Sabtu, 23 Mei 2026

UJIAN BERUPA MUSIBAH AKAN SENANTIASA MENDATANGI ORANG BERIMAN

 

UJIAN BERUPA MUSIBAH AKAN SENANTIASA MENDATANGI ORANG BERIMAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, ujian berupa musibah untuk orang orang beriman adalah satu keniscayaan yang mendatanginya sesuai kehendak Allah Ta'ala. Sungguh apapun yang terjadi dan meimpa diri seseorang, keluarganya ataupun hartanya   adalah kehendak Allah Ta’ala yaitu sebagaimana firman-Nya :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad). Tidak akan menimpa kami melainkan APA YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH BAGI KAMI. (Q.S at Taubah 51)

Ujian berupa musibah itu antara lain adalah untuk diketahui  kokohnya iman seseorang.  Allah Ta’ala berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, KAMI TELAH BERIMAN DAN MEREKA TIDAK DIUJI ?. Dan sungguh Kami telah menguji orang orang sebelum mereka maka Allah pasti mengetahui orang orang yang benar dan pasti mengetahui orang orang yang berdusta. (Q.S al Ankabut 2-3).

Semakin kokoh iman seseorang semakin berat ujian berupa musibah yang akan ditanggungnya. Sungguh, para Nabi dan Rasul adalah orang orang pilihan Allah dan juga orang shalih juga diberi ujian berupa musibah yang berat.

Lhatlah bagaimana Nabi Ya'qub diuji dengan kehilangan putra yang disayanginya, Nabi Ayub diuji dengan sakit berahun tahun, Aisyah diuji dengan tidak dikaruniai anak, Fatimah putri Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam diuji dengan hidup miskin harta.

Ketahuilah bahwa ketika Allah Ta’ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka diberi ujian berupa musibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من يرد الله به خيرا يصب منه

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah. (H.R Imam Bukhari).

Ketahuilah bahwa sikap yang harus dkedepankan ketika didatangi ujian berupa musibah adalah BERSABAR, Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. 

Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin)

Wallahu A'lam. (3.717).

Jumat, 22 Mei 2026

SANGAT DIANJURKAN MEMPERHATIKAN DAN MENJAWAB ADZAN

 

SANGAT DIANJURKAN MEMPERHATIKAN DAN MENJAWAB ADZAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, adzan adalah termasuk salah satu syi'ar yang agung dalam Islam.  Selalu dikumandangkan disetiap masjid ketika waktu shalat fardhu sudah masuk. Ketahuilah  bahwa orang yang mendengar adzan SANGAT DIANJURKAN untuk memperhatikan dan menjawab bacaan adzan. 

Cara menjawab adzan adalah sebagaimana disebutkan  satu hadits dari Umar bin Khaththab  bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 Apabila muadzin mengucapkan ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR lalu seorang di antara kamu mengucapkan (juga) ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR. Kemudian muadzin mengucapkan ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH ia mengucapkan juga ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH.

Kemudian muadzin mengucapkan ASYHHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH  ia  mengucapkan (juga)   ASYHHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.

Kemudian muadzin mengucapkan HAYYA ‘ALASH SHALAAH maka ia mengucapkan LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). Kemudian muadzin mengucapkan HAYYA ‘ALAL FALAAH ia mengucapkan  LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.

Kemudian muadzin mengucapkan ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR ia mengucapkan juga ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR. Kemudian muadzin mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH ia mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dari lubuk hatinya maka pasti ia masuk surga. (H.R Imam Muslim dan Abu Dawud).

Setelah itu sangat dianjurkan pula bershalawatlah kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Lalu membaca doa setelah adzan yaitu :  “Barangsiapa yang MEMBACA KETIKA MENDENGAR ADZAN, “Allahumma Rabba hadzihid da’watit taammah wash shalaatil qaaimah aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuudah alladzii wa’attah” 

Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna  dan shalat  yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada Muhammad, dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan. Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat” (H.R Imam Bukhari).

Salah satu pemahaman yang bisa diambil dari hadits ini adalah bahwa MUADZIN TIDAK DIANJURKAN MEMBACA DOA SESUDAH ADZAN karena disebutkan dalam hadits bahwa membaca doa  sesudah adzan adalah BAGI YANG MEMDENGAR ADZAN. Tetapi ada sebagian muadzin di negeri kita ikut membaca doa setelah adzan bahkan dengan suara keras.

