Senin, 25 Mei 2026

APA SEBAB KEHIDUPAN SESEORANG TERASA SEMPIT

 

APA SEBAB KEHIDUPAN SESEORANG  TERASA SEMPIT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Kehidupan yang sempit tidak diukur dari sedikit atau banyaknya harta. Seseorang bisa saja memiliki banyak harta, namun hatinya tetap terasa hampa, gelisah, gundah gulana dan terkadang didatangi  rasa takut. Diantara penyebabnya adalah sebagaimana firman Allah Ta'ala : 

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan pada hari Kiamat (dibangkitkan) dalam keadaan buta. (Q.S Thaha 124).

Diantara ulama Tafsir menjelaskan bahwa orang yang berpaling dari mengingat Allah termasuk  yang enggan beribadah kepada-Nya maka kehidupannya akan senantiasa dirundung kesedihan dan duka (Adhawaul Bayan).

Ketahuilah bahwa sangatlah banyak jalan untuk keluar dari kehidupan yang sempit dan dirundung kesedihan diantaranya adalah :

Petama : Perbanyak memohon ampun.

Bahwa diantara keutamaan beristighfar,  adalah dilapangkan untuk setiap kesempitan. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam bersabda : 

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

Barang siapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, KELAPANGAN UNTUK SETIAP KESEMPITANNYA dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.  (H.R Imam Ahmad dari Ibnu Abbas).

Kedua : Bersegera melakukan amal shalih yang dilandasi iman. Allah Ta’ala berfirman :

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal saleh, laki laki atau perempuan sedangkan dia beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan. (Q.S an Nahal 97).

Ketiga : Bertawakal atau berserah diri kepada Allah Ta'ala.

Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam firman-Nya : 

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ

Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. (Q.S ath Thalaq 3).

Syaikh as Sa’di berkata : “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah” maknanya adalah (bertawakal) dalam urusan agama dan dunianya dengan bergantung sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dengan maksud untuk mendapatkan apa apa yang bermanfaat dan menghindari apa apa yang mudharat serta percaya sepenuhnya bahwa mereka akan diberi kemudahan.

Selanjutnya Syaikh berkata : “Niscaya  Allah akan mencukupkan (keperluan) nya” . Maksudnya adalah bahwa Allah akan mencukupi keperluan yang disandarkannya kepada Allah. Dan ketika suatu urusan berada dalam tanggungan Yang Mahakaya, Mahakuat, Mahaperkasa lagi Mahapenyayang, maka Dia paling dekat dengan hambaNya melebihi segala sesuatu. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Wallahu A'lam. (3.718).

 

 

 

 

Sabtu, 23 Mei 2026

UJIAN BERUPA MUSIBAH AKAN SENANTIASA MENDATANGI ORANG BERIMAN

 

UJIAN BERUPA MUSIBAH AKAN SENANTIASA MENDATANGI ORANG BERIMAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, ujian berupa musibah untuk orang orang beriman adalah satu keniscayaan yang mendatanginya sesuai kehendak Allah Ta'ala. Sungguh apapun yang terjadi dan meimpa diri seseorang, keluarganya ataupun hartanya   adalah kehendak Allah Ta’ala yaitu sebagaimana firman-Nya :

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad). Tidak akan menimpa kami melainkan APA YANG TELAH DITETAPKAN ALLAH BAGI KAMI. (Q.S at Taubah 51)

Ujian berupa musibah itu antara lain adalah untuk diketahui  kokohnya iman seseorang.  Allah Ta’ala berfirman :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, KAMI TELAH BERIMAN DAN MEREKA TIDAK DIUJI ?. Dan sungguh Kami telah menguji orang orang sebelum mereka maka Allah pasti mengetahui orang orang yang benar dan pasti mengetahui orang orang yang berdusta. (Q.S al Ankabut 2-3).

Semakin kokoh iman seseorang semakin berat ujian berupa musibah yang akan ditanggungnya. Sungguh, para Nabi dan Rasul adalah orang orang pilihan Allah dan juga orang shalih juga diberi ujian berupa musibah yang berat.

