ORANG BERIMAN TIDAK
BERBICARA KECUALI ADA MANFAAT
Disusun oleh : Azwir B. Chaniago
Salah
satu nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada manusia adalah NIKMAT BISA
BERBICARA sebagaimana firman-Nya :
خَلَقَ الْإِنْسَانَ . عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Dia
(Allah yang) menciptakan manusia.
Mengajarnya pandai berbicara. (Q.S ar Rahman 3-4)
Bahwa
hakikat setiap nikmat, besar
atau kecil adalah
wajib diterima dengan rasa syukur
diantaranya adalah dengan menggunakan nikmat itu sebagai sarana untuk mengabdikan
diri dan beribadah kepada
Allah serta mencari ridha-Nya.
Oleh
karena itu hamba hamba Allah lebih dianjurkan untuk diam dalam beberapa perkara
yang tidak mendatangkan manfaat, diantaranya :
Pertama
: Kalau tidak bisa berbicara yang baik sangat dianjurkan untuk diam saja.
Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُت
Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik
atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).
Dari
hadits ini, pertama sekali ada faedah yang bisa diambil, diantaranya bahwa
BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah adab berbicara tetapi
terkait dengan iman.
Tentang
hadits ini, Imam an Nawawi berkata : Apabila salah seorang dari kalian
hendak berbicara dan pembicaraan tersebut benar benar baik dan
berpahala, baik dalam membicarakan yang wajib maupun
sunnah, silahkan dia mengatakannya.
Jika
belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan
itu tampak samar baginya antara haram, makruh dan mubah,
hendaknya dia tidak mengucapkannya. (Syarah Shahih Muslim).
Kedua : Kalau belum tahu fakta tentang sesuatu sangat dianjurkan untuk diam
saja. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ
وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
Dan
janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran,
penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya.
(Q.S Surat al Isra’ 36).
Ketiga
: Kalau terpicu marah sangat dianjurkan untuk diam saja. Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia
diam, sebagai mana sabda beliau :
إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.
Apabila
seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul
Mufrad dan juga ahli hadits yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Al
Ini
juga merupakan cara yang bisa diamalkan jika terpicu
marah, karena jika orang sedang marah maka bisa keluarlah darinya ucapan-ucapan
yang kasar, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampaknya sangat
buruk.
Wallahu
A'lam. (3.713).