Wallahu A'lam. (3.716).

 

Kamis, 21 Mei 2026

MEMBACA AYAT KURSI DAN AL MUAWWIDZAT SETELAH SHALAT FARDU

 

MEMBACA AYAT KURSI DAN AL MUAWWIDZAT SETELAH SHALAT FARDU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengajarkan kita umat beliau untuk membaca dzikir shalat fardhu yaitu selesai shalat fardhu yaitu setelah salam. Dalam satu sabda beliau disebutkan :


كَانَ رَسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاثَاً ، وَقَالَ :  اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الجَلاَلِ وَالإكْرَامِ قِيلَ لِلأوْزَاعِيِّ – وَهُوَ أحَدُ رواة الحديث – : كَيْفَ الاسْتِغْفَارُ ؟ قَالَ : يقول : أسْتَغْفِرُ الله ، أسْتَغْفِرُ الله 
.

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya (shalat fardhu, pen.), beliau BERISTIGHFAR TIGA KALI dan mengucapkan : “ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM” (Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Rabb Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

Ada yang bertanya pada al Auza’i, yaitu salah satu perawi hadits ini : Bagaimana cara beristighfar ?. Al Auza’i menjawab : Caranya membaca ASTAGHFIRULLAH … ASTAGHFIRULLAH (Aku memohon ampun kepada Allah. Aku memohon ampun kepada Allah).  H.R Imam Muslim. 

Setelah membaca dzikir sesudah shalat fardhu dianjurkan membaca ayat kursi, sebagaimana sabda beliau : 


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلاَ الْمَوْتُ». رَوَاهُ الْنَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

 

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tiada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut (kematian). H.R an Nasa'i dan disahihkan oleh Ibnu Hibban)

Selanjutnya  ditutup dengan  membaca surat al Mu'awwadzat yaitu tiga surah terakhir dari al Qur an.  Dalilnya adalah berasal dari sahabat 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku untuk membaca al Mu'awwidzat di setiap akhir shalat (sesudah salam). H.R an Nasa'i  dan Abu Daud.

Setelah itu,  ada sebagian saudara saudara kita yang membaca surat al Fatihah setelah membaca dzikir shalat fardhu. Ketahuilah bahwa dalam hal ini Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam tidak melakukannya.

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzhahullah mengatakan : Adapun membacanya (surat al Fatihah) setelah shalat fardhu, maka saya tidak mengetahui dalilnya dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang terdapat dalilnya adalah ayat kursi, qul huwallahu ahad, dan qul a’udzu birabbil falaq, dan qul a’udzu birabbinnas. Telah datang hadist-hadist yang menunjukkan disyariatkannya membaca surat-surat tersebut setelah shalat lima waktu. Adapun membaca surat Al-Fatihah maka saya tidak mengetahui dalil yang menunjukkan disyariatkan perkara tersebut setelah shalat. (Al Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan).

Wallahu A'lam. (3.715)

HAMBA ALLAH TIDAK PERNAH LALAI MENGINGAT BAHWA DIRINYA AKAN MATI

 

HAMBA ALLAH TIDAK PERNAH LALAI MENGINGAT BAHWA DIRINYA AKAN MATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu kenyatan yang sangat kita yakini bahwa pada waktunya KITA PASTI MATI.  Dan juga Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dengan tegas dalam beberapa  firman-Nya :

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ

Di mana saja kalian berada, kematian PASTI akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Dan juga  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda agar hamba hamba Allah banyak mengingat mati :

أكْثِروا ذِكْرَ هاذمِ اللَّذَّاتِ يعني المَوتَ

Perbanyaklah kamu untuk mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi, an Nasa'i  dan Ibnu Majah).

Ketika seorang hamba senantiasa mengingat mati maka banyak kebaikan dan keutamaan akan mendatangi dirinya, diantaranya ADALAH TIDAK TERTIPU OLEH DUNIA. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalam telah mengingatkan hal ini dalam sabda beliau :

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka IA TIDAK TERTIPU DENGAN DUNIA. (H.R Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dihasan oleh Syaikh Al Albani).

Abu Darda' berkata : Sesungguhnya seseorang yang banyak untuk mengingat kematian, maka akan sedikit sifat hasadnya, dan akan sedikit pula perbuatan zhalimnya. (Kitab az Zuhd, Imam Ahmad bin Hambal).