Lhatlah bagaimana Nabi Ya'qub diuji dengan kehilangan putra yang disayanginya, Nabi Ayub diuji dengan sakit berahun tahun, Aisyah diuji dengan tidak dikaruniai anak, Fatimah putri Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam diuji dengan hidup miskin harta.

Ketahuilah bahwa ketika Allah Ta’ala menghendaki kebaikan bagi seorang hamba maka diberi ujian berupa musibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

من يرد الله به خيرا يصب منه

Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah. (H.R Imam Bukhari).

Ketahuilah bahwa sikap yang harus dkedepankan ketika didatangi ujian berupa musibah adalah BERSABAR, Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. 

Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin)

Wallahu A'lam. (3.717).

Jumat, 22 Mei 2026

SANGAT DIANJURKAN MEMPERHATIKAN DAN MENJAWAB ADZAN

 

SANGAT DIANJURKAN MEMPERHATIKAN DAN MENJAWAB ADZAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, adzan adalah termasuk salah satu syi'ar yang agung dalam Islam.  Selalu dikumandangkan disetiap masjid ketika waktu shalat fardhu sudah masuk. Ketahuilah  bahwa orang yang mendengar adzan SANGAT DIANJURKAN untuk memperhatikan dan menjawab bacaan adzan. 

Cara menjawab adzan adalah sebagaimana disebutkan  satu hadits dari Umar bin Khaththab  bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 Apabila muadzin mengucapkan ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR lalu seorang di antara kamu mengucapkan (juga) ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR. Kemudian muadzin mengucapkan ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH ia mengucapkan juga ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAAH.

Kemudian muadzin mengucapkan ASYHHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH  ia  mengucapkan (juga)   ASYHHADU ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.

Kemudian muadzin mengucapkan HAYYA ‘ALASH SHALAAH maka ia mengucapkan LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH (tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). Kemudian muadzin mengucapkan HAYYA ‘ALAL FALAAH ia mengucapkan  LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH.

Kemudian muadzin mengucapkan ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR ia mengucapkan juga ALLAAHU AKBAR ALLAAHU AKBAR. Kemudian muadzin mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH ia mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH dari lubuk hatinya maka pasti ia masuk surga. (H.R Imam Muslim dan Abu Dawud).

Setelah itu sangat dianjurkan pula bershalawatlah kepada Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Lalu membaca doa setelah adzan yaitu :  “Barangsiapa yang MEMBACA KETIKA MENDENGAR ADZAN, “Allahumma Rabba hadzihid da’watit taammah wash shalaatil qaaimah aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuudah alladzii wa’attah” 

Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna  dan shalat  yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada Muhammad, dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan. Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat” (H.R Imam Bukhari).

Salah satu pemahaman yang bisa diambil dari hadits ini adalah bahwa MUADZIN TIDAK DIANJURKAN MEMBACA DOA SESUDAH ADZAN karena disebutkan dalam hadits bahwa membaca doa  sesudah adzan adalah BAGI YANG MEMDENGAR ADZAN. Tetapi ada sebagian muadzin di negeri kita ikut membaca doa setelah adzan bahkan dengan suara keras.

Wallahu A'lam. (3.716).

 

Kamis, 21 Mei 2026

MEMBACA AYAT KURSI DAN AL MUAWWIDZAT SETELAH SHALAT FARDU

 

MEMBACA AYAT KURSI DAN AL MUAWWIDZAT SETELAH SHALAT FARDU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam mengajarkan kita umat beliau untuk membaca dzikir shalat fardhu yaitu selesai shalat fardhu yaitu setelah salam. Dalam satu sabda beliau disebutkan :


كَانَ رَسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا انْصَرَفَ مِنْ صَلاَتِهِ اسْتَغْفَرَ ثَلاثَاً ، وَقَالَ :  اللَّهُمَّ أنْتَ السَّلاَمُ ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ ، تَبَارَكْتَ يَاذَا الجَلاَلِ وَالإكْرَامِ قِيلَ لِلأوْزَاعِيِّ – وَهُوَ أحَدُ رواة الحديث – : كَيْفَ الاسْتِغْفَارُ ؟ قَالَ : يقول : أسْتَغْفِرُ الله ، أسْتَغْفِرُ الله 
.

