Senin, 22 Juni 2026

 

SANGAT DIANJURKAN UNTUK TINGGAL SEJENAK DITEMPAT SHAL

Setelah selesai shalat  ada sebagian  saudara kita yang langsung meninggalkan tempat shalat. Padahal sangatlah dianjurkan untuk tinggal sejenak. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengajarkan kita untuk membaca dzikir setelah shalat fardhu. Dalam satu sabda beliau disebutkan :


كَانَ رَسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاثَاً ، وَقَالَ :  اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الجَلاَلِ وَالإكْرَامِ قِيلَ لِلأوْزَاعِيِّ – وَهُوَ أحَدُ رواة الحديث – : كَيْفَ الاسْتِغْفَارُ ؟ قَالَ : يقول : أسْتَغْفِرُ الله ، أسْتَغْفِرُ الله 
.

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya (shalat fardhu, pen.), beliau BERISTIGHFAR TIGA KALI dan mengucapkan : “ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM” (Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Rabb Pemilik Keagungan dan Kemuliaan). 

Ada yang bertanya pada al Auza’i, yaitu salah satu perawi hadits ini : Bagaimana cara beristighfar ?. Al Auza’i menjawab : Caranya membaca ASTAGHFIRULLAH … ASTAGHFIRULLAH (Aku memohon ampun kepada Allah. Aku memohon ampun kepada Allah).  H.R Imam Muslim. 

Setelah itu juga sangat dianjurkan     membaca ayat kursi sebagaimana sabda beliau : 


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلاَ الْمَوْتُ». رَوَاهُ الْنَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

 Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tiada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut (kematian). H.R an Nasa'i dan disahihkan oleh Ibnu Hibban)

Selanjutnya  ditutup dengan  membaca surat al Mu'awwadzat yaitu tiga surah terakhir dari al Qur an :

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku untuk membaca al Mu'awwidzat di setiap akhir shalat (sesudah salam). H.R an Nasa'i  dan Abu Daud).

Wallahu A'lam. (1.416).  Disusun oleh : Azwir B. Chaniago – 23.06.2026

SALAH SATU TANDA ORANG BAIK TIDAK MAU MENGGANGGU ORANG LAIN

 

SALAH SATU TANDA ORANG BAIK TIDAK MAU MENGGANGGU ORANG LAIN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Tidak mengganggu orang lain adalah salah satu fase dalam berbuat kebaikan meskipun belum mampu melakukan kebaikan yang sesungguhnya. Bisa juga dikatakan langkah awal dalam berbuat kebaikan dan salah satu jalan untuk menjadi orang baik.

Salah satu tanda orang baik adalah  tidak suka  mengganggu orang lain dengan lisannya diantaranya adalah  tidak suka menuduh, mencela, mengghibah, menghasut,  menfitnah, menyebarkan kabar buruk dan yang lainnya yang bisa mengganggu orang lain. Selain itu  tidak pula mengganggu orang lain dengan fisiknya seperti memukul, mencuri, merampok dan berbuat kerusakan 

Dalam suatu riwayat disebutkan  Abdullah ibn Amr al 'Ash berkata : Ada seorang laki laki bertanya kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam : Siapakah orang muslim yang paling baik ?.  Beliau menjawab : 

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ 

Orang (muslim) yang kaum muslimin merasa selamat dan aman dari lisan dan tangannya. (H.R Imam Muslim).

Imam an Nawawi berkata : Maksud hadits ini ialah orang Islam yang sempurna imannya, mereka tidak mengganggu orang Islam lainnya baik dengan perkataannya atau perbuatannya. Dan dikhususkan dengan penyebutan tangan karena paling besarnya perbuatan yang dilakukan oleh manusia adalah dengan tangannya (Lihat Syarah Shahih Muslim).

Selain itu ketahuilah bahwa termasuk salah satu sifat manusia terbaik adalah bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah Salalahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

خَيْرُ الناسِ أَنفَعُهُم لِلنَّاسِ

Sebaik baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. (Hadits Hasan, Lihat Shahihul Jami’, Syaikh al Albani).

Melihat kepada zhahir hadits ini maka setiap orang yang memiliki sesuatu yang lebih seperti pangkat, jabatan, ilmu, harta dan yang lainnya maka haruslah digunakannya untuk memberikan manfaat bagi orang lain.

