Rabu, 28 Januari 2026

ADA SEBAGIAN MANUSIA YANG TIDAK BAIK KELAKUANNYA

 

ADA SEBAGIAN  MANUSIA YANG TIDAK BAIK KELAKUANNYA

 Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta’ala telah menjelaskan kepada kita bagaimana keadaan  kebanyakan manusia dalam menjalani hidup di dunia ini, diantaranya adalah yang tercela atau tidak baik  kelakuan atau sifatnya :

Pertama : Kebanyakan manusia fasik. Allah Ta’ala berfirman : 

وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ لَفَٰسِقُونَ

Dan sungguh kebanyakan manusia adalah orang yang fasik. (Q.S al Maidah 49).

Allah Ta’ala befirman :  

وَلَٰكِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُمْ فَٰسِقُونَ

Tetapi banyak di antara mereka orang orang yang fasik. (Q.S al Maidah 81)

Kedua : Kebanyakan manusia menyesatkan dan melampaui batas. Allah Ta’ala berfirman :  

وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِينَ

Dan sungguh, banyak yang menyesatkan orang dengan keinginannya tanpa dasar ilmu. Rabb-mu lebih mengetahui orang yang melampaui batas. (Q.S al An’am 119). 

Ketiga : Kebanyakan manusia mengingkari pertemuan dengan Rabb-nya. Allah Ta’ala berfirman :  

وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ ٱلنَّاسِ بِلِقَآئِ رَبِّهِمْ لَكَٰفِرُونَ

Dan sesungguhnya banyak  di antara manusia benar benar mengingkari perteman dengan Rabb-nya. (Q.S ar Ruum 8)

Keempat : Kebanyakan manusia tak bersyukur. Allah Ta’ala berfirman :  

إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur. (Q.S al Baqarah 243).

Allah Ta’ala berfirman :  

وَلَقَدْ مَكَّنَّٰكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَٰيِشَ ۗ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ

Dan sungguh, Kami telah menempatkan kamu di bumi dan di sana Kami sediakan (sumber) penghidupan untukmu. (Tetapi) sedikir sekali kamu bersyukur.  (Q.S al A’raf 10).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :  

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur.   (Q.S al Mu’minun 78). 

Az Zamakhsyari menyebutkan  dalam kitab tafsirnya tentang Umar bin Khaththab yang mendengar doa seseorang.  Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, ia mendengar seseorang memanjatkan doa : Ya Allah jadikanlah aku bagian dari orang-orang yang sedikit.

Umar terheran heran dan berkata, “Doa apa ini ?” Orang tersebut menjawab : "Aku pernah mendengar firman Allah (yang artinya) : Sedikit di antara hamba hamba-Ku yang mau bersyukur. Aku pun berdoa pada Allah agar aku termasuk yang sedikit.” Umar pun berkata : Ternyata setiap orang lebih tahu dari Umar.

Oleh sebab itu hamba hamba Allah hendaklah melakukan muhasabah atau evaluasi diri. Jika terdapat kelakuan buruk atau sikap tercela  pada dirinya maka segera memohon ampun dan bertaubat dan bersegera pula berhenti dari perbuatan tercela dan  kelakuan buruk itu.

Wallahu A'lam. (3.656).

Sabtu, 24 Januari 2026

BANYAK BERINFAK DAN BERSEDEKAH MENUTUP ADZAB

 

BANYAK BERINFAK DAN BERSEDEKAH MENUTUP ADZAB

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Allah Ta'ala mengingatkan hamba hamba-Nya untuk senantiasa berinfak dan bersedekah baik  dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit. Allah Ta'ala berfirman :


الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

(Orang yang bertakwa yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik DI WAKTU LAPANG MAUPUN SEMPIT, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. 

Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah ? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (Q.S Ali Imran 134-135).