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam selesai dari shalatnya (shalat fardhu, pen.), beliau BERISTIGHFAR TIGA KALI dan mengucapkan : “ALLAHUMMA ANTAS SALAAM, WA MINKAS SALAAM, TABAARAKTA YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM” (Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan. Mahasuci Engkau, wahai Rabb Pemilik Keagungan dan Kemuliaan).

Ada yang bertanya pada al Auza’i, yaitu salah satu perawi hadits ini : Bagaimana cara beristighfar ?. Al Auza’i menjawab : Caranya membaca ASTAGHFIRULLAH … ASTAGHFIRULLAH (Aku memohon ampun kepada Allah. Aku memohon ampun kepada Allah).  H.R Imam Muslim. 

Setelah membaca dzikir sesudah shalat fardhu dianjurkan membaca ayat kursi, sebagaimana sabda beliau : 


عَنْ أَبِي أُمَامَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ مَكْتُوبَةٍ لَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ دُخُولِ الْجَنَّةِ إِلاَ الْمَوْتُ». رَوَاهُ الْنَّسَائيُّ، وَصَحَّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

 

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Barang siapa membaca ayat kursi setiap selesai shalat fardhu, maka tiada yang menghalanginya masuk surga kecuali maut (kematian). H.R an Nasa'i dan disahihkan oleh Ibnu Hibban)

Selanjutnya  ditutup dengan  membaca surat al Mu'awwadzat yaitu tiga surah terakhir dari al Qur an.  Dalilnya adalah berasal dari sahabat 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, ia berkata :

أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْرَأَ الْمُعَوِّذَاتِ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku untuk membaca al Mu'awwidzat di setiap akhir shalat (sesudah salam). H.R an Nasa'i  dan Abu Daud.

Setelah itu,  ada sebagian saudara saudara kita yang membaca surat al Fatihah setelah membaca dzikir shalat fardhu. Ketahuilah bahwa dalam hal ini Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam tidak melakukannya.

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzhahullah mengatakan : Adapun membacanya (surat al Fatihah) setelah shalat fardhu, maka saya tidak mengetahui dalilnya dari sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang terdapat dalilnya adalah ayat kursi, qul huwallahu ahad, dan qul a’udzu birabbil falaq, dan qul a’udzu birabbinnas. Telah datang hadist-hadist yang menunjukkan disyariatkannya membaca surat-surat tersebut setelah shalat lima waktu. Adapun membaca surat Al-Fatihah maka saya tidak mengetahui dalil yang menunjukkan disyariatkan perkara tersebut setelah shalat. (Al Muntaqa min Fatawa Al-Fauzan).

Wallahu A'lam. (3.715)

HAMBA ALLAH TIDAK PERNAH LALAI MENGINGAT BAHWA DIRINYA AKAN MATI

 

HAMBA ALLAH TIDAK PERNAH LALAI MENGINGAT BAHWA DIRINYA AKAN MATI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu kenyatan yang sangat kita yakini bahwa pada waktunya KITA PASTI MATI.  Dan juga Allah Ta'ala menjelaskan perkara ini dengan tegas dalam beberapa  firman-Nya :

أَيۡنَمَا تَكُونُواْ يُدۡرِككُّمُ ٱلۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنتُمۡ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ

Di mana saja kalian berada, kematian PASTI akan mendapati kalian, walaupun kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (Q.S an Nisa’ 78).

Dan juga  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda agar hamba hamba Allah banyak mengingat mati :

أكْثِروا ذِكْرَ هاذمِ اللَّذَّاتِ يعني المَوتَ

Perbanyaklah kamu untuk mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. (H.R Imam Ahmad, at Tirmidzi, an Nasa'i  dan Ibnu Majah).