Tetapi di zaman ini banyak saudara saudara kita yang punya  kelebihan digunakan untuk menzhalimi orang lain. Naudzubillah.

Wallahu A'lam. (3.738).

 

 

SIFAT HASAD TERMASUK MENGINGKARI KETETAPAN ALLAH.

 

SIFAT HASAD TERMASUK MENGINGKARI KETETAPAN ALLAH

 Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 Hasad atau dengki adalah sifat seseorang yang  MERASA TIDAK SUKA ATAU BENCI bila melihat orang lain  diberi nikmat oleh Allah. Allah Ta'ala berfirman : 

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۖ

Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) karena karunia yang telah diberikan Allah kepadanya. (Q.S an Nisa’ 54).

Ketahuillah bahwa sifat hasad sangatlah tercela karena merupakan bagian dari pengingkaran terhadap apa yang telah Allah tetapkan.

Orang yang hasad  tidak suka terhadap kelebihan ataupun kenikmatan yang diberikan Allah kepada seseseorang. Pada hal Allah Ta’ala memberikan karunia kepada yang Dia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman :  

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Dan bahwa karunia itu ada di tangan Allah. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia  besar. (Q.S al Hadiid 29).

Allah Ta’ala berfirman :  

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Apakah mereka yang membagi bagi rahmat Rabb-nya ?. Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Rabb-mu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Q.S az Zukhruf 32).

Syaikh Utsaimin berkata : Bahwa sifat hasad ini pada umumnya menimbulkan banyak kemaksiatan, diantaranya :

(1) Permusuhan terhadap orang lain. (2) Persengketaan. (2) Perbuatan menyebarkan aib dan yang lainnya. Oleh sebab itu wajib atas setiap muslim untuk menjauhkanya, sebagaimana Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam telah melarangnya. (Syarah Arba’in Nawawiyah).

Ketahuilah bahwa penyakit hasad bisa datang kapan saja dan mampu  menyerang siapa saja. Sifat hasad bisa menyerang orang kaya atau miskin, berpangkat atau bukan, berpendidikan tinggi atau tidak. Pengemis pun juga bisa dihinggapi penyakit ini.

Bahkan ustadz atau kiyai pun mungkin juga bisa terkena virus hasad. Tinggal menghitung stadiumnya saja. Ada yang parah dan ada pula  yang tidak parah.

Oleh karena itu Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  telah mengingatkan orang orang beriman untuk menjauhi sifat hasad ini. Beliau bersabda :  

لاَ تَحَاسَدُوا

Janganlah kalian saling hasad …. (H.R Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (3.737). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 21 Juni 2026

AYAT YANG DIMULAI DENGAN YAA AIYUHAL LADZINA AAMANUU

 

AYAT YANG DIMULAI DENGAN YAA AIYUHAL LADZINA AAMANUU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa dalam al Qur an ada lebih dari 80 ayat yang dimulai dengan kalimat YAA AIYUHAL LADZINA AAMANUU, wahai orang orang yang beriman.

Ini adalah kalimat seruan  dari Allah Ta'ala. Dalam  seruan  ini ada dua perkara besar yaitu :

(1) Perintah untuk melakukan sesuatu, diantaranya sebagaimana  firman Allah Ta'ala :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

Wahai orang-orang yang beriman.  Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Q.S al Baqarah 183).

 

(2) Larangan untuk melakukan sesuatu, diantaranya sebagaimana firman Allah Ta'ala :


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan cara yang bathil (tidak benar), kecuali berupa perniagaan atas dasar suka sama suka di antara kamu. Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (Q.S an Nisa' 29).

 Ketahuilah bahwa perintah dan larangan Allah Ta'ala hanya bisa dipahami, diterima dan diamalkan oleh orang orang beriman. Oleh karenanya maka Allah Ta'ala hanya memanggil dan menyeru bahkan memerintahkan orang orang beriman saja.

Selain itu ketahuilah bahwa ketika ada orang orang yang mengaku beriman lalu pada suatu waktu lancang pula mempertanyakan perintah dan larangan Allah Ta'ala meskipun satu perintah atau satu larangan saja maka itu tanda IMANNYA SEDANG TERGANGGU ATAU SEDANG MENURUN.

