Rabu, 18 Februari 2026

JUMLAH IBADAH SUNNAH LEBIH BANYAK DIBANDING IBADAH WAJIB

JUMLAH  IBADAH SUNNAH LEBIH BANYAK DIBANDING IBADAH WAJIB

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala telah menetapkan ada beberapa ibadah fardhu atau wajib yang dibebankan kepada hamba hamba-Nya. Diantaranya adalah shalat fardhu, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat harta dan berkunjung ke Baitullah untuk ibadah haji.

Selain itu sangat banyak ibadah sunnah yang disyariatkan diantaranya adalah shalat sunnah yang banak jenisnya, puasa  sunnah, memberi infak dan sedekah, berkunjung ke Batullah untuk ibadah Umrah dan juga banyak yang lainnya.

Lalu kenapa ada ibadah yang wajib dan ada pula ibadah yang tidak wajib. Itu adalah karena :

Pertama : Tanda kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Kita diperintahkan melakukan yang wajib tapi diberi pula kesempatan untuk mendapatkan tambahan pahala melalui amalan amalan sunnah sehingga kita bisa mendapat kedudukan yang semakin tinggi disisi Allah dengan ibadah ibadah sunnah.

Kedua : Sangatlah besar kemungkinan amalan wajib yang kita lakukan banyak kekurangannya. Lalu Allah beri kesempatan untuk menutup kekurangan itu dengan amalan yang tidak wajib atau amalan amalan sunnah.  

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak?

Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (H.R Imam Ahmad, Abu Daud dan at Tirmidzi)

Selain itu ketahuilah bahwa setiap amalan yang dilakukan seorang hamba akan diberikan ganjaran berupa pahala yang banyak. Selain itu amalan yang kita lakukan juga bermanfaat untuk menghapus dosa.

Ada satu riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menyebutkan bahwa  pada suatu kali : “Ada seorang laki-laki yang pernah mencium seorang wanita (yang tidak halal baginya), lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut. 

Lalu Allah azza wa jalla menurunkan firman-Nya: “Dan dirikanlah shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan perbuatan yang buruk. (Q.S Hud 114).

Kemudian orang itu bertanya : Ya Rasulullah, apakah ini khusus untukku? Beliau menjawab: Untuk umatku seluruhnya. (H.R Imam Bukhari)

Dan juga, diantara keutamaan melakukan amalan amalan sunnah yang tidak diwajibkan adalah sebagai pendekatan diri kepada Allah Ta’ala sehingga mendatangkan kecintaan-Nya.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya.

Nah, ketika seorang hamba mendapat  kecintaan Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala  akan memberi jika dia meminta dan Allah Ta’ala akan membimbing pendengaran, penglihatan dan semua gerak dan langkahnya. Dalam satu hadits qudsi disebutkan :

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dengannya dia mendengar, menjadi penglihatannya, yang dengannya dia melihat, menjadi tangannya yang dengannya dia memukul dan menjadi kakinya yang dengannya dia melangkah.

Jika dia meminta kepada-Ku maka Aku memberinya. Dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku maka Aku akan melindunginya”. (H.R Imam Bukhari).

Wallahu A'lam. (3.638).

 

 

  

Selasa, 17 Februari 2026

TIDAK MENYEMPURNAKAN RUKUK DAN SUJUD SEPERTI MENCURI DALAM SHALAT

 

TIDAK MENYEMPURNAKAN RUKUK DAN SUJUD SEPERTI MENCURI DALAM SHALAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 

Mencuri atau mengambil harta orang lain tanpa hak adalah sangat tercela dalam syariat Islam. Hukumannya sangatlah berat yatu mendapat  laknat dan  dipotong tangan. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 

لَعَنَ اللَّهُ السَّارِقَ ، يَسْرِقُ الْبَيْضَةَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ ، وَيَسْرِقُ الْحَبْلَ فَتُقْطَعُ يَدُهُ

Allah melaknat pencuri yang mencuri sebutir telur lalu tangannya dipotong, begitu pula mencuri tali lalu tangannya dipotong. (HR. Bukhari no. 6783 dan Muslim

Tetapi ada pula mencuri yang lebih berat lagi aklibatnya yaitu mencuri dalam shalat.

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  telah mengingatkan  bahwa yang tidak tuma’ninah dalam shalat disebut sebagai sejahat jahat pencuri dalam shalat. Beliau bersabda :

 أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُوْدَهَا أَوْ قَالَ: لَا يُقِيْمُ صُلْبَهُ فِى الرُّكُوْعِ وَالسُّجُودِ.  

