Rabu, 07 Januari 2026

ORANG BERIMAN TIDAK MENGELUH DAN MERINTIH JIKA MENGALAMI SAKIT

 

ORANG BERIMAN TIDAK MENGELUH DAN MERINTIH JIKA MENGALAMI SAKIT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, orang orang beriman akan diuji dirinya, keluarganya, hartanya dan yang lalinnya. Sungguh, Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam firman-Nya :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, KAMI TELAH BERIMAN DAN MEREKA TIDAK DIUJI ?. Dan sungguh Kami telah menguji orang orang sebelum mereka maka Allah pasti mengetahui orang orang yang benar dan pasti mengetahui orang orang yang berdusta. (Q.S al Ankabut 2-3).

Diantara ujian berupa musibah yang terkadang mendatangi orang orang beriman adalah DIDATANGI PENYAKIT baik yang berat maupun yang ringan. Dalam hal ini tentu terasa tidak menyenangkan dari segala segi. Namun demikian orangorang beriman sangat dianjurkan untuk tidak mengeluh apalagi merintih tersebab sakitnya.

Ketahuilah bahwa  ketika didatangi ujian berupa musibah berupa sakit maka paling utama yang harus dikedepankan adalah sifat sabar yaitu menerima dengan lapang hati dan meyakinkan diri seyakin yakinnya bahwa Allah Ta'ala akan memberikan kebaikan bagi hamba hamba-Nya.

Sungguh sangat banyak kebaikan yang akan mendatangi hamba hamba Allah yang diuji dengan penyakit, TERUTAMA SEKALI  SEBAGAI PENGHAPUS DOSA. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضِ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتُهُ كَمَا تَحَطَّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sakitnya itu, sebagaimana sebatang pohon yang menggugurkan daun-daunnya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Dan juga satu hadits dari Jabir bin Abdullah menyebutkan bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

مَا يَمْرَضُ مُؤْمِنٌ وَلاَ مُؤْمِنَةٌ وَلاَ مُسْلِمٌ وَلاَمُسْلِمَةٌ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِذلِكَ خَطَايَاهُ كَمَا تَنْحَطُّ الْوَرَقَةُ مِنَ الشَّجَرِ

Tidaklah sakit seorang mukmin, laki-laki dan perempuan, dan tidaklah pula dengan seorang muslim, laki-laki dan perempuan, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan hal itu, sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohon. (H.R Imam Ahmad).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa cobaan, penyakit, kesulitan, kesedihan, gangguan, tidak pula gundah gulana, sampai kiranya duri yang menusuknya, melainkan Allah akan jadikan sebagai penghapus dari kesalahannya (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Selain itu ketahuilah bahwa paling tidak ada lima perkara  yang  ditarik Allah ketika seorang diuji dengan sakit. (1) Selera makan berkurang bahkan hilang. (2) Keceriaan dan kegembiraan hilang. (3) Semangat dan tenaga secara fisik juga hilang. (4) Kemampuan beraktivitas sehari hari juga hilang. (5) DOSA DOSA JUGA HILANG. 

Selanjutnya, ketika Allah menyembuhkannya maka Allah mengembalikan apa yang telah Dia tarik dari diri seseorang ketika dia  sakit.  Selera makan dikembalikan.  Kegembiraan dan keceriaan dikembalikan.  Semangat dan tenaga secara fisik juga dikembalikan. Kemampuan untuk beraktivitas sehari hari juga dikembalikan lagi. TAPI DOSA TAK DIKEMBALIKAN.

JADI, DIANTARA LIMA PERKARA YANG TIDAK DIKEMBALIKAN KEPADA SESEORANG YANG TELAH SEMBUH DARI PENYAKITNYA ADALAH  DOSANYA karena telah dihapus.

Wallahu A'lam. (3.649).

 

Jumat, 02 Januari 2026

ORANG BERIMAN SELALU BERADA DALAM KEBAIKAN

 

ORANG BERIMAN SELALU BERADA DALAM KEBAIKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, orang orang   beriman yang benar imannya dan melakukan amal shalih akan  senantiasa  berada dalam kebaikan. Allah Ta'ala berfirman :


مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal saleh, laki laki atau perempuan sedangkan dia beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an Nahal 97).

