Minggu, 17 Mei 2026

HAMBA ALLAH MENGINGINKAN KEMULIAAN DAN DERAJAT TINGGI

 

HAMBA ALLAH MENGINGINKAN KEMULIAAN DAN DERAJAT TINGGI

Disusun oleh : Azwir B.Chaniago

Ketahuilah bahwa diantara perkara yang sangat diinginkan oleh hamba hamba Allah adalah KEMULIAAN DAN DERAJAT YANG TINGGI. Kemuliaan  dan derajat tinggi yang diinginkan tentu   bukanlah kemuliaan dan derajat tinggi   dimata manusia karena ini hanya sementara di dunia dan akan sirna, tanpa bekas.

Sungguh, kemulian dan derajat tinggi yang SANGAT DIINGINKAN oleh hamba hamba Allah adalah dalam pandangan Allah Ta'ala  yaitu dapat di dunia dan juga berlanjut di akhirat.

Ketahuilah bahwa sungguh, ada banyak jalan bagi hamba hamba Allah   yang tersedia untuk mendapatkan kemuliaan dan derajat yang tinggi di sisi Allah, diantaranya adalah :

Pertama : Agar mendapat kemuliaan. Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam firman-Nya :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang YANG PALING BERTAKWA. Sungguh Allah Maha Mengetahui Mahateliti. (Q.S al Hujurat 13).

Syaikh as Sa'di berkata : Ukuran kemuliaan di antara mereka adalah takwa. Orang yang paling mulia di antara sesama mereka adalah yang paling bertakwa kepada Allah. Paling banyak melakukan ketaatan serta paling mampu mencegah diri dari kemaksiatan, bukan yang paling banyak kerabat serta kaumnya, bukan yang keturunannya paling terpandang (karena level sosial).

Dan mengenai semua itu Allah “Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” Allah mengetahui siapa di antara mereka yang bertakwa kepada Allah baik secara lahir maupun bathin, serta siapa di antara mereka yang tidak menunaikannya, baik secara lahir maupun bathin. Masing-masing akan diberi balasan yang sesuai. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Kedua : Agar mendapat derajat yang tinggi.  Allah Ta’ala akan meninggikan derajat orang berilmu. Allah Ta’ala  berfirman :

 …يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..

 …Niscaya Allah akan MENINGGIKAN orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (Q.S al Mujadilah 11).

Dalam Kitab Tafsir al Muyassar disebutkan : Allah meninggikan derajat ahli ilmu dengan derajat-derajat yang banyak dalam pahala dan derajat meraih keridhaan.

Allah Mahateliti terhadap amal-amal kalian, tidak ada sesuatu yang samar bagi-Nya, dan Dia akan membalas kalian atasnya. Ayat ini menyanjung kedudukan orang berilmu dan keutamaan mereka, serta ketinggian derajat mereka. (Kementrian Agama Saudi Arabia).

Wallahu A'lam. (3.711).

 

BERTAKWA MENDATANGKAN KEMULIAAN DI SISI ALLAH

 

BERTAKWA MENDATANGKAN KEMULIAAN DI SISI ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa kemuliaan yang hakiki dan harus dicari  hamba Allah adalah MULIA DI SISI ALLAH. Sungguh Allah Ta'ala KETAKWAAN SEORANG HAMBA MENDATANGKAN KEMULIAN  DI SISI ALLAH TA'ALA. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sungguh, yang paling mulia diantara kamu DI SISI ALLAH  ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui, Mahateliti. (Q.S al Hujurat 13).

Diantara MAKNA TAKWA, antara lain dijelaskan oleh Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbad, beliau berkata : Makna takwa dalam syariat adalah seseorang melindungi dirinya dari murka Allah. Yaitu dengan : (1) Menjalankan perintah dan menjauhi larangan. (2) Membenarkan semua berita dari Allah. (3) Beribadah kepada Allah sesuai dengan yang disyariatkan-Nya, bukan dengan cara yang mengada ada dan muhdats. (Syarah Hadits Arba’in an Nawawiyah).

Sungguh, dalam kehidupan di dunia ini orang beriman mempunyai puncak cita cita atau cita cita tertinggi untuk menjadi orang bertakwa. Kenapa ?. Iya karena itulah jalan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak. 