Memang iman seseorang bisa naik dan bisa turun. Allah Ta'ala berfirman : 

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Sesungguhnya orang orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar  hatinya dan apabila dibacakan ayat ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuatimannya dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.  (Q.S al Anfaal 2).

Para ulama menjelaskan bahwa sesuatu yang bertambah bisa pula berkurang. Oleh karena itu maka yang harus kita jaga jangan sampai iman kita turun apalagi hilang. Dari Abdullah bin Amr bin al 'Ash, dia berkata, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

 

إنَّ الإيمانَ ليَخلَقُ في جوفِ أحدِكم كما يَخْلَقُ الثوبُ ، فاسأَلوا اللهَ أن يُجدِّدَ الإيمانَ في قلوبِكم 

Sesungguhnya iman benar-benar bisa menjadi usang di dalam tubuh seseorang dari kalian sebagaimana usangnya pakaian. Maka mohonlah kepada Allah supaya memperbarui iman di hati kalian !. (H.R al Hakim)  

 

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah selalu memperkokoh iman yang ada dalam dirinya sehingga bisa menerima dan berusaha semampunya untuk menjaga dan mengamalkan perintah dan larangan Allah Ta'ala. Sungguh perkara ini akan mendatangkan keselamatan di dunia dan diakhirat karena sungguh perintah dan larangan Allah adalah petunjuk untuk keselamatan bagi hamba hamba-Nya yang beriman.

Sebagai penutup tulisan ini dinukil satu nasehat dari Ibnu Mas'ud, beliau berkata : Jika kamu membaca ayat yang diawali : Yaa ayyuhalladzina aamanuu..." Maka pasanglah telingamu karena setelah seruan tersebut akan selalu ada perintah kebaikan yang wajib dikerjakan atau larangan keras yang wajib dijauhi. (Dinukil dari Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).

 

Wallahu A'lam. (3.736).

 

 

 

 

 

 

 

 

  

Kamis, 18 Juni 2026

KEUTAMAAN BULAN MUHARAM

 

KEUTAMAAN BULAN MUHARAM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Allah Ta'ala telah menetapkan EMPAT BULAN HARAM diantara 12 bulan yang ada yaitu sebagaimana firman-Nya :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah 12 bulan (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus (Q.S at Taubah 36). yang lurus.

ٍSalah satu dari bulan haram tersebut adalah bulan Muharam yaitu sebagaimana dijelaskan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam :

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

 

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bum Sat tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan MUHARAM. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban. (H.R Imam Bukhari no. 3197 dan Imam Muslim no. 1679).

Ibnu Katsir berkata : Ibnu Abbas, ahli tafsir terbaik dalam Islam,  memahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :  Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu,  bermakna bahwa larangan berbuat zalim berlaku pada keseluruhan bulan, lalu Allah menghususkan empat bulan dan menjadikannya sebagai bulan mulia dan lebih mengagungkan kehormatannya.

Allah menjadikan dosa di dalamnya lebih besar, BEGITU JUGA AMAL SHALIH DENGAN PAHALA LEBIH BESAR. (Tafsir Ibnu Katsir)

Selain itu ketahuilah bahwa  berpuasa di bulan Muharram adalah puasa PALING UTAMA setelah puasa bulan Ramadhan. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam   bersabda :


أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ 

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, al Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam. (H.R Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Imam an Nawawi menjelaskan : Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram. (Syarh Shahih Muslim).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim diatas disebut pula bahwa Muharram   sebagai bulan Allah atau Syahrullah. Dan ketahuilah bahwa ketika satu kata digandengkan dengan nama Allah  menjadi bertambah kemuliaanya, seperti Baitullah, Kitabullah, Rasulullah dan yang lainnya.

Wallahu A'lam. (3.735).

PAHALA YANG MASIH MENGALIR SETELAH WAFAT

 

PAHALA YANG MASIH MENGALIR SETELAH WAFAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketika masih berada di dunia, orang orang beriman haruslah tetap bersemangat melakukan amal shalih sebagai bekal menuju alam kubur atau alam barzakh serta alam akhirat. Sungguh Allah Ta'ala mengingatkan agar orang orang beriman hendaklah berbekal dengan amal shalih, sebagaimana firman-Nya :


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Wahai orang orang yang beriman. Bertakwalah kepada Allah dan hendaknya setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan. (Q.S  al Hasyr 18).

Berbekal untuk hari esok yaitu dengan melakukan amal shalih yang dilandasi iman KETIKA MASIH HIDUP DI DUNIA. Tetapi ketahuilah bahwa meskipun seseorang sudah wafat ternyata masih ada kesempatan untuk memperoleh pahala yang mengalir.

Pertama : Riwayat Imam Muslim. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Apabila manusia meninggal, maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara : sedekah jariah dan IMU YANG BERMANFAAT (YANG IA AJARKAN)  dan anak shalih yang mendoakannya.

Kedua : Riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati  : (1)  ILMU YANG IA AJARKAN DAN IA SEBARKAN. (2) Anak shalih yang ia tinggalkan. (3) Mushaf al Qur’an yang ia wariskan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu Ta'ala berkata : Setiap ilmu (yang engkau ajarkan) dan orang lain memperoleh manfaat dengannya, maka sesungguhnya itu akan memberikan manfaat kepadamu setelah kematianmu,

Sampaipun engkau mengajari manusia satu shalat sunnah dari sunnah-sunnah rawatib, atau satu sunnah yang dilakukan atau dibaca di dalam shalat, dan manusia memperoleh manfaat dengan apa yang telah engkau ajarkan setelah kematianmu, maka engkau memperoleh pahala yang terus mengalir.

Maka setiap ilmu yang dimanfaatkan, meskipun sedikit sungguh akan tercatat sebagai pahala bagi orang yang mengajarkannya setelah kematiannya. (Fathu Dzil Jalaali Wal-Ikram).

Wallahu A'lam. (3.734). 

 

 

Selasa, 16 Juni 2026

SUATU KAUM BANYAK BERMAKSIAT AKAN MENDAPAT PEMIMPIN ZHALIM

 

SUATU KAUM BANYAK BERMAKSIAT AKAN MENDAPAT PEMIMPIN ZHALIM

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Semua orang yang dipimpin sangat berharap mendapat pemimpin yang baik, adil dan TIDAK ZHALIM. Dengan demikian mereka bisa menjalani kehidupan bermasyarakat dan  bernegera dengan nyaman dan lebih mudah mencapai kemakmuran bersama.

Tetapi ketahuilah bahwa  ketika pemimpin  zhalim bahkan sangat zhalim adalah  tersebab kezhaliman mereka yang dipimpin. Allah Ta'ala berfirman :


وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ 

Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi pemimpin bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan. (Q.S al An`am 129).

Syaikh as Sa'di berkata :  Termasuk dalam hal ini adalah jika kezhaliman manusia, kerusakan dan penolakan manusia untuk menunaikan hak hak yang wajib telah memuncak  maka ALLAH TA'ALA AKAN MEMUNCULKAN ORANG ZHALIM YANG MENGUASAI MEREKA. Orang zhalim ini akan memerintah mereka dengan KEZHALIMAN DAN KESEWENANG WENANGAN yang jauh lebih besar daripada hak hak Allah dan hamba hamba-Nya yang tidak mereka tunaikan.

Jika manusia baik dan lurus maka Allah Ta'ala memperbaiki pemimpin mereka, menjadikan mereka sebagai pemimpin pemimpin yang adil. Bukan pemimpin yang zhalim lagi lalim. (Tafsir Taisir Karimir Rahman, dengan diringkas).

Imam Ibnul Qayyim berkata : Sesungguhnya diantara hikmah Allah Ta’ala dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seperti  cerminan  pemimpin dan penguasa mereka.

Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zhalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zhalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. (Miftah Daaris Sa'adah).

Oleh karena itu maka hamba hamba Allah hendaklah terus menerus menjaga ketaatannya kepada perintah perintah Allah Ta'ala. Jangan berbuat.  Menjaga diri dan menjauhi dosa dan maksiat yang dilarang. Dengan demikian akan memperoleh pemimpin yang adil. Bukan pemimpin zhalim.

Sebagai penutup tulisan ini dinukil satu firman Allah Ta'ala yang harus menjadi peringatan bagi hamba hamba-Nya :


هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula. (Q. S ar Rahman 60).

Wallahu A'lam. (3.733).