Ketika seorang hamba senantiasa mengingat mati maka banyak kebaikan dan keutamaan akan mendatangi dirinya, diantaranya ADALAH TIDAK TERTIPU OLEH DUNIA. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalam telah mengingatkan hal ini dalam sabda beliau :

أكثروا ذكر هَاذِمِ اللَّذَّاتِ فإنه ما ذكره أحد فى ضيق من العيش إلا وسعه عليه ولا فى سعة إلا ضيقه عليه

Perbanyaklah banyak mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka IA TIDAK TERTIPU DENGAN DUNIA. (H.R Ibnu Hibban dan Al Baihaqi, dihasan oleh Syaikh Al Albani).

Abu Darda' berkata : Sesungguhnya seseorang yang banyak untuk mengingat kematian, maka akan sedikit sifat hasadnya, dan akan sedikit pula perbuatan zhalimnya. (Kitab az Zuhd, Imam Ahmad bin Hambal).

Imam Ibnul Jauzi berkata : Apabila seseorang memikirkan tentang dekatnya kematian serta apa yang akan terjadi setelah kematian itu niscaya pastilah akan MEMBENCI SEGALA KENIKMATAN YANG HANYA BERSIFAT SEMENTARA. (Shaidul Kaathir).

Selain itu ketahuilah bahwa bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam memberi predikat sebagai ORANG CERDAS ketika banyak mengingat mati. Dari Ibnu Umar, beliau bersabda :

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنَّهُ قَالَ: كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ: «أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ: «أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ»

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia bercerita : Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu datang seorang lelaki dari kaum Anshar mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bertanya :  Wahai Rasulullah, orang beriman manakah yang paling baik ?. Beliau menjawab : Yang paling baik akhlaknya.

Orang ini bertanya lagi :  Lalu orang beriman manakah yang paling berakal (cerdas) ?. Beliau menjawab : Yang paling banyak MENGINGAT KEMATIAN dan paling baik persiapannya (untuk hidup)  setelah kematian, merekalah yang berakal. (H.R Ibnu Majah).

Oleh karena itu hamba hamba Allah jangan pernah lalai sedikitpun tentang mati dan persiapkan bekal yaitu IMAN DAN AMAL SHALIH YANG DISYARIATKAN.

Wallahu A'lam. (3.714).

 

Rabu, 20 Mei 2026

ORANG BERIMAN TIDAK BERBICARA KECUALI ADA MANFAAT

 

ORANG BERIMAN TIDAK BERBICARA KECUALI ADA MANFAAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada manusia adalah NIKMAT BISA BERBICARA sebagaimana firman-Nya : 

خَلَقَ الْإِنْسَانَ . عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

Dia (Allah yang)  menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara. (Q.S ar Rahman 3-4)

Bahwa hakikat setiap nikmat, besar atau kecil  adalah wajib  diterima dengan rasa syukur diantaranya adalah dengan menggunakan nikmat itu sebagai sarana untuk mengabdikan diri dan beribadah  kepada Allah serta mencari ridha-Nya

Oleh karena itu hamba hamba Allah lebih dianjurkan untuk diam dalam beberapa perkara yang tidak mendatangkan manfaat, diantaranya :

Pertama : Kalau tidak bisa berbicara yang baik sangat dianjurkan untuk diam saja. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :


مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam. (Mutafaq ‘alaihi).

Dari hadits ini, pertama sekali ada faedah yang bisa diambil, diantaranya bahwa BERKATA YANG BAIK ATAU DIAM bukanlah sekedar masalah adab berbicara tetapi terkait dengan iman.

Tentang hadits ini,  Imam an Nawawi berkata : Apabila salah seorang dari kalian hendak berbicara dan pembicaraan tersebut  benar benar baik dan berpahala, baik  dalam membicarakan yang wajib maupun sunnah, silahkan dia mengatakannya.