Oleh karena itu semestinyalah hamba hamba Allah berjuang mendapatkan takwa karena ketahuilah bahwa Allah Ta'ala menyediakan SURGA HANYA UNTUK ORANG ORANG BERTAKWA TIDAK UNTUK SELAINNYA. Allah Ta'ala berfirman :

Pertama : Dalam surat Ali Imran 133. Allah Ta’ala berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabb-mu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang orang yang bertakwa.

Kedua : Dalam surat Ali Imran 198. Allah Ta'ala berfirman :

لَٰكِنِ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّٰتٌ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا نُزُلًا مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ خَيْرٌ لِّلْأَبْرَارِ

Tetapi orang orang yang bertakwa kepada Rabb-nya mereka akan mendapat surga surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Mereka kekal di dalamnya sebagai karunia dari Allah. Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang orang yang berbakti.

Ketiga : Dalam surat an Nahl 128. Allah Ta'ala berfirman  :

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوا۟ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ

Sungguh, Allah bersama orang orang yang bertakwa dan orang orang yang berbuat kebaikan. (Q.S an Nahal 128).

Tentang ayat ini, dalam kitab tafsir al Muyassar disebutkan : Sesungguhnya Allah dengan taufik, pertolongan, dan pembelaan-Nya , bersama orang-orang yang takut kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi apa-apa yang Dia larang, dan juga bersama orang-orang yang berbuat baik dalam menunaikan apa-apa yang Dia fardhukan dan melaksanakan hak hak-NYa, dan senantiasa taat kepada-Nya.

Wallahu A'lam. (3.710) 

 

 

 

Jumat, 15 Mei 2026

ORANG BERIMAN TIDAK SUKA MENCARI CARI AIB ORANG LAIN

 

ORANG BERIMAN TIDAK SUKA MENCARI CARI AIB ORANG LAIN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, setiap orang memiliki aib atau kekurangannya masing masing. Oleh karena itu orang orang beriman tidak suka mencari cari aib orang lain karena mereka yakin bahwa dirinya juga memiliki kekurangan yang banyak.

Dengan demikian, orang orang beriman lebih fokus kepada kekurangan dirinya sendiri. Ketahuilah letika seseorang sibuk melihat dan mencari cari kekurangan orang lain maka akan lupa akan kekurangan dirinya. Barangkali merasa tidak memiliki aib ata kekurangan.  

Ketahuilah bahwa ada banyak ulama yang memberi nasehat bermanfaat tentang anjuran melihat kekurangan diri, diantaranya :

Pertama : Imam Malik bin Anas.

Dari al Hafizh as Sakhawi dia berkata : Kami mendapatkan riwayat dari Imam Dar al Hijrah Malik bin Anas, beliau berkata : Aku menjumpai di negeri ini yaitu Madinah, sejumlah orang yang tidak memiliki kekurangan NAMUN MEREKA SUKA MENCELA KEKURANGAN ORANG LAIN. Jadilah mereka setelah itu memiliki banyak kekurangan.

Sebaliknya, aku jumpai sejumlah orang yang banyak kekurangan NAMUN MEREKA TIDAK MAU MEMBICARAKAN KEKURANGAN ORANG LAIN. Hasilnya, kekurangan kekurangan yang mereka miliki itu dilupakan oleh banyak orang. (Adh Dhau’ al Laami’).

Kedua : Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah.

 Beliau mengingatkan bahwa  : Barang siapa mengenal (keadaan) dirinya maka dia akan sibuk memperbaiki dirinya dari pada mencari aib orang lain. Barang siapa yang mengenal Rabbnya maka dia akan sibuk dengan-Nya dari pada mengikuti hawa nafsunya.

Manusia yang paling rugi adalah orang yang jauh dari Allah tersebab sibuk dengan dirinya. Namun yang lebih merugi lagi adalah orang yang jauh dari (mengurusi) dirinya tersebab sibuk mengurusi aib orang lain. 

Ketiga : Imam Ibnul Jauzi.

Beliau berkata : Barangsiapa yang mencari cari aib atau keburukan orang lain, menyelidiki aib mereka dan menyibukkan diri diri dari aib orang lain lalu mengabaikankan aibnya sendiri maka Allah Ta'ala akan mendatangkan seseorang yang akan mencari aib atau keburukannya. Lalu disebarkan dan (orang itu) akan menyelidiki kekurangannya, mengulitinya dan menyebarkannya. (Bahrud Dumu').

