Rabu, 21 Januari 2026

ADA BEBERAPA JALAN UNTUK BISA BERSABAR

 

ADA BEBERAPA JALAN UNTUK BISA BERSABAR

 Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah sebenarnya ada cara yang dapat dilakukan agar bisa bersabar bahkan meningkatkan kesabaran seorang hamba, diantara adalah :

Pertama : Harus menyadari bahwa jika suatu musibah mendatangi seseorang maka apakah dia sabar menerima atau tidak, musibah itu sudah datang kepadanya dan itu adalah ketetapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman : 

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad) : Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakal-lah orang orang yang beriman. (Q.S at Taubah 51).

Selanjutnya, ketahuilah bahwa ketika ketetapan Allah berupa musibah datang  maka paling tidak ada dua keadaan dalam bersabar, yaitu :

(1) Jika seseorang bersabar maka akan mendapat pahala yang tidak terbatas.  Sulaiman bin Qashim berkata : Setiap amalan dapat diketahui ganjarannya kecuali kesabaran yang ganjarannya seperti air mengalir. Kemudian beliau membacakan firman Allah Ta’ala : 

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah  yang disempurnakan pahala mereka tanpa batas (Q.S az  Zumar 10)

Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Adapun kesabaran, pahalanya berlipat ganda tidak terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa ganjarannya sangat besar sekali hingga tak mungkin bagi seorang insan untuk membayangkan pahalanya karena tidak bisa dihitung dengan bilangan. 

Bahkan juga, pahala sabar termasuk pahala yang maklum diisi Allah tanpa bisa dibatasi. Tidak pula dapat disamakan dengan mengatakan satu kebaikan dilipat gandakan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Kesabaran itu pahalanya tanpa batas. (Syarah Riyadush Shalihin)

(2) Jika tidak bersabar maka berarti tidak suka pada apa yang telah  Allah takdirkan  atau dengan kata lain dia menolak takdir. Ujung-ujungnya adalah dosa. Sebab manusia harus menerima apapun yang telah Allah takdirkan baginya. Allah Ta’ala  berfirman :  

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.

Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri. (Q.S al Hadiid 22-23).

(3) Jika seseorang mendapat  ujian berupa musibah  maka sadarilah bahwa bukan dirinya saja yang pernah mendapat musibah bahkan banyak orang yang diuji dengan musibah yang sangat berat. Sungguh semua orang akan di uji dan itu sudah pasti. Allah Ta’ala berfirman  :  

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan  kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi ?. (Q.S al Ankabut 2).

(3) Harus yakin bahwa Allah telah menyediakan jalan keluar dari setiap kesulitan dan musibah. Allah Ta’ala berfirman :  

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S al Insyiraah 5-6).

Tentang ayat ini, Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : (Disamping kemudahan yang konkrit). Dan ada pula kemudahan maknawi. Yakni PERTOLONGAN ALLAH KEPADA SESEORANG UNTUK BERSABAR. Itu juga termasuk kemudahan. Apabila Allah menolongmu untuk bisa bersabar, maka menjadi ringanlah bagimu urusan urusan yang sulit.

Jadi kemudahan bukan hanya terangkatnya kesusahan secara keseluruhan saja, namun termasuk kemudahan adalah terangkatnya musibah dan kesulitan. Dan ini merupakan kemudahan yang bersifat nyata.  

(4) Harus benar benar yakin bahwa kita milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu bersabarlah jika mendapat musibah dan berdoalah agar diberi pahala dengan musibah. Dan juga   mohonlah kepada-Nya agar diberi ganti yang lebih baik.

Wallahu A'lam. (3.653)

Selasa, 20 Januari 2026

TEMPAT DI NEGERI AKHIRAT HANYA DUA YAITU SURGA ATAU NERAKA

 

TEMPAT DI NEGERI AKHIRAT HANYA DUA YAITU SURGA ATAU NERAKA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, semua manusia  yang hidup di dunia  dari manusia pertama sampai manusia terakhir PASTI AKAN KEMBALI KE NEGERI AKHIRAT. Di negeri akhirat Allah Ta'ala hanya menyediakan dua tempat yaitu surga atau neraka tidak ada tempat ketiga.

Ketika berada di dunia, kita semua SANGAT MENGINGINKAN mendapat tempat di surga yaitu tempat yang sangat nyaman, indah dan sangat menyenangkan. Lalu bagaimana dengan  neraka ?. Sungguh neraka adalah tempat paling buruk dan mendapat adzab.

Ketahuilah bahwa Allah Ta'ala telah menurunkan KITAB PETