ganda pula.

Wallahu A'lam. (3.723).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 31 Mei 2026

SEDIKIT ILMU SEDIKIT PULA RASA TAKUT KEPADA ALLAH

 

SEDIKIT ILMU SEDIKIT PULA RASA TAKUT KEPADA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala adalah Dzat yang wajib ditakuti oleh hamba hamba-Nya. Takut melalaikan perintah-Nya dan takut melanggar perintah-Nya. Nah, ketika seorang hamba memiliki ilmu sedikit maka salah satu konsekwensi atau akibatnya adalah sedikit pula rasa takutnya kepada Allah Ta'ala.

Perhatikanlah firman Allah Ta'ala yang menjelaskan tentang orang orang yang takut kepada Allah Ta'ala :


إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Diantara hamba hamba Allah yang takut kepada-Nya HANYALAH PARA ULAMA. Sungguh Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun. (Q.S Fathir 28).

Pada catatan kaki terjemahan resmi al Qur an oleh  Departemen Agama, disebutkan : (Para ulama) adalah orang orang yang mengetahui ILMU (TENTANG) KEBESARAN DAN KEKUASAAN ALLAH.

Syaikh as Sa'di berkata bahwa seorang ulama (orang berilmu) yang makin banyak ilmunya tentang Allah Subhanahu wa Ta'ala maka rasa takutnya kepada Allah Ta'ala pun semakin besar.

Dengan rasa takut kepada Allah Ta'ala mendorong dirinya untuk beramal saleh dan menjauhi dari perbuatan dosa atau maksiat serta senantiasa mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Dzat yang ditakutinya, yaitu Allah Azza wa Jalla. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Jadi, semakin berilmu seorang hamba maka semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasalam bersabda :

فَوَاللَّهِ إِنِّي أَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً.

Sesungguhnya aku yang PALING MENGENAL ALLAH dan aku adalah yang paling takut kepada Allah. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).  

Oleh karena itu hamba hamba Alllah tetaplah belajar terutama ilmu syar'i sehingga mendatangkan rasa takut yang sebenar benarnya takut untuk melalaikan kewajiban kepada Allah Ta'ala dan mendatangkan pula rasa tajut untuk melanggar larangan-Nya.

Ibnul Qayyim al Jauziyyah berkata : Dengan makin bertambah pengetahuan seorang hamba mengenai Allah Azza wa Jalla, maka makin bertambah pula rasa takut dan pengagungan hamba itu kepada-Nya. Pengetahuan mengenai Allah, yakni makrifatullah, adalah ilmu paling mulia yang meliputi nama-Nya, sifat-Nya, dan perbuatan-Nya.

Maka orang yang memperoleh ilmu akan takut kepada Allah Ta'ala yang akan mengantarkan kepada ketaatan dan ketundukan kepada-Nya. (Raudhatul Muhibbin).

Wallahu A'lam. (3.722)

 

 

SHALAT DHUHA SEBAGAI PENGHAPUS DOSA SEBANYAK BUIH DI LAUTAN

 

SHALAT DHUHA SEBAGAI PENGHAPUS DOSA SEBANYAK BUIH DI LAUTAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, setiap kebaikan atau amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba dengan ikhlas pasti akan dibalas dengan lebih banyak kebaikan. Allah Ta'ala berfirman :

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّـَٔاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ ٱلَّذِى كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Dan orang-orang yang beriman dan beramal shalih, pasti akan Kami hapus kesalahan kesalahannya dan mereka pasti akan  Kami beri balasan yang LEBIH BAIK dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S al Ankabut 7).

Oleh karena itu maka semestinya hamba hamba Allah bersemangat untuk melakukan amal shalih terutama yang wajib dan juga yang sunnah. Dan juga melakukan amal shalih yang besar maupun yang kecil. Semuanya pasti akan mendatangkan kebaikan di dunia dan terutama di akhirat kelak.

Ketahuilah bahwa salah satu ibadah yang tidak wajib adalah shalat dhuha yang dibalas Allah Ta'ala dengan banyak kebaikan. Perintah shalat dhuha diantaranya disebutkan dalam hadits dari  Abdurrahman bin Shakhr ad Dausi al Yamani lebih dikenal dengan nama Abu Hurairah :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

Dari Abu Hurairah, dia  berkata : Telah berwasiat kepadaku, kekasihku (Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam) untuk melakukan tiga hal yang TAK AKAN AKU TINGGALKAN  hingga meninggal dunia, yaitu : Puasa tiga hari setiap bulan, shalat dhuha dan tidur dalam keadaan telah melakukan shalat witir.  (H.R Imam Bukhari)

Sungguh, ibadah shalat dhuha ini senantiasa diamalkan oleh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dan diikuti oleh para sahabat serta  orang orang shalih pada umumnya. Diantara keutamaannya adalah sebagai penghapus dosa meskipun itu sangat banyak seperti buih dilautan. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

من حافظ على شفعة الضحى غفرت له ذنوبه وإن كانت مثل زبد البحر

Siapa yang membiasakan (menjaga) shalat dhuha, dosanya akan diampuni meskipun SEBANYAK BUIH DI LAUTAN. (H.R at Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah berusaha mengamalkan shalat dhuha ini paling tidak  dua rakaat. Dan kita terus menerus memohon kepada Allah Ta'ala agar dosa dosa kita diampuni.