Sejahat jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya. Mereka (para sahabat) bertanya : Bagaimana dia mencuri dalam shalatnya ? Beliau menjawab : (Dia)  tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. (H.R  Imam Ahmad, lihat Shahihul Jami’). 

Jadi orang yang tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya atau tidak tuma’ninah karena shalat dengan tergesa gesa  disebut Rasulullah sebagai  pencuri dalam shalat.

Tuma'ninah adalah tenang sejenak setelah semua anggota badan berada pada posisi sempurna ketika melakukan suatu gerakan rukun shalat. Diantara makna lain dari  tuma’ninah adalah memberikan hak kepada setiap gerakan shalat secara sempurna.

Tuma'ninah ketika rukuk berarti tenang sejenak setelah rukuk sempurna. Tuma’ninah setelah i’tidal berarti tenang sejenak pada saat i’tidal sebelum sujud.Tuma’ninah ketika sujud berarti tenang sejenak setelah sujud sempurna dan juga harus tuma’ninah pada setiap perpindahan satu gerakan kepada gerakan lain.

Nah, ketika seseorang shalat dengan tergesa gesa yang dilalaikan biasanya adalah tuma’ninah. Padahal tuma’ninah yang mendatangkan khusyu’ dalam shalat sulit untuk dicapai jika shalat tergesa gesa.

Dan ketahuilah bahwa tuma'ninah adalah termasuk rukun  dalam shalat, Ketika hal ini diabaikan maka shalat bisa tidak bernilai atau bisa jadi sangat rendah nilainya.

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah menjaga nilai shalatnya termasuk menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Sungguh shalat adalah amalan yang pertama kali dihisab kelak di negeri akhirat. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :  

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَوَّلُ مَا يُـحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ لَهُ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda : Perkara yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik, maka seluruh amalnya pun baik. Apabila shalatnya buruk, maka seluruh amalnya pun buruk. (H.R ath Thabrani).

Wallahu A'lam. (3.667).

Minggu, 15 Februari 2026

BERAPA RAKAATPUN SHALAT TARAWEH TETAP MENJAGA TUMA'NINAH

 

BERAPA RAKAATPUN SHALAT TARAWEH TETAP MENJAGA TUMA'NINAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ulama yang mumpuni ilmunya termasuk imam madzhab besepakat bahwa shalat taraweh bisa dilakukan minimal dua rakaat, boleh dilakukan 11 rakaat termasuk witir sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Salalallahu 'alaihi Wasallam. Dan juga boleh lebih dari itu misalnya 23 rakaat termasuk witir. Diantara dalilnya adalah sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  :

وَعَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا : أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : صَلاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَأَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Shalat malam itu dua rakaat salam, dua rakaat salam. Maka apabila engkau takut masuk waktu Shubuh, hendaklah melakukan witir satu rakaat. (Muttafaqun ‘alaih)

 

Tetapi berapapun jumlah rakaat shalat lail atau shalat taraweh yang dilakukan maka hamba hamba  TETAP MENJAGA TUMA'NINAH karena tuma'ninah termasuk rukun dalam shalat. Perhatikanlah satu hadits tentang seorang yang shalat lalu disuruh mengulang shalatnya oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam sampai tiga kali karena mengabaikan tuma’ninah.

Abu Hurairah berkata : “Sesungguhnya Nabi Salallahu ‘alaihi wasallam masuk masjid lalu seorang juga (masuk masjid) dan shalat. Kemudian dia datang kepada Nabi seraya mengucapkan salam, lalu Nabi membalas salamnya dan beliau bersabda : Kembalilah lalu lakukanlah shalat karena kamu belum shalat !.  Ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Lalu orang itu berkata : Demi Allah yang mengutusmu membawa kebenaran !. Saya tidak bisa shalat lebih baik dari itu, maka ajarilah aku !. Beliau bersabda : Apabila kamu ingin shalat maka bertakbirlah kemudian bacalah yang mudah bagimu dari al Qur-an kemudian rukuklah sampai kamu thuma’ninah (tenang) dalam keadaan rukuk.

Kemudian sujudlah sampai kamu thuma’ninah dalam keadaan rukuk dan sujud. Lalu bangkitlah dari sujud sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan duduk. Kemudian sujudlah kembali sampai kamu tuma’ninah dalam keadaan sujud Berbuatlah seperti itu dalam shalat kamu seluruhnya”  (Mutafaqun ‘alaihi).