Syaikh as Sa'di berkata : Yaitu, pada saat kondisi mereka sedang sulit atau kondisi mereka sedang lapang. Bila mereka sedang lapang mereka akan berinfak dengan lebih banyak dan bila mereka sedang kesulitan mereka tidak menganggap remeh kebaikan walaupun sedikit saja. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Manfaat yang diperoleh oleh pemberi sedekah ternyata  melebihi manfaat yang didapat oleh sipenerima sedekah . Salah satu diantaranya adalah akan menghapus dosa dan kesalahan. Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ وَالْحَسَدُ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Sedekah itu akan memadamkan dosa sebagaimana air dapat memadamkan api. Hasad akan memakan kebaikan sebagaimana api melahap kayu bakar. (H.R al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Selain itu, Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menjelaskan bahwa sedekah bisa memadamkan kemarahan Allah Ta’ala :

صدقة السر تطفىء غضب الرب

Sedekah dengan rahasia bisa memadamkan murka Allah (Shahih at Targhib).

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

فَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Jagalah diri kalian dari neraka meskipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma. Barangsiapa yang tak mendapatkannya, maka ucapkanlah perkataan yang baik. (H.R Imam  Bukhari dan Imam Muslim).

Ingatlah nasehat Imam Ibnul Qayyim  al Jauziyah, beliau berkata : Sungguh bersedekah itu : (1) Mencegah kematian yang buruk. (2) Mencegah bala’ sampai penggemar maksiat pun terjaga dari bala’ karena rajin bersedekah. (3) Menghapus dosa. (4) Menjaga harta. (5) Mendatangkan rizki. (6) Membuat gembira hati dan (7) Menyebabkan hati yakin dan baik sangka kepada Allah. (Uddah ash Shabirin).

Wallahu A'lam. (3.655)

 

BERGEMBIRA DENGAN BANYAK ISTIGHFAR DI CATATAN AMAL

 

BERGEMBIRA DENGAN BANYAK ISTIGHFAR DI CATATAN AMAL

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, manusia diciptakan dalam keadaan lemah yaitu sebagaimana dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (Q.S an Nisa’ 28.)

Syaikh as Sa'di berkata : Jadi sungguh manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah. Syaikh as Sa’di berkata : Manusia itu adalah lemah dalam hal fisik, lemah dalam berkehendak, lemah dalam bertekad dan lemah dalam iman dan kesabaran (Lihat Tafsir Kariimir Rahman).

Dengan keadaannya yang lemah termasuk lemah iman dan kesabaran maka mudah terjatuh kepada keburukan dan dosa. Apalagi manusia itu memiliki hawa nafsu yang cenderung kepada keburukan dan juga syaithan yang selalu berusaha untuk mengelincirkan kepada maksiat dan dosa.

Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi hamba hamba Allah untuk banyak banyak  memohon ampun. Sungguh ketika banyak memohon ampun maka akan mendatangkan kegembiraan kebahagian   kelak ketika menerima catatan amal di akhirat kelak. Rasulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam bersabda :  

مَن أحَبَّ أنْ تسُرَّه صحيفتُه فلْيُكثِرْ فيها مِن الاستغفارِ

 

Barangsiapa yang ingin berbahagia ketika melihat lembaran catatan amalnya, maka perbanyaklah ISTIGHFAR. (H.R ath Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

 

Ketahuilah ada banyak kalimat istighfar atau memohon ampun yang diajarkan Rasulullah Salallahu'alaihi Wasallam, diantaranya adalah :

 

Pertama : Dari riwayat ath Thabrani.

 

أَسْتَغْفِرُ اللهَ 

Aku memohon ampun kepada Allah.

 

Kedua : Dari riwayat Imam Bukhari.

 

أستغفر الله وأتوب اءليه

 

Aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya.

 

Ketiga : Dari riwayat Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad.


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

 Keempat : Dari riwayat  Imam Bukhari dan Muslim, dikenal dengan sebutan sayyid al istighfar.

 

 أللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

 

Ya Allah engkaulah Rabbku, tidak ada yang patut disembah kecuali Engkau. Engkaulah yang telah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu dan di atas ikatan janji-Mu yang aku jalankan semampuku, aku berlindung kepada-Mu dari segala perbuatan buruk yang telah kuperbuat.

 

Aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni segala dosa kecuali Engkau.