Oleh karena itu hamba hamba Allah yang kokoh imannya akan senantiasa melihat aib atau kekurangan dirinya sehingga dijauhkan dari melihat kekurangan orang lain. 

Wallahu A'lam. (3.709). 

 

 

Kamis, 14 Mei 2026

BERUSAHALAH MEMPERMUDAH URUSAN ORANG LAIN

 

BERUSAHALAH MEMPERMUDAH URUSAN ORANG LAIN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Berusaha mempermudah urusan orang lain adalah satu sikap tolong menolong terhadap sesama. Sungguh  Allah Ta'ala memerintahkan orang orang beriman untuk SALING TOLONG MENOLONG DALAM KEBAIKAN yaitu sebagaimana firman-Nya :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (Q.S al Maidah 2).

Imam Ibnu Katsir berkata : Maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala memerintahkan hamba hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa tolong menolong DALAM BERBUAT KEBAIKAN. Itulah yang disebut dengan al birru atau kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa”, maksudnya hendaknya sebagian dari kamu membantu sebagian yang lain dalam kebaikan. Dan kebaikan adalah nama yang mengumpulkan segala perbuatan, baik lahir ataupun bathin, baik hak Allah maupun hak manusia, YANG DICINTAI DAN DIRIDHAI OLEH ALLAH.

Dan takwa di sini adalah nama yang  mengumpulkan sikap meninggalkan segala perbuatan (buruk)  lahir dan bathin YANG DIBENCI OLEH ALLAH DAN RASUL-NYA.

“Dan janganlah kamu saling tolong menolong dalam perbuatan dosa”, yaitu saling mendorong melakukan kemaksiatan dimana pelakunya memikul beban dosa yang berat. “Dan pelanggaran”, yaitu pelanggaran terhadap manusia pada darah, harta dan kehormatan mereka. Seorang hamba wajib menghentikan diri dari segala kemaksiatan dan kezhaliman dan juga menolong orang lain untuk meninggalkannya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa mempermudah urusan orang adalah bagian penting dari tolong menolong dan merupakan  salah sikap terpuji dalam syariat Islam. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

Barangsiapa yang melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan baginya (urusan) di dunia dan akhirat. (H.R Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa sungguh, mempermudah urusan orang lain adalah amalan yang sangat dianjurkan. Sikap ini termasuk bentuk kasih sayang, tolong-menolong, dan akhlak mulia yang dicintai Allah.

Bahwa kebaikan sekecil apa pun bisa menjadi jalan datangnya pertolongan Allah Ta'ala. Sungguh, ada banyak jalan untuk mempermudah urusan orang lain  bisa dengan harta, dengan tenaga, dengan ilmu termasuk pula memberi perhatian dan ucapan yang menyenangkan dan yang lainnya. Namun demikian ingatlah bahwa semuanya mestilah dilakukan dengan ikhlas mencari ridha Allah.

Wallahu A'lam. (3.708). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 13 Mei 2026

SANGAT PENTING MEMPERBAIKI CARA HIDUP DI SISA UMUR

 

SANGAT PENTING MEMPERBAIKI CARA HIDUP DI SISA UMUR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ada diantara kita yang  menjalani masa lalunya dengan cara yang kurang terpuji. Lalai belajar ilmu syariat, lalai beribadah, lalai membantu orang lain baik dengan harta maupun dengan fisik ataupun nasehat.

Dengan kasih sayang-Nya, Allah Ta'ala masih memberi umur kepada kita sampai saat ini dan atas izinnya untuk beberapa waktu ke depan yang bisa kita sebut sebagai SISA UMUR. Ketahuilah bahwa SUNGGUH SANGAT TIDAK PANTAS kalau sisa umur ini disia siakan.

Bukankah kematian akan mendatangi kita sewaktu waktu. Ketahuilah bahwa ketika ajal seseorang telah sampai maka tak ada yang bisa memajukan atau memundurkan barang sesaat. Allah Ta'ala berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Dan setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun. (Q.S al A'raf 34)

Oleh karena itu, orang orang beriman SEMESTINYA DAN SUNGGUH SUNGGUH memanfaatkan sisa umur ini dengan sebaik mungkin untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari ridha-Nya.

