NIKMAT AIR SEGAR JUGA HARUS
DIPERTANGGUNG JAWABKAN
Disusun oleh : Azwir B. Chaniago
Ketika mendengar seseorang wafat maka kita dianjurkan
mengucapkan kalimat istirja' yaitu
innallihai wa inna ilaihi raji'un. Tetapi ketahuilah bahwa dibalik
kalimat istrija' ada pertanggung jawaban yang harus dihadapi yaitu kita akan
ditanya di akhirat kelak tentang semua nikmat yang telah kita terima di dunia. Allah Ta’ala berfirman :
ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ
يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ
Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu
tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (QS. At Takatsur: 8).
Mungkin kita melihat nikmat berupa air segar yang kita gunakan terutama untuk minum dan membersih badan adalah suatu yang terasa biasa biasa saja karena hakikatnya relatif mudah untuk mendapatkannya di zaman ini.
Tetapi ketahuilah bahwa nikmat air itu termasuk perkara YANG AKAN
DITANYAKAN PERTAMA KALI di akhirat kelak. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
إِنَّ أَوَّلَ مَا
يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ
يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ
Sungguh nikmat yang akan ditanyakan pada hamba PERTAMA
KALI pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan : Bukankah Kami telah
memberikan kesehatan pada badanmu dan telah memberikan padamu AIR YANG
MENYEGARKAN ?. (H.R at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani).
Kalau begitu, bagaimana nikmat nikmat lainnya yang
lebih besar seperti rumah mewah, mobil mewah, sawah ladang, kebun yang luas dan
banyak lagi yang lainnya. Semuanya pasti diminta pertanggung jawabannya
Ketahuilah bahwa dalam perkara rizki ada dua masalah yang perlu ditakutkan seorang hamba yaitu : (1) Apakah rizkiku didapat dengan cara yang halal atau syubhat atau haram. (2) Apakah aku mampu membelajakan rizkiku untuk yang halal di jalan yang Allah ridha. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
لَا
تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا
أَفْنَاهُ ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ
اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba ketika hari Kiamat kelak hingga ia ditanya : (1) Tentang umurnya untuk apa ia habiskan. (2) Tentang ilmunya untuk apa dia amalkan. (3) TENTANG HARTANYA DARI MANA DIA DAPATKAN DAN UNTUK APA DIA BELANJAKAN. (4) Tentang badannya untuk apa dia letihkan. (H.R Imam at Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Silsilah Hadits Shahih).
Oleh karena itu hamba hamba Allah tetaplah berusaha mencari atau mendapatkan rizki yang halal dan membelanjakan di jalan yang halal pula. Dengan demikian insya Allah tidak terlalu berat mempertanggung jawabkannya nati di akhhirat.
Wallahu A'lam. (3.731).