Oleh karena itu jangan mengabaikan tuma'ninah karena  ingin mengejar atau mendapat jumlah rakaat yang banyak dalam shalat taraweh.

Selain itu ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau :


أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا

Sejahat jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya. Mereka (para sahabat) bertanya : Bagaimana dia mencuri dalam shalatnya ? Beliau menjawab : (dia)  tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya. (H.R  Imam Ahmad, lihat Shahihul Jami’).

Bahkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda tentang pencuri yang jelek ini dalam sabda beliau : “Lai maata haadzaa ‘alaa maa huwa ‘alaihi maata ‘alaa ghairi millati Muhammad” Kalau orang ini mati dengan kondisi shalat yang demikian, maka dia mati bukan di atas ajaran Muhammad” (H.R Abu Ya’la dan ath Thabrani, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Oleh karena itu hamba hamba  jangan mengabaikan tuma'ninah karena  ingin mengejar atau mendapat jumlah rakaat yang banyak dalam shalat taraweh.

Wallahu A'lam. (3.666). 

 

 

 

 

 

 

 

 

ADA DIANTARA KAUM MUSLIMIN BERAGAMA SEKENANYA SAJA ??

 

ADA DIANTARA KAUM MUSLIMIN BERAGAMA SEKENANYA SAJA ??

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, di zaman ini diantara kaum muslimin ada  yang beragama sekenanya saja. Kalau shalat sering lalai bahkan bolong bolong. Kalau berhijab sekedarnya saja, tidak sempurna. Bahkan kalau berpuasa dan shalat taraweh hanya di pekan pertama bulan Ramadhan saja.  

Ini tentu termasuk perkara  yang harus diperbaiki oleh yang bersangkutan. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan dalam firman-Nya :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Wahai orang-orang yang beriman !.  Masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu (Q.S al Baqarah 208).

Dalam Kitab Tafsir al Muyassar disebutkan : Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah sebagai Rabb dan kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, serta kepada Islam sebagai agama. Masuklah ke keseluruh ajaran syariat Islam dengan mengamalkan seluruh hukumnya.

Dan jangan kalian tinggalkan barang sedikitpun darinya, dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan syaithan, berupa maksiat maksiat yang iya mengajak kalian kepadanya. sesungguh nya syaithan itu musuh yang nyata permusuhan nya kepada kalian, maka berhati-hatilah terhadap nya. (Dept. Agama Saudi Arabia).

Tetapi kalau dikatakan kepada orang yang menjalankan agama sekenanya saja maka sering dijawab : KAN TIDAK ADA PAKSAAN DALAM AGAMA. 

Ketahuillah bahwa kalimat tidak ada paksaan dalam agama adalah firman Allah Allah Ta'ala :


لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
 ۚ 

Tidak ada paksaan untuk fiddin. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Q.S al Baqarah 256).

Tetapi ketahuilah bahwa ayat ini DITUJUKAN UNTUK ORANG YANG TIDAK BERAGAMA ISLAM. Imam Ibnu Katsir   menukil perkataan Ibnu Abbas meriwayatkan tentang seorang sahabat Anshar dari Bani Salim bin ‘Auf yang memiliki dua orang anak laki laki. Kedua anaknya ini beragama Nasrani. Lalu sahabat Anshar ini datang kepada Rasulullah bertanya : Ya Rasulullah, bolehkah aku memaksa kedua anakku (untuk masuk Islam) karena mereka beragama Nasrani.

Lalu turun ayat 256 dari surat al Baqarah. Allah berfirman “Tidak ada paksaan untuk (masuk) agama (Islam).  Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang  sesat.”. (Tafsir Ibnu Katsir).

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah berusaha sungguh sungguh memegang dan mengamalkan Islam ini secara keseluruhan, jangan sekenanya. Insya Allah mendatangkan keselamatan di dunia dan di akhirat kelak.

Wallahu A'lam. (3.665).

 

 

  

Sabtu, 14 Februari 2026

SETIAP HAMBA BETUL BETUL INGIN AGAR IBADAHNYA DITERIMA

 

SETIAP HAMBA BETUL BETUL INGIN AGAR IBADAHNYA DITERIMA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, ibadah atau amal shalih yang dilandasi iman adalah modal paling utama setiap hamba Allah untuk menghadapi alam  barzakh atau alam kubur, hari akhirat dan mendapatkan surga. Banyak sekali firman Allah yang menjelaskan bahwa amal shalih dilandasi iman akan mengantarkan surga. Diantaranya adalah firman Allah Ta'ala :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ

Sungguh, orang orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka akan mendapat surga yang mengalir dibawahnya sungai sungai. Itulah kemenangan yang agung. (Q.S al Buruj 11).