Tentang  surat  an Nahal 97 ini, Syaikh as Sa’di berkata : Firman Allah Ta’ala : “Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. Maksudnya : Dengan memberikan KETENANGAN HATI DAN KETENTERAMAN JIWA serta tidak menoleh kepada objek yang mengganggu hatinya dan Allah Ta’la memberinya rizki yang halal dari arah yang tak disangka sangka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Selain itu ketahuilah bahwa orang orang beriman senantiasa merasa tenang dalam menjalani kehidupannya karena ketika didatangi ujian berupa musibah maka mereka SANGAT PAHAM  bahwa itu adalah kehendak Allah Ta'ala yaitu sebagaimana firman-Nya :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad). Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakallah orang orang yang beriman. (Q.S at Taubah 51).

Dan juga orang orang beriman SANGAT PAHAM bahwa ketika didatangi ujian berupa musibah, diantaranya :

= Tidak  merasa cemas tersebab kekurangan harta, karena rizki setiap hamba telah dijamin oleh Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya :


وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ


Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) dibumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Q.S Hud 6.

Untuk mendapatkan rizki itu manusia memang harus berusaha. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menyebutkan perumpamaan tentang bagaimana burung keluar dari sarangnya dan berusaha  mencari rizki bagi dirinya. Beliau bersabda : 

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut PERGI PADA PAGI HARI dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang. (H.R Imam Ahmad, Ibnu Majah, at Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

= Tidak merasa berat dan mengeluh ketika didatangi penyakit, karena bisa besabar sehingga penyakitnya menjadi penghapus dosa dan meninggikan derajat. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa cobaan, penyakit, kesulitan, kesedihan, gangguan, tidak pula gundah gulana, sampai kiranya duri yang menusuknya, melainkan Allah akan jadi sebagai penghapus dari kesalahannya (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنّ َّ الرَّجُلَ تَكُونُ لَهُ المَنزِلَةُ عِندَ اللهِ فَمَا يَبلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ يَبتَلِيهِ بِمَا يَكرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ ذَلِكَ

Sesungguhnya seorang hamba akan memperoleh kedudukan di sisi Allah bukan karena  amal semata, namun, senantiasa dirinya memperoleh ujian dengan perkara yang tidak disenanginya (diantaranya didatangi penyakit) hingga sampai (dia diangkat)  pada derajat yang tinggi. (H.R Ibnu Hibban, al Hakim, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Oleh karena itu hamba hamba Allah selalu menjaga imannya agar tetap kokoh. Ingatlah bahwa iman bisa turun bisa naik. Iman naik karena ketaatan  dan imam turun bahkan bisa hilang karena maksiat.

Wallahu A'lam. (3.648)

 

 

  

 

 

Selasa, 30 Desember 2025

TETAP MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN KERABAT ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT.

 

TETAP MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN KERABAT ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT.

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 Ketika orang tua kita masih hidup  tentulah mempunyai teman atau kerabat. Lalu ketika orag tua sudah wafat maka anak anaknya sangat dianjurkan melanjutkan hubungan kekerabatan dengan mereka. Ini adalah salah satu cara berbakti kepada orang tua yang sudah wafat.

Tentang perkara ini,  kita bisa belajar dari apa yang dilakukan Abdullah bin Umar. Dikisahkan bahwa setelah Umar bin Khaththab, ayahnya Abdullah bin Umar wafat, pada suatu waktu ada seorang Arab Badui lewat di sebuah jalan di Makkah. Ibnu Umar memberi salam kepadanya.

Lalu mempersilahkan orang Badui tersebut naik ke atas himar (keledai) yang dia tungggangi. Kemudian dipakaikan imamah (sejenis sorban) diatas kepala orang Badui itu.

Berkata Ibnu Dinar : Wahai Ibnu Umar, semoga Allah memperbaiki urusanmu, mengapa engkau berbuat seperti itu kepada orang Badui tersebut.

Ibnu Umar menjawab : Sesungguhnya ayah orang ini dahulu adalah sahabat karib ayahku dan sungguh aku mendengar Nabi pernah bersabda : 

 

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

 

Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik bapaknya.  (H.R Imam Muslim).

Oleh sebab itu tetaplah pelihara dan teruskan hubungan baik  dengan saudara dan kerabat orang tua kita yang sudah wafat. Jika ini kita lakukan maka berarti kita telah menghidupkan dan mengamalkan sunnah Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam.

Ketahuilah saudaraku, ketika seorang hamba menghidupkan sunnah Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  maka  dia sangat beruntung. Sungguh  salah satu cara mencintai beliau dan AKAN BERSAMA BELIAU DI SURGA adalah dengan menghidupkan sunnah, sebagaimana sabda :

 من أحيا سنتي فقد أحبني ومن أحبني كان معي في الجنة .

Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku maka dia telah mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku maka dia akan bersamaku di surga. (H.R at Tirmidzi).

Wallahu A'lam. (3.647)

KEUTAMAAN ISTIQAMAH DALAM AMALAN SUNNAH

 

KEUTAMAAN ISTIQAMAH DALAM AMALAN SUNNAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hamba hamba Allah sudah memastikan dirinya untuk ISTIQAMAH YAITU TERUS MENERUS  MENGAMALKAN IBADAH WAJIB sebagaimana perintah syariat. Lalu bagaimana dengan amalan sunnah yaitu yang tidak wajib ?.

Ketahuilah bahwa juga SANGAT DIANJURKAN untuk melakukan atau mengamalkan ibadah sunnah. Sungguh sangat banyak keutamaan mengamalkan ibadah sunnah. Diantaranya adalah :

Pertama : Ibadah sunnah menutup kekurangan ibadah wajib. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :


 قاَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 : إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.

Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah ‘Azza wa Jalla  berfirman : Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya. (H.R at Tirmidzi dan an Nasa’i,  dishahihkan oleh al Hafizh Abu Thahir).

Kedua : Mendatangkan petunjuk dan kecintaan Allah Ta’ala.

Sungguh kita sangat berharap datangnya kecintaan dan petunjuk dari Allah Ta’ala. Tentang perkara ini, sungguh Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa Sallam memberi petunjuk kepada umatnya, sebagaimana sabda beliau : 

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Aku cintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya

Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya. (H.R Imam Bukhari).

Selain itu ketahuilah bahwa sungguh sangat dianjurkan untuk ISTIQAMAH, konsisten, kontinyu, terus menerus melakukan semua amalan termasuk amalan  sunnah, karena :

Pertama : Dicintai Allah Ta'ala :

Sungguh, amalan yang sedikit jika dilakukan terus menerus akan mendatangkan cinta Allah Ta'ala.

Satu hadits yang diriwayatkan dari  dari A’isyah radhiallahu ‘anha, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

أَحَبَُ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinyu (terus menerus) dikerjakan walaupun sedikit. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Kemudian dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ عَلَيْكُمْ مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا وَإِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دُووِمَ عَلَيْهِ وَإِنْ قَلَّ

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu, walaupun sedikit. (H.R Imam Muslim).

Kedua : Tetap dihitung pahala ketika terhalang melakukan ibadah yang dilakukan secara istiqamah.

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat. (H.R Imam Bukhari)

Hadits ini menceritakan saat Yazid bin Abi Kabsyah puasa ketika safar, Abu Burdah lantas mengatakan padanya bahwa ia baru saja mendengar Abu Musa mengatakan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti yang disebutkan.

Ibnu Hajar berkata : Hadits di atas berlaku untuk orang yang ingin melakukan ketaatan lantas terhalang dari melakukannya. Padahal ia sudah punya niatan kalau tidak ada yang menghalangi, amalan tersebut akan DIJAGA RUTIN. (Fathul Bari).

Dan dari Abdullah bin Amr bin al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah sallam  shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda :

 

الْعَبْدَ إِذَا كَانَ عَلَى طَرِيقَةٍ حَسَنَةٍ مِنَ الْعِبَادَةِ ثُمَّ مَرِضَ قِيلَ لِلْمَلَكِ الْمُوَكَّلِ بِهِ اكْتُبْ لَهُ مِثْلَ عَمَلِهِ إِذَا كَانَ طَلِيقاً حَتَّى أُطْلِقَهُ أَوْ أَكْفِتَهُ إِلَىَّ

Seorang hamba jika ia berada pada jalan yang baik dalam ibadah, kemudian ia sakit, maka dikatakan pada malaikat yang bertugas mencatat amalan, “Tulislah padanya semisal yang ia amalkan rutin jika ia tidak terikat sampai Aku melepasnya atau sampai Aku mencabut nyawanya. (H.R Imam Ahmad).

Wallahu A'lam. (3.646)

 

  

 

   

Rabu, 24 Desember 2025

TAMBAH KOKOH IMAN TAMBAH BERAT UJIAN

 

TAMBAH KOKOH IMAN TAMBAH BERAT UJIAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Pada suatu waktu, ketika Allah Ta'ala  berkehendak setiap orang beriman pasti akan didatangi ujian berupa cobaan bagi dirinya, keluarganya, hartanya dan yang lainnya. Allah Ta'ala telah menjelaskan perkara ini dalam firman-Nya :


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, KAMI TELAH BERIMAN DAN MEREKA TIDAK DIUJI ?. Dan sungguh Kami telah menguji orang orang sebelum mereka maka Allah pasti mengetahui orang orang yang benar dan pasti mengetahui orang orang yang berdusta. (Q.S al Ankabut 2-3).