Saudaraku, mari kita simak apa yang disebutkan  Imam Ibnul Rajab al Hambali yang menceritakan bahwa pada suatu kali Imam Fudhail bin Iyadh seorang Tabi'in, pernah bertanya kepada seorang laki laki :  Berapa usiamu ?. Orang itu menjawab : 60 tahun.

Lalu Imam Fudhail berkata : Berarti selama 60 tahun engkau telah berjalan menuju Rabb-mu dan saat ini engkau hampir sampai kepada-Nya.

Maka laki laki itu berkata : Inna lillahi wa inna ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). Kemudian Imam Fudhail bertanya kepadanya : Tahukah engkau tafsir dari apa yang engkau ucapkan itu ?. Laki laki itu berkata : Tafsirkanlah ucapan itu untukku, wahai Abu Ali. Fudhail bin Iyadh menjelaskan : 

Pertama : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia adalah hamba Allah dan akan kembali kepada-Nya  maka hendaklah ia mengetahui bahwa kelak ia akan disuruh berdiri dihadapan Rabb-nya. 

Kedua : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan disuruh berdiri dihadapan  Rabb-nya maka harus dia mengetahui bahwa dia pasti akan ditanya.

Ketiga : Barangsiapa yang mengetahui bahwa ia akan ditanya maka hendaklah ia mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan itu.

Selanjutnya laki laki itu berkata : Lalu bagaimana jalan keluarnya ?. Jalan keluarnya mudah kata Fudhail bin Iyadh. Orang itu bertanya lagi : Apakah itu wahai Abu Ali ?

Imam Fudhail bin Iyadh menjawab : Hendaklah engkau BERBUAT KEBAIKAN DI SISA UMURMU.  Niscaya Allah akan mengampuni (dosa) apa yang telah lalu atas dirimu. Sesungguhnya jika engkau tetap berbuat keburukan pada sisa umurmu niscaya engkau akan dihisab atas semua perbuatan (buruk) mu yang telah lalu dan yang akan datang (Jami’ul Ulum wal Hikam)

Imam Ibnu Katsir memberi nasehat, beliau berkata : Termasuk GHANIMAH TERBAIK adalah engkau memperbaiki sisa sisa umurmu. Niscaya Allah Ta'ala akan mengampunimu akan mengampunimu dari apa yang telah berlalu dari umurmu itu. (Al Bidayah wa Nihayah).    

Wallahu A'lam. (3.707) 

ORANG ORANG BERIMAN HANYA MENGADU KEPADA ALLAH

 

ORANG ORANG BERIMAN HANYA MENGADU KEPADA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, ketika menjalani kehidupan di dunia, orang orang beriman akan menemukan keadaan sulit dan mudah, keadaan susah dan senang. Memang demikian adanya, orang beriman selalu akan diuji dengan berbagai  keadaan.

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan bahwa orang orang beriman itu akan selalu diuji. Yaitu sebagaimana sabda beliau :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاء

Perumpamaan seorang beriman tak ubahnya seperti tanaman, angin akan selalu menerpanya, ia akan selalu mendapat cobaan (H.R Imam Muslim).

Semestinya, ketika orang beriman didatangi ujian yang terasa berat, tidak menyenangkan hatinya merasa hati gundah, tidak nyaman   maka jangan sekali kali mengadu kepada manusia apalagi MENGELUHKAN kesulitan atau kesusahaan yang menimpa diri.

Ketahuilah bahwa manusia itu lemah sehingga bisa jadi mendatangkan kekecewaan. Bahkan bisa jadi juga dianggap memberi beban kepada orang lain. Dan juga ketika sering mengadukan keaaan diri kepada manusia mereka bisa bosan bahkan bisa oula salah paham.

Selain itu mengadukan keadaan diri kepada orang bisa bermakna tidak ridha atas apa yang telah ditetapkan Allah Ta;ala. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :


قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad). Tidak akan menimpa kami melainkan APA YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH BAGI KAMI. (Q.S at Taubah 51)

Syaikh as Sa'di berkata : Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, yakni yang dituju dalam seluruh kebutuhan. Kepada-Nya mereka meminta apa yang mereka perlukan.