Selain itu, ketahuilah bahwa SETELAH SHALAT DHUHA, dianjurkan pula memohon ampun 100 kali yaitu  sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat Dhuha, beliau mengucapkan :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

مائة مرة  حتى  قالها

Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.  

Sampai beliau membacanya seratus kali. (H.R Imam Bukhari dalam al Adab al Mufrad, Syaikh al Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih)

Wallahu A'lam. (3.721)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 28 Mei 2026

HADIR DI MAJLIS ILMU SATU JALAN UNTUK MENGHAPUS DOSA

 

HADIR DI MAJLIS ILMU SATU JALAN UNTUK MENGHAPUS DOSA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, manusia diciptakan dalam keadaan lemah yaitu sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Ta'ala :


وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (Q.S an Nisa’ 28.)

Syaikh as Sa’di berkata : Jadi sungguh manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah. Manusia itu adalah lemah dalam hal fisik, lemah dalam berkehendak, lemah dalam bertekad dan lemah dalam iman dan kesabaran (Lihat Tafsir Kariimir Rahman).

Dengan keadaannya yang lemah termasuk lemah iman dan kesabaran maka mudah terjatuh kepada keburukan dan dosa. Apalagi manusia itu memiliki hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan.

Dan juga ada syaithan yang selalu berusaha untuk mengelincirkan kepada maksiat dan dosa. Tetapi ketahuilah bahwa sungguh Allah Ta'ala Maha Pengampun dan memberi banyak jalan agar dosa kita diampuni. Diantaranya adalah ketika HADIR DI MAJLIS ILMU.

Dari Abu Hurairah,  dari Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda : "Sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi mempunyai beberapa malaikat yang terus berkeliling mencari majelis dzikir. Apabila mereka telah menemukan majelis dzikir tersebut, maka mereka terus duduk di situ dengan menyelimutkan sayap sesama mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit yang paling bawah. Apabila majelis dzikir itu telah usai, maka mereka juga berpisah dan naik ke langit.

Kemudian Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  meneruskan sabdanya : "Selanjutnya mereka ditanya Allah Subhanahu wa Ta'ala, Dzat Yang sebenarnya Maha Tahu tentang mereka :Kalian datang dari mana ?" Mereka menjawab : "Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang selalu bertasbih, bertakbir, bertahmid, dan memohon kepada-Mu ya Allah.

Lalu Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya : Apa yang mereka minta .?  Para malaikat menjawab : Mereka memohon surga-Mu ya Allah.  Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya lagi : "Apakah mereka pernah melihat surga-Ku? " Para malaikat menjawab : Belum. Mereka belum pernah melihatnya ya Allah." Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata : Bagaimana seandainya mereka pernah melihat surga-Ku.

Para malaikat berkata : Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu ya Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala balik bertanya, "Dari apa mereka meminta perlindungan kepada-Ku ?. Para malaikat menjawab : Mereka meminta perlindungan kepada-Mu dari neraka-Mu ya Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala bertanya : Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku . Para malaikat menjawab : Belum. Mereka belum pernah melihat neraka-Mu ya Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berkata : “Bagaimana seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku."

Para malaikat berkata : Ya Allah, sepertinya mereka juga memohon ampun  kepada-Mu. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala  menjawab : "Ketahuilah wahai para malaikat-Ku, sesungguhnya AKU TELAH MENGAMPUNI MEREKA, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari neraka".

Para malaikat berkata : Ya Allah, di dalam majelis mereka itu ada seorang hamba yang berdosa dan kebetulan hanya lewat lalu duduk bersama mereka. Maka Allah menjawab, "Ketahuilah  sesungguhnya AKU AKAN MENGAMPUNI ORANG TERSEBUT. Sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang menyebabkan orang yang duduk bersamanya terhindar dari celaka”.  (H.R Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.720) 

 

 

Selasa, 26 Mei 2026

JEJAK LANGKAH KAKI SEORANG HAMBA BERJALAN KE MASJID TIDAK SIA SIA

 

JEJAK LANGKAH KAKI SEORANG HAMBA BERJALAN KE MASJID TIDAK SIA SIA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hamba hamba Allah  yang hatinya terkait dengan masjid pasti akan selalu melakukan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, termasuk berjalan ke masjid setiap waktu shalat fardhu tiba. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

 

Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. (H.R Imam Bukhari)

Dan ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dan para sahabat senantiasa berjalan ke masjid untuk melaksanakan shalat fardhu.