 

Wallahu A'lam. (3.654)


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 21 Januari 2026

ADA BEBERAPA JALAN UNTUK BISA BERSABAR

 

ADA BEBERAPA JALAN UNTUK BISA BERSABAR

 Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah sebenarnya ada cara yang dapat dilakukan agar bisa bersabar bahkan meningkatkan kesabaran seorang hamba, diantara adalah :

Pertama : Harus menyadari bahwa jika suatu musibah mendatangi seseorang maka apakah dia sabar menerima atau tidak, musibah itu sudah datang kepadanya dan itu adalah ketetapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman : 

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad) : Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakal-lah orang orang yang beriman. (Q.S at Taubah 51).

Selanjutnya, ketahuilah bahwa ketika ketetapan Allah berupa musibah datang  maka paling tidak ada dua keadaan dalam bersabar, yaitu :

(1) Jika seseorang bersabar maka akan mendapat pahala yang tidak terbatas.  Sulaiman bin Qashim berkata : Setiap amalan dapat diketahui ganjarannya kecuali kesabaran yang ganjarannya seperti air mengalir. Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta’ala : 

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. 

Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin)

(2) Jika tidak bersabar maka berarti tidak suka pada apa yang telah  Allah takdirkan  atau dengan kata lain dia menolak takdir. Ujung-ujungnya adalah dosa. Sebab manusia harus menerima apapun yang telah Allah takdirkan baginya. Allah Ta’ala  berfirman :  

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S al Hadiid 22-23).

(3) Jika seseorang mendapat  ujian berupa musibah  maka sadarilah bahwa bukan dirinya saja yang pernah mendapat musibah bahkan banyak orang yang diuji dengan musibah yang sangat berat. Sungguh semua orang akan di uji dan itu sudah pasti. Allah Ta’ala berfirman  :  

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan  kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?. (Q.S al Ankabut 2).

(3) Harus yakin bahwa Allah telah menyediakan jalan keluar dari setiap kesulitan dan musibah. Allah Ta’ala berfirman :  

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S al Insyiraah 5-6).

Tentang ayat ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : (Disamping kemudahan yang konkrit). Dan ada pula kemudahan maknawi. Yakni PERTOLONGAN ALLAH KEPADA SESEORANG UNTUK BERSABAR. Itu juga termasuk kemudahan. Apabila Allah menolongmu untuk bisa bersabar, maka menjadi ringanlah bagimu urusan urusan yang sulit.

Jadi kemudahan bukan hanya terangkatnya kesusahan secara keseluruhan saja, namun termasuk kemudahan adalah terangkatnya musibah dan kesulitan. Dan ini merupakan kemudahan yang bersifat nyata.  

(4) Harus benar benar yakin bahwa kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu bersabarlah jika mendapat musibah dan berdoalah agar diberi pahala dengan musibah. Dan juga   mohonlah kepada-Nya agar diberi ganti yang lebih baik.

Wallahu A'lam. (3.653)

Selasa, 20 Januari 2026

TEMPAT DI NEGERI AKHIRAT HANYA DUA YAITU SURGA ATAU NERAKA

 

TEMPAT DI NEGERI AKHIRAT HANYA DUA YAITU SURGA ATAU NERAKA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, semua manusia  yang hidup di dunia  dari manusia pertama sampai manusia terakhir PASTI AKAN KEMBALI KE NEGERI AKHIRAT. Di negeri akhirat Allah Ta'ala hanya menyediakan dua tempat yaitu surga atau neraka tidak ada tempat ketiga.

Ketika berada di dunia, kita semua SANGAT MENGINGINKAN mendapat tempat di surga yaitu tempat yang sangat nyaman, indah dan sangat menyenangkan. Lalu bagaimana dengan  neraka ?. Sungguh neraka adalah tempat paling buruk dan mendapat adzab.

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala telah menurunkan KITAB PETUNJUK  yang diturunkan MELALUI RASUL-NYA. Kitab petunjuk itu berisi penjelasan yang sangat lengkap tentang cara mendapatkan tempat di surga dan dijauhkan dari neraka. Dalam al Qur an ada penjelasan yang sangat lengkap untuk diikuti supaya  mendapatkan tempat di surga yaitu iman dan amal shalih. Allah Ta'ala berfirman :

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (Q.S al Baqarah 25).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلًا

Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Mereka kekal di dalamnya selama lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah ?. (Q.S an Nisa' 122).