Dan keadaan-Nya mereka bergantung pada apa yang mereka inginkan, karena Dia Maha Sempurna dalam sifat-sifat-Nya, Maha Mengetahui Yang sempurna ilmu-Nya, Maha Penyantun yang sempurna Santun-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sungguh, wajib diketahui dan dipahami pula bahwa tempat mengadukan keadaan diri HANYALAH ALLAH TA'ALA Yang Mahakuasa dan Mahabijaksana. Dalam hal ini kita perlu belajar dari kisah  Nabi Ya'qub bahwa Allah Ta'ala adalah sebaik-baik tempat mengadu :

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ya'qub berkata : Sesungguhnya HANYALAH KEPADA ALLAH aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya. (Q.S Yusuf 86).

Wallahu A'lam. (3.706). 

 

 

 

Minggu, 10 Mei 2026

RASULULLAH MENGENAL UMAT BELIAU DARI BEKAS TANDA WUDHU

 

RASULULLAH MENGENAL UMAT BELIAU DARI BEKAS TANDA WUDHU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa di akhirat kelak Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam akan dianugerahi oleh Allah Ta'ala satu telaga yang disebut telaga al Kautsar dan semua umat beliau boleh meminum airnya.  

Tentang telaga al Kautsar antara lain dijelaskan dalam  hadits dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhu :

يا رسول الله ما آنِيَةُ الحَوْضِ؟ قال: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ نُجُومِ السَّمَاءِ وَكَوَاكِبِهَا فِي لَيْلَةٍ مُظْلِمَةٍ مُصْحِيَةٍ مِنْ آنِيَةِ الجَنَّةِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا شَرْبَةً لَمْ يَظْمَأْ، آخِرَ مَا عَلَيْهِ عَرْضُهُ مِثْلُ طُولِهِ مَا بَيْنَ عُمَانَ إِلَى أَيْلَةَ مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ العَسَلِ

Aku pernah bertanya : Ya Rasulullah, apakah ada gelas-gelas di dalam telaga surga ?. Beliau menjawab : Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh gelas-gelasnya sebanyak bilangan bintang-bintang di langit pada malam yang gelap gulita. Itulah gelas-gelas di surga.

Barangsiapa yang minum air telaga tersebut, ia tidak akan merasa haus selamanya. Lebarnya sama dengan panjangnya, yaitu seukuran antara Oman dan Ailah. Airnya lebih putih dari pada susu dan rasanya lebih manis dari pada manisnya madu. (H.R at Tirmidzi  dan Imam Ahmad).

Diantara manusia yang begitu banyak Padang Mahsyar, Nabi shalallahu alaihi wasallam akan mengenal umat beliau yaitu ketika datang ke telaga al Kautsar dengan tanda tanda khusus sebagaimana disebutkan dalam satu hadits :

وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا. قَالُوا : أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : أَنْتُمْ أَصْحَابِي ، وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ . فَقَالُوا 
كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ فَقَالَ : أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ؟ قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ

Saya berharap bahwa kami sudah bisa melihat saudara-saudara kami”. Mereka (para sahabat) berkata : Bukankah kami adalah saudara-saudaramu, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudara kami adalah mereka yang belum datang (lahir) saat ini.

Mereka (sahabat) berkata : Bagaimana engkau mengetahui orang yang belum ada saat ini dari umatmu, wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Tidakkah engkau melihat, jika seseorang memiliki kuda bertanda putih pada muka dan kaki-kakinya berada diantara kuda-kuda hitam pekat, tidakkah ia bisa mengenal kudanya ?, Mereka menjawab : Ya, wahai Rasulullah.

Beliau bersabda : Mereka akan datang dengan wajah putih bersinar dan kaki tangan bercahaya PADA BAGIAN AIR WUDHU, dan saya menunggu mereka di Telaga. (H.R Imam Muslim).

Oleh karena itu, orang orang beriman selalu berwudhu dengan sempurna yaitu sebagai syarat untuk melaksanakan shalat. Dan juga sebagai salah satu tanda atau identitas umat Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam di akhirat kelak.

Wallahu A'lam. (3.705).