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa’di berkata : Allah Ta’ala mengabarkan tentang kesempurnaan hikmah-Nya. Dan  hikmah-Nya adalah  tidak memastikan bahwa SETIAP ORANG YANG MENGATAKAN DIRINYA SEORANG MUKMIN DAN MENGKLAIM IMAN BAGI DIRINYA UNTUK TETAP DALAM KONDISI SELAMAT DARI UJIAN DAN COBAAN. Tidak akan menghadapi hal hal yang mengganggu iman mereka atau cabang cabangnya.

Sebab, kalau perkaranya seperti itu, tentu tidak dapat dibedakan mana orang yang jujur (sejati) dan orang yang dusta (dalam keimanannya, peny.). Tidak (pula) dapat dibedakan antara orang yang berpegang kepada kebenaran dan orang yang berpegang kepada kebathilan. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Ketahuilah bahwa ujian akan mendatangi seorang hamba sesuai kadar atau keadaan imannya. Semakin kokoh imannya maka semakin berat pula ujian yang mendatanginya. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam menjelaskan dalam sabda beliau :

عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: «الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

Dari Mus’ab dari Sa’ad dari bapaknya, aku berkata: Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berat ujiannya ?. Kata beliau : Para Nabi, kemudian yang semisal mereka dan yang semisal mereka. Dan seseorang diuji sesuai dengan kadar dien (keimanannya). Apabila diennya kokoh, maka berat pula ujian yang dirasakannya; kalau diennya lemah, dia diuji sesuai dengan kadar diennya. (H.R at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Sungguh orang yang kokoh imannya akan menerima  ujian dengan sabar dan lapang dada karena dia SANGAT PAHAM bahwa   musibah  itu untuk menggugurkan dosa. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada dirinya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa. (H.R Imam Ahmad dan at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang shalih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar. (Al Istiqamah).

Imam Ibnu Katsir berkata : Seorang mukmin itu harus diuji harta dan jiwanya atau anak keturunan dan keluarganya. Seorang mukmin juga harus diuji tingkat keagamaannya. Jika agamanya kuat maka akan bertambah pula (berat) cobaan yang akan diterimanya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Al Munawi berkata :  Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya. (Faidhul Qadir).

Wallahu A'lam. (3.645) 

Selasa, 23 Desember 2025

PERBANYAK MEMOHON AMPUN JIKA UMUR SUDAH 60 ATAU LEBIH

 

PERBANYAK MEMOHON AMPUN JIKA UMUR SUDAH 60 ATAU LEBIH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Hakikatnya setelah baligh, setiap hamba mestilah selalu memohon ampun dalam setiap waktu dan keadaan. Kenapa ?, karena hamba hamba Allah sering tergelincir kepada maksiat dan dosa. Dalam satu hadits qudsi, Allah Ta'ala mengingatkan :

يَا عِبَادِى إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا فَاسْتَغْفِرُونِى أَغْفِرْ لَكُمْ

Wahai hamba-Ku !. sesungguhnya kalian berbuat dosa pada waktu malam dan siang, dan Aku mengampuni dosa-dosa itu semuanya, maka mintalah ampun kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian. (H.R Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa memohon ampun bukan hanya kewajiban orang orang berdosa atau baru saja berbuat dosa. Tetapi syariat Islam mengajarkan banyak memohon ampun meskipun baru selesai melakukan ibadah, diantara contohnya adalah :

Pertama : Setelah SELESAI shalat fardhu.

Bahwa diantara kalimat dzikir yang sangat dianjurkan untuk dibaca  setelah salam adalah DZIKIR SETELAH SHALAT FARDHU. Dzikir ini dilakukan setelah salam  DIMULAI DENGAN MEMBACA KALIMAT MEMOHON AMPUN TIGA KALI :  

أَسْتَغْفِرُ اللهَ , أَسْتَغْفِرُ اللهَ, أَسْتَغْفِرُ اللهَ

اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ.

Aku minta ampun kepada Allah, (dibaca tiga kali). Lantas membaca : Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dari-Mu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Rabb Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan. (H.R Imam Muslim).