Oleh karena itu pelajarilah dan amalkanlah perintah Allah dalam al Qur an serta petunjuk Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  berupa sunnah sunnah beliau.

Melakukan amal shalih terkadang terasa berat tetapi ketika iman seseorang kokoh maka bisa dilakukan sesuai perintah Allah Ta'ala. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan bahwa hamba hamba Allah tidak akan dibebani melebihi kemampuannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya

 لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Q.S Al Baqarah 286)

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memudahkan bagi mereka  syariat-Nya dengan sangat mudah. Allah tidak memberatkan mereka dengan kesulitan,  beban dan tambahan seperti yang diberikan kepada orang-orang sebelum mereka dan Allah tidak memberatkan melebihi kemampuan mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Namun demikian, ingatlah satu sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam tentang surga dan neraka :


حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat. (H.R Imam Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu  akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa.

Begitu pula sebaliknya seseorang itu  akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. (Syarah Shahih Muslim).

Wallahu A'lam. (3.652)

 

 

 

      

Minggu, 11 Januari 2026

KEWAJIBAN MENJAGA KEBERSAMAAN SESAMA ORANG BERIMAN

 

KEWAJIBAN MENJAGA KEBERSAMAAN SESAMA ORANG BERIMAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga kebersamaan atau persaudaraan sesama orang beriman sebagaimana firman-Nya :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ  

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai. (Q.S Ali Imran 103).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga dengan sangat jelas menyebutkan bagaimana seharusnya kebersamaan dan persaudaraan sesama orang beriman. Dari Abu Musa, dari Nabi Salallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda : 

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

Orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan. Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa hakikatnya kebersamaan dan persaudaraan orang beriman ditegaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S al Hujurat 10).

Selanjutnya ketahuilah bahwa  salah satu implementasi dari kebersamaan dan persaudaraan orang orang beriman adalah SALING TOLONG MENOLONG DALAM KEBAIKAN. Dan tentang tolong menolong diperintahkan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (Q.S al Maidah 2).

Imam Ibnu Katsir berkata : Maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala memerintahkan hamba hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa tolong menolong DALAM BERBUAT KEBAIKAN. Itulah yang disebut dengan al birru atau kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Imam al Qurthubi  menjelaskan tentang  TA’AWUN yaitu tolong menolong yang dimaksud dalam surat al Maidah ayat 2 menyebutkan beberapa aplikasinya :

(1) Seorang berilmu menolong manusia dengan ilmunya.

(2) Seorang yang berharta menolong manusia dengan hartanya.

(3) Seorang pemberani menolong manusia dengan keberaniannya berjuang di jalan Allah dan yang lainnya. Masing masing orang membantu orang lain sesuai kapasitas dan kemampuannya. (Tafsir al Qurthubi)

Imam al Mawardi  berkata : Allah Azza wa Jalla mengajak untuk tolong-menolong dalam kebaikan dengan beriringan dengan ketakwaan kepada-Nya. Sebab dalam ketakwaan, terkandung ridha Allah Azza wa Jalla . Sementara saat berbuat baik, orang-orang akan menyukai (meridhai).

Barang siapa memadukan antara ridha Allah Azza wa Jalla dan ridha manusia, sungguh kebahagiaannya telah sempurna dan kenikmatan baginya sudah melimpah. (Tafsir al Qurthubi).

Tentang ayat 2 surat al Maidah yang berkaitan dengan tolong menolong dalam kebaikan, Syaikh as Sa'di berkata : Hendaknya sebagian kalian membantu sebagian yang lain dalam kebajikan. Kebajikan adalah nama yang mengumpulkan segala perbuatan,  baik lahir maupun bathin, baik hak Allah maupun hak manusia YANG DICINTAI DAN DIRIDHAI ALLAH TA'ALA.