Imam Ibnul Jauzi berkata : Apabila seseorang memikirkan tentang dekatnya kematian serta apa yang akan terjadi setelah kematian itu niscaya pastilah akan MEMBENCI SEGALA KENIKMATAN YANG HANYA BERSIFAT SEMENTARA. (Shaidul Kaathir).

Selain itu ketahuilah bahwa bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam memberi predikat sebagai ORANG CERDAS ketika banyak mengingat mati. Dari Ibnu Umar, beliau bersabda :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia bercerita : Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya :  Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling baik ?. Beliau menjawab : Yang paling baik akhlaknya.

Orang ini bertanya lagi :  Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas) ?. Beliau menjawab : Yang paling banyak MENGINGAT KEMATIAN dan paling baik persiapannya (untuk hidup)  setelah kematian, merekalah yang berakal. (H.R Ibnu Majah).

Oleh karena itu hamba hamba Allah jangan pernah lalai sedikitpun tentang mati dan persiapkan bekal yaitu IMAN DAN AMAL SHALIH YANG DISYARIATKAN.

Wallahu A'lam. (3.714).

 

Rabu, 20 Mei 2026

ORANG BERIMAN TIDAK BERBICARA KECUALI ADA MANFAAT

 

ORANG BERIMAN TIDAK BERBICARA KECUALI ADA MANFAAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada manusia adalah NIKMAT BISA BERBICARA sebagaimana firman-Nya : 

خَلَقَ الْإِنْسَانَ . عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Dia (Allah yang)  menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (Q.S ar Rahman 3-4)

Bahwa hakikat setiap nikmat, besar atau kecil  adalah wajib  diterima dengan rasa syukur diantaranya adalah dengan menggunakan nikmat itu sebagai sarana untuk mengabdikan diri dan beribadah  kepada Allah serta mencari ridha-Nya

Oleh karena itu hamba hamba Allah lebih dianjurkan untuk diam dalam beberapa perkara yang tidak mendatangkan manfaat, diantaranya :

Pertama : Kalau tidak bisa berbicara yang baik sangat dianjurkan untuk diam saja. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Dari hadits ini, pertama sekali ada faedah yang bisa diambil, diantaranya bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah adab berbicara tetapi terkait dengan iman.

Tentang hadits ini,  Imam an Nawawi berkata : Apabila salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut  benar benar baik dan berpahala, baik  dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan dia mengatakannya.

Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan itu  tampak samar baginya  antara haram, makruh dan mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya. (Syarah Shahih Muslim).

Kedua : Kalau belum tahu fakta tentang sesuatu sangat dianjurkan untuk diam saja. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan :


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S Surat al Isra’ 36).

Ketiga : Kalau terpicu marah sangat dianjurkan untuk diam saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam, sebagai mana sabda beliau :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.

Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad dan juga ahli hadits yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Al

Ini juga merupakan cara  yang bisa diamalkan  jika terpicu marah, karena jika orang sedang marah maka bisa keluarlah darinya ucapan-ucapan yang kasar, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampaknya sangat buruk.

Wallahu A'lam. (3.713).

Senin, 18 Mei 2026

JANGAN MENGANGGAP DIRIMU TIDAK BERGUNA

 

JANGAN MENGANGGAP DIRIMU TIDAK BERGUNA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sebagian saudara saudara kita di zaman ini ada yang  menganggap dirinya tidak berguna karena merasa memiliki banyak kekurangan. Kurang ilmu, kurang harta kurang pandai bergaul dan yang lainnya.

Sungguh, hamba hamba Allah jangan memelihara sikap ini karena betapapun banyak  kekurangan yang kita miliki dalam hidup ini, kalau kita mau, masih ada peluang menjadi orang berguna terutama untuk diri, keluarga dan orang lain bahkan masyarakat pada umumnya sesuai kemampuan.

Ingatlah bahwa  memang manusia diciptakan dalam keadaan lemah, sebagaimana firman-Nya :

وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (Q.S an Nisa’ 28).

Meskipun diciptakan dalam keadaan lemah tetapi Allah Ta'ala telah memberi banyak karunia, diantaranya disebutkan dalam firman-Nya :

وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً

Dan Kami telah memberikan kepada mereka PEDENGARAN, PENGLIHATAN DAN HATI. (Q.S al Ahqaf 26).