Kedua : Setelah SELESAI menghadiri majlis ilmu

Tentang memohon ampun yaitu membaca doa kafaratul majlis ini telah diajarkan oleh Rasulullah dalam sabda beliau, yakni :

 

عَنْ أَبِى بَرْزَةَ الأَسْلَمِىِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ بِأَخَرَةٍ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ مِنَ الْمَجْلِسِ « سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ ». فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ لَتَقُولُ قَوْلاً مَا كُنْتَ تَقُولُهُ فِيمَا مَضَى. قَالَ « كَفَّارَةٌ لِمَا يَكُونُ فِى الْمَجْلِسِ ».

 

Dari Abu Barzah Al-Aslami, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di akhir majelis jika beliau hendak berdiri meninggalkan majelis, “Subhanakallahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaaha illa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaik.

(Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan AKU MEMOHON AMPUN DAN BERAUBAT KEPADA-MU).

Dalam sebuah hadits dijelaskan pula bahwa ada seseorang yang berkata pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Wahai Rasulullah, engkau mengucapkan suatu perkataan selama hidupmu. Beliau bersabda, “Doa itu sebagai penambal kesalahan yang dilakukan dalam majlis.” (H.R Abu Dawud dan Imam Ahmad).

Ketiga : Setelah SELESAI shalat dhuha.

Ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  memohon ampun dan bertaubat SETELAH SHALAT DHUHA, yaitu sebagaimana hadits dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat Dhuha, beliau mengucapkan :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

مائة مرة  حتى  قالها

Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.  

Sampai beliau membacanya seratus kali. (H.R Imam Bukhari dalam al Adab al Mufrad, Syaikh al Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih).

Keempat : Setelah SELESAI mengerjakan ibadah haji. Allah Ta'ala berfirman :

ثُمَّ أَفِيضُوا۟ مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ ٱلنَّاسُ وَٱسْتَغْفِرُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (dari Arafah) dan MOHONLAH AMPUN kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S al Baqarah 199).

Tentang ayat ini Syaikh as Sa'di antara lain berkata : Dan ketika bertolak, maksudnya adalah apa yang telah disebutkan dan hal-hal yang disebutkan pada akhir manasik, ketika telah selesai darinya, Allah memerintahkan untuk beristighfar dan banyak berdzikir kepada-Nya.

Istighfar tersebut untuk menutupi kekurangan yang terjadi pada seorang hamba dalam melaksanakan ibadahnya dan kelalaiannya padanya, sedangkan dzikir kepada Allah adalah wujud syukuran atas segala nikmat yang telah diberikan dengan taufik-Nya dalam melaksanakan ibadah yang agung dan karunia yang tak terkira tersebut.

Demikianlah seharusnya yang dilakukan seorang hamba setiap kali ia selesai dari suatu ibadah, sepatutnya ia beristighfar kepada Allah dari kelalaiannya dan bersyukur atas Taufik-Nya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Dari firman Allah dan hadits diatas kita mengambil pemahaman bahwa SETELAH SELESAI MELAKUKAN IBADAH sangat dianjurkan untuk MEMOHON AMPUN kepada Allah Ta'ala. 

Nah, oleh karena itu, ketika seorang hamba telah berumur 60 tahun atau lebih maka saat SELESAI DALAM MENJALANI HIDUP DI DUNIA sudah sangat dekat. Maka semestinya  TERUS MENERUS DAN MEMPERBANYAK MEMOHON AMPUN. Sungguh inilah kesempatan terakhir untuk memohon ampun kepada Allah Ta'ala sebelum wafat.     

Sebagai penutup tulisan ini dinukil dua hadits yang menyebutkan berita gembira bagi hamba hamba Allah yang banyak memohon ampun.

(1) Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

طُوْبَى ِلمَنْ وَجَدَ فِي صَحِيْفَتِهِ اسْتِغْفَارًا كَثِيْرًا.

Sangat beruntunglah orang orang yang menemukan pada catatan amalnya terdapat banyak istighfar. (H.R Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

(2) Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasalla bersabda : 

مَنْ أَحَبَّ أَنْ تَسُرَّهُ صَحِيْفَتُهُ ، فَلْيُكْثِرْ فِيْهَا مِنَ الْاِسْتِغْفَارِ

Barangsiapa yang ingin bahagia dengan catatan amalnya (pada hari Kiamat) hendaklah ia (banyak) beristighfar kepada Allah. (H.R ath Thabrani, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

 Wallahu A'lam. (3.644).