Oleh karena itu hamba hamba Allah akan terus berusaha dan tidak pernah merasa berat melakukan amal shalih dengan sebaik baiknya  sebagaimana yang disyariatkan. Dan sungguh tidak ada khilaf dikalangan ulama bahwa amal yang baik adalah memenuhi dua syarat paling utama yaitu :

Pertama : Beribadah dengan ikhlas.

Beribadah dengan ikhlas, yaitu melakukan suatu amalan semata mata untuk mencari ridha Allah Ta’ala. Diantara dalil dalam perkara ini adalah firman-Nya : 

إِنَّآ أَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلْكِتَٰبَ بِٱلْحَقِّ فَٱعْبُدِ ٱللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ ٱلدِّينَ

Sesusungguhnya Kami menurunkan kitab (al Qur an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya (Q.S az Zumar 2).

Syaikh as Sa’di berkata : Tuluskanlah kepada Allah semua agamamu, baik berupa syariat yang nampak dan syariat yang tidak nampak, yaitu Islam, Iman dan Ihsan, dengan cara meng-Esakan Allah dengannya. Dan juga dengan niat mengharapkan keridhaanNya, bukan niat niat apapun selainnya. (Tafsir Karimir Rahman).

Allah Ta'ala berfirman :  

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

Pada hal mereka hanya diperintahkan menyembah llah dengan ikhlas mentaati-Nya semata mata karena (menjalankan) agama. (Q.S al Baiyinah 5).

Kedua : Ittiba' yaitu mencontoh atau mengikuti  apa yang diajarkan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam.

Diantara dalilnya adalah sebagaimana sabda Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam : 

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami maka (amalannya) tertolak. (H.R Imam Muslim).

Berkata al Hafizh Ibnu Rajab al Hambali : Hadits ini secara konteks menunjukkan bahwa setiap amalan yang tidak ada perintah syar’i di dalamnya maka amalan tersebut ditolak. Sebaliknya dapat dipahami pula bahwa setiap amalan yang ada perintahnya maka amalan tersebut diterima. Maksud perintah  disini adalah agama dan syariatnya.

Oleh karena itu hamba Allah yang betl betul ingin ibadahnya diterima dan bernilai di sisi Allah LAKUKANLAH IBADAH DENGAN IKHLAS DAN MUTABA'AH YAITU MENGIKUTI CARA YANG DIAJARKAN RASULULLAH SALALLAHU 'ALAIHI WASALLAM.

Wallahu Alam. (3.664). 

 

Minggu, 08 Februari 2026

BERUSAHALAH TETAP BERSEDEKAH MESKIPUN SEDANG KEKURANGAN

 

BERUSAHALAH TETAP BERSEDEKAH MESKIPUN SEDANG KEKURANGAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sebagian saudara saudara kita menganggap  berat untuk bersedekah karena merasa dirinya orang berkekurangan. Mereka khawatir kalau disedekahkan uangnya berkurang. Tetapi sungguh Allah Ta'ala akan mengganti bahkan dengan lebih banyak dari yang dikeluarkan untuk berinfak atau sedekah. Allah Ta'ala berfirman :


مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki dan Allah Mahaluas dan Maha Mengetahui.(Q.S al Baqarah 261).

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala mengajarkan untuk berinfak atau bersedekah dalam keadaan sempit atau lapang yaitu sebagaimana firman-Nya :


الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Orang yang bertakwa adalah) orang yang menafkahkan hartanya dalam  KEADAAN LAPANG ATAU DALAM KEADAAN SEMPIT, menahan amarahnya dan suka memaafkan kesalahan manusia. Dan Allah menyukai orang orang yang berbuat baik. (Q.S Ali Imran 134).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dalam sabda beliau bahwa sedekah paling utama adalah sedekah orang yang tidak memiliki banyak harta  :

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَ ابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ

Sedekah yang paling utama adalah sedekahnya orang yang kekurangan, dan mulailah dari orang yang kamu tanggung. (HR. Abu Dawud, Imam Ahmad, Hakim dan yang selainnya, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Ketahuilah bahwa ketika seseorang berinfak sedikit karena begitulah kemampuannya maka nilainya di sisi Allah bisa lebih besar dari infak dalam jumlah banyak karena seseorang memiliki harta berlimpah. Keadaan ini dijelaskan Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ قَالُوا وَكَيْفَ قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا

Satu dirham mengungguli seratus ribu dirham. Seorang bertanya : Bagaimana itu (terjadi) wahai Rasulullah ?. Beliau menjawab : Seseorang mempunyai harta yang melimpah lalu dia mengambil dari kantongnya seratus ribu dirham lalu menyedekahkannya, dan seseorang yang lain hanya memilik dua dirham, dia mengambil satu dirham lalu  mensedekahkannya. (H.R Imam an Nasa-i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam shahihnya).