Untuk itu yang perlu dipelihara adalah aqidah yang benar, ibadah yang baik, akhlak yang mulia dan bermuamalah dengan terpuji. Dengan demikian akan menghasilkan sikap terpuji dan percaya diri.

Ketahuilah bahwa sungguh, Allah Ta'ala mengingatkan bahwa semua ciptaan Allah TIDAK ADA YANG SIA SIA.  Semua diciptakan Allah dengan hak, kebenaran  dan  bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman :

خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ ۚ

 Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. (Q.S al Ankabut 44)

Syaikh as Sa'di berkata : Maksudnya Dia-lah Allah Yang Esa, Yang menciptakan langit dengan keluhuran,  ketinggian, keluasan, dan keindahannya, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti matahari, bulan, bintang-bintang dan para malaikat, dan bumi beserta segala apa yang ada padanya seperti gunung-gunung, lautan, daratan, gurun, pohon-pohon dan lain-lain.

Semua itu Dia ciptakan dengan benar. Maksudnya, Dia tidak menciptakannya dengan sia-sia atau tidak berguna, atau tidak bermanfaat. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Dan juga Allah Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya :

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S Ali Imran 191).

Ketahuilah bahwa ada orang cerdas dan bijak memberi nasehat : Jangan anggap dirimu tidak berguna. Sungguh, tidak mungkin Allah Ta'ala menciptakan kamu menjadi makhluk yang sia sia. Ingatlah, DEBU YANG HALUS PUN  masih bermanfaat untuk tayamum.

Wallahu A'lam. (3.712). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

Minggu, 17 Mei 2026

HAMBA ALLAH MENGINGINKAN KEMULIAAN DAN DERAJAT TINGGI

 

HAMBA ALLAH MENGINGINKAN KEMULIAAN DAN DERAJAT TINGGI

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Ketahuilah bahwa diantara perkara yang sangat diinginkan oleh hamba hamba Allah adalah KEMULIAAN DAN DERAJAT YANG TINGGI. Kemuliaan  dan derajat tinggi yang diinginkan tentu   bukanlah kemuliaan dan derajat tinggi   dimata manusia karena ini hanya sementara di dunia dan akan sirna, tanpa bekas.

Sungguh, kemulian dan derajat tinggi yang SANGAT DIINGINKAN oleh hamba hamba Allah adalah dalam pandangan Allah Ta'ala  yaitu dapat di dunia dan juga berlanjut di akhirat.

Ketahuilah bahwa sungguh, ada banyak jalan bagi hamba hamba Allah   yang tersedia untuk mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah, diantaranya adalah :

Pertama : Agar mendapat kemuliaan. Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam firman-Nya :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang YANG PALING BERTAKWA. Sungguh Allah Maha Mengetahui Mahateliti. (Q.S al Hujurat 13).

Syaikh as Sa'di berkata : Ukuran kemuliaan di antara mereka adalah takwa. Orang yang paling mulia di antara sesama mereka adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Paling banyak melakukan ketaatan serta paling mampu mencegah diri dari kemaksiatan, bukan yang paling banyak kerabat serta kaumnya, bukan yang keturunannya paling terpandang (karena level sosial).

Dan mengenai semua itu Allah “Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Allah mengetahui siapa di antara mereka yang bertakwa kepada Allah baik secara lahir maupun bathin, serta siapa di antara mereka yang tidak menunaikannya, baik secara lahir maupun bathin. Masing-masing akan diberi balasan yang sesuai. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kedua : Agar mendapat derajat yang tinggi.  Allah Ta’ala akan meninggikan derajat orang berilmu. Allah Ta’ala  berfirman :

 …يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..

 …Niscaya Allah akan MENINGGIKAN orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S al Mujadilah 11).

Dalam Kitab Tafsir al Muyassar disebutkan : Allah meninggikan derajat ahli ilmu dengan derajat-derajat yang banyak dalam pahala dan derajat meraih keridhaan.

Allah Mahateliti terhadap amal-amal kalian, tidak ada sesuatu yang samar bagi-Nya, dan Dia akan membalas kalian atasnya. Ayat ini menyanjung kedudukan orang berilmu dan keutamaan mereka, serta ketinggian derajat mereka. (Kementrian Agama Saudi Arabia).

Wallahu A'lam. (3.711).