Jika belum jelas baginya, apakah perkataan itu baik dan berpahala atau perkataan itu  tampak samar baginya  antara haram, makruh dan mubah, hendaknya dia tidak mengucapkannya. (Syarah Shahih Muslim).

Kedua : Kalau belum tahu fakta tentang sesuatu sangat dianjurkan untuk diam saja. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan :


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggung jawabannya. (Q.S Surat al Isra’ 36).

Ketiga : Kalau terpicu marah sangat dianjurkan untuk diam saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan apabila seseorang marah hendaklah ia diam, sebagai mana sabda beliau :

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْكُتْ.

Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam. (H.R Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad dan juga ahli hadits yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Al

Ini juga merupakan cara  yang bisa diamalkan  jika terpicu marah, karena jika orang sedang marah maka bisa keluarlah darinya ucapan-ucapan yang kasar, keji, melaknat, mencaci-maki dan lain-lain yang dampaknya sangat buruk.

Wallahu A'lam. (3.713).

Senin, 18 Mei 2026

JANGAN MENGANGGAP DIRIMU TIDAK BERGUNA

 

JANGAN MENGANGGAP DIRIMU TIDAK BERGUNA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sebagian saudara saudara kita di zaman ini ada yang  menganggap dirinya tidak berguna karena merasa memiliki banyak kekurangan. Kurang ilmu, kurang harta kurang pandai bergaul dan yang lainnya.

Sungguh, hamba hamba Allah jangan memelihara sikap ini karena betapapun banyak  kekurangan yang kita miliki dalam hidup ini, kalau kita mau, masih ada peluang menjadi orang berguna terutama untuk diri, keluarga dan orang lain bahkan masyarakat pada umumnya sesuai kemampuan.

Ingatlah bahwa  memang manusia diciptakan dalam keadaan lemah, sebagaimana firman-Nya :

وَخُلِقَ ٱلْإِنسَٰنُ ضَعِيفًا

Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah. (Q.S an Nisa’ 28).

Meskipun diciptakan dalam keadaan lemah tetapi Allah Ta'ala telah memberi banyak karunia, diantaranya disebutkan dalam firman-Nya :

وَجَعَلْنَا لَهُمْ سَمْعًا وَأَبْصَارًا وَأَفْئِدَةً

Dan Kami telah memberikan kepada mereka PEDENGARAN, PENGLIHATAN DAN HATI. (Q.S al Ahqaf 26).

Untuk itu yang perlu dipelihara adalah aqidah yang benar, ibadah yang baik, akhlak yang mulia dan bermuamalah dengan terpuji. Dengan demikian akan menghasilkan sikap terpuji dan percaya diri.

Ketahuilah bahwa sungguh, Allah Ta'ala mengingatkan bahwa semua ciptaan Allah TIDAK ADA YANG SIA SIA.  Semua diciptakan Allah dengan hak, kebenaran  dan  bermanfaat. Allah Ta'ala berfirman :

خَلَقَ ٱللَّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ بِٱلْحَقِّ ۚ

 Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. (Q.S al Ankabut 44)

Syaikh as Sa'di berkata : Maksudnya Dia-lah Allah Yang Esa, Yang menciptakan langit dengan keluhuran,  ketinggian, keluasan, dan keindahannya, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya seperti matahari, bulan, bintang-bintang dan para malaikat, dan bumi beserta segala apa yang ada padanya seperti gunung-gunung, lautan, daratan, gurun, pohon-pohon dan lain-lain.

Semua itu Dia ciptakan dengan benar. Maksudnya, Dia tidak menciptakannya dengan sia-sia atau tidak berguna, atau tidak bermanfaat. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Dan juga Allah Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya :

رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Q.S Ali Imran 191).

Ketahuilah bahwa ada orang cerdas dan bijak memberi nasehat : Jangan anggap dirimu tidak berguna. Sungguh, tidak mungkin Allah Ta'ala menciptakan kamu menjadi makhluk yang sia sia. Ingatlah, DEBU YANG HALUS PUN  masih bermanfaat untuk tayamum.

Wallahu A'lam. (3.712).