Muawiyah radiallahu 'anhu memberi nasehat tentang bersedekah, beliau berkata : Bersedekahlah, janganlah seseorang dari kalian mengatakan bahwa aku orang berkekurangan, karena sesungguhnya sedekahnya orang yang berkekurangan adalah LEBIH UTAMA daripada sedekahnya orang kaya. (Siyar A'lam an Nubala). 

Oleh karena itu hamba  Allah tetaplah bersedekah meskipun sedang merasa kekurangan. Sungguh, Allah Ta'ala akan memberi ganti dengan yang lebih banyak sebagaimana firman-Nya dalam surat al Baqarah ayat 261 yang tersebut diatas.

Wallahu A'lam. (3.663)    

 

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu, 07 Februari 2026

SATU LANGKAH MENGHAPUS DOSA SATU LANGKAH MENGANGKAT DERAJAT

 

SATU LANGKAH MENGHAPUS DOSA SATU LANGKAH MENGANGKAT DERAJAT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala mengingatkan bahwa hamba hamba Allah, laki laki shalat bersama sama di masjid. Allah Ta'ala berfirman :


وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah bersama orang orang yang rukuk, (Q.S al Baqarah 43).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat ini bahwa : Hendaklah kalian bersama orang orang beriman dalam berbagai perbuatan mereka yang terbaik. Dan yang paling utama dan sempurna dari semua itu adalah shalat. Dan banyak ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil bagi diwajibkannya shalat berjamaah. (Lihat Kitab Tafsir al Qur’an al ‘Azhim).

Ibnul Qayyim al Jauziyah berkata : Makna firman Allah rukuklah beserta orang-orang yang rukuk, faedahnya yaitu tidaklah dilakukan (shalat fardhu) kecuali bersama jamaah yang shalat dan bersama-sama. (Ashalatu wa Hukmu Tarikiha)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di  menjelaskan : “Dan rukuklah bersama orang yang rukuk” maksudnya shalatlah bersama orang orang yang shalat. Dalam hal ini ada suatu perintah untuk shalat berjamaah dan kewajibannya.

Syaikh as Sa’di melanjutkan : Bahwasanya rukuk itu merupakan rukun diantara rukun rukun shalat, karena Allah menyebutkan shalat dengan kata rukuk sedangkan mengungkapkan suatu ibadah dengan kata yang merupakan bagian darinya adalah menunjukkan kepada wajibnya hal itu padanya. (Lihat Kitab Tafsir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  senantiasa shalat berjamaah di masjid bersama para sahabat. Dan kita sebagai pengikut beliau haruslah berusaha dengan sungguh sungguh untuk  melazimkannya pula sebagaimana yang dicontohkan beliau. Beliau bersabda :          

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي   

Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. (H.R Imam Bukhari).

Untuk memenuhi kewajiban shalat berjamaah di masjid maka hamba hamba Allah mestilah keluar dari rumah berjalan ke masjid di setiap waktu shalat wajib yaitu lima kali sehari semalam.

Sepintas mungkin terasa capek karena terus menerus setiap waktu shalat harus berjalan ke masjid. Tetapi ketahuilah bahwa bagi hamba hamba Allah yang ingin memenuhi perintah Allah Ta'ala dan  mencari ridha-Nya dan ingin mendekatkan diri kepada Rabb-Nya tidaklah  merasa berat berjalan kaki pergi ke masjid di setiap waktu shalat.

Apalagi dalam hal ini Allah Ta'ala menjanjikan hadiah yang besar yaitu satu langkah penghapus dosa dan satu langkah mengangkat derajat ketika berjalan ke masjid untuk shalat fardhu. Dalam perkara ini, Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah menjelaskan :

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً  

Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berangkat ke rumah Allah untuk menunaikan kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkah kakinya menghapuskan kesalahan dan yang lainnya mengangkat derajat. (H.R Imam Muslim)

Wallahu A'lam. (3.662)