Setiap perbuatan baik yang diperintahkan untuk dikerjakan atau perbuatan buruk yang diperintahkan untuk dijauhi, maka seorang hamba DIPERINTAHKAN UNTUK MELAKSANAKANNYA sendiri dan dengan bantuan dari orang lain dari kalangan saudara saudaranya yang beriman. Baik dengan ucapan atau perbuatan yang memacu atau mendorong kepadanya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman, dengan diringkas).

Wallahu A'lam. (3.651).

 

 

Jumat, 09 Januari 2026

HAMBA ALLAH HARUS BERUSAHA MELAKUKAN AMALAN SUNNAH

 

HAMBA ALLAH HARUS BERUSAHA MELAKUKAN AMALAN SUNNAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa sungguh, dalam beribadah kepada Allah Ta'ala,   kita mengenal bentuk ibadah  yang sifatnya WAJIB ATAU FARDHU dan  YANG TIDAK WAJIB ATAU SUNNAH.

Diantara ibadah wajib seperti shalat fardhu lima kali sehari semalam dan puasa fardhu di bulan Ramadhan adalah ibadah yang dibebankan kepada kita yang telah baligh dan berakal. Jika dilalaikan mendatangkan dosa dan berbagai keburukan bahkan mendatangkan adzab di dunia, di barzakh dan di akhirat kelak.

Oleh karena itu hamba hamba Allah selalu bersungguh menjaga, memelihara dan mengamalkan IBADAH WAJIB SESUAI KEMAMPUAN. Dan juga dengan menjaga keikhlasan serta mutabaah yaitu mengikuti petunjuk Rasulullah Salallahu 'alai Wassallam dalam beribadah.

Lalu bagaimana dengan ibadah sunnah atau yang tidak diwajibkan, dalam hal ini ada beberapa perkara, diantaranya adalah meskipun tidak wajib tetapi sangatlah banyak saudara kita yang  bersemangat mengamalkannya seperti shalat sunnah rawatib, shalat dhuha, shalat lail. Dan juga puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, puasa ayyamulbidh dan ibadah umrah, bersedekah, berinfak dan yang lainnya.

Tetapi adapula saudara kita yang terkadang mengabaikan ibadah sunnah karena sifatnya tidak wajib. Bahkan adapula yang mengatakan jika tidak mengamalkan ibada sunnah tidak ada dosa padanya. Iya tidak ada dosa jika tidak mengamalkannya tetapi merugi karena tak mendapat banyak kebaikan dan keutamaan.

Sungguh sangatlah banyak keutamaan melakukan ibadah sunnah, diantaranya adalah melengkapi kekurangan pada amalan wajib. Perhatikanlah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna.

Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya. Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini. (H.R  Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Dalam riwayat Imam Ahmad dengan lafadz :

إِنَّ مِنْ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، قَالَ: يَقُولُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ : انْظُرُو)ا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا؟ فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا، قَالَ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ، قَالَ: أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Sesungguhnya perkara pertama kali yang dihisab pada hari kiamat dari amal manusia adalah shalat.” Rasulullah bersabda, “Allah Ta’ala berfirman kepada malaikat, dan Allah lebih mengetahui, “Periksalah shalat hamba-Ku, apakah sempurna atau ada kekurangan ?. Jika shalatnya sempurna, maka dicatat sempurna untuknya. Jika terdapat suatu kekurangan,

Allah Ta’ala berfirman, “Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunnah?” Jika seorang hamba memiliki amal ibadah sunnah, Allah Ta’ala berfirman, “Sempurnakanlah ibadah wajibnya dengan ibadah sunnahnya.” Lalu setiap amal akan diperlakukan sama seperti itu.  (H.R Imam Ahmad).  

Dua hadits ini mengingatkan bahwa amalan sunnah (seperti puasa sunnah) bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib sebagaimana halnya shalat dan amalan wajib lainnya. Oleh karena itu, jika  ingin amalan wajib kita disempurnakan, maka perbanyaklah amalan sunnah.

Namun demikian jangan salah paham, misalnya seseorang tidak berusaha melakukan ibadah wajib dengan sebaik mungkin karena bersandar  kepada ibadah sunnah yang akan melengkapi kekurangan ibadah wajib.

Wallahu A'lam. (3.650)