Selain itu,  ketahuilah bahwa bekas telapak kaki seseorang yang berjalan ke masjid untuk beribadah tak akan sia-sia. Imam As-Suyuthi dalam kitab Asbabun Nuzul menceritakan tentang hadits yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dengan sanad hasan, dan Al-Hakim dengan sanad yang sahih, yakni dari Abu Sa’id Al-Khudri. 

إن بني سلمة شكوا إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم بعد منازلهم من المسجد ، فنزلت : ( ونكتب ما قدموا وآثارهم ) ، فأقاموا في مكانهم  

Dia berkata : Bahwa Bani Salamah yang bertempat tinggal di pinggiran Kota Madinah ingin berpindah ke dekat Masjid Nabawi. Peristiwa ini kemudian menjadi sebab turunnya surat Yasin ayat 12, Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan BEKAS BEKAS yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (lauh mahfuzh).

Sejak saat itu, mereka tidak jadi pindah dekat Masjid Nabawi. Kemudian, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga bersabda dalam hadits riwayat Abu Hurairah :

  كلُّ خطوةٍ يخطوها أحدُكم إلى الصلاةِ يُكْتَبُ لَهُ [ بها ] حسنةٌ ويُمْحَى عنه بِها سَيِّئَةٌ  

Setiap langkah menuju tempat shalat (masjid) akan dicatat sebagai kebaikan dan akan menghapus keburukan. (H.R  Imam Ahmad).

Dan juga keutamaan orang yang berjalan kaki menuju masjid juga disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan dari Usman bin Affan, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :    

مَنْ تَوَضَّأَ لِلصَّلَاةِ فَأَسْبَغَ الْوُضُوءَ ثُمَّ مَشَى إِلَى الصَّلَاةِ الْمَكْتُوبَةِ فَصَلَّاهَا مَعَ النَّاسِ أَوْ مَعَ الْجَمَاعَةِ أَوْ فِي الْمَسْجِدِ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ذُنُوبَه

Barangsiapa yang berwudhu’ untuk shalat, kemudian MENYEMPURNAKAN WUDHU’NYA  kemudian berjalan menuju shalat wajib, shalat bersama manusia atau bersama jamaah atau di masjid, Allah ampuni dosanya.  (H.R Imam Muslim).

Dan juga ada hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :

 كُلُّ خُطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ 

Setiap langah berjalan untuk menunaikan sholat (di masjid) adalah sedekah.

Oleh karena itu hamba hamba Allah tetap bersemangat untuk shalat di masjid sebagaimana diajarkan Rasulullah Salallahu 'alai Wasallam dan diamalkan oleh para sahabat dan orang orang shalih.

Wallahu A'lam. (3.719)

Senin, 25 Mei 2026

APA SEBAB KEHIDUPAN SESEORANG TERASA SEMPIT

 

APA SEBAB KEHIDUPAN SESEORANG  TERASA SEMPIT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kehidupan yang sempit tidak diukur dari sedikit atau banyaknya harta. Seseorang bisa saja memiliki banyak harta, namun hatinya tetap terasa hampa, gelisah, gundah gulana dan terkadang didatangi  rasa takut. Diantara penyebabnya adalah sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat (dibangkitkan) dalam keadaan buta. (Q.S Thaha 124).

Diantara ulama Tafsir menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari mengingat Allah termasuk  yang enggan beribadah kepada-Nya maka kehidupannya akan senantiasa dirundung kesedihan dan duka (Adhawaul Bayan).

Ketahuilah bahwa sangatlah banyak jalan untuk keluar dari kehidupan yang sempit dan dirundung kesedihan diantaranya adalah :

Petama : Perbanyak memohon ampun.

Bahwa diantara keutamaan beristighfar,  adalah dilapangkan untuk setiap kesempitan. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, KELAPANGAN UNTUK SETIAP KESEMPITANNYA dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.  (H.R Imam Ahmad dari Ibnu Abbas).

Kedua : Bersegera melakukan amal shalih yang dilandasi iman. Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal saleh, laki laki atau perempuan sedangkan dia beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan. (Q.S an Nahal 97).

Ketiga : Bertawakal atau berserah diri kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam firman-Nya : 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (Q.S ath Thalaq 3).

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah” maknanya adalah (bertawakal) dalam urusan agama dan dunianya dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dengan maksud untuk mendapatkan apa apa yang bermanfaat dan menghindari apa apa yang mudharat serta percaya sepenuhnya bahwa mereka akan diberi kemudahan.

Selanjutnya Syaikh berkata : “Niscaya  Allah akan mencukupkan (keperluan) nya” . Maksudnya adalah bahwa Allah akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah. Dan ketika suatu urusan berada dalam tanggungan Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa lagi Mahapenyayang, maka Dia paling dekat dengan hambaNya melebihi segala sesuatu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Wallahu A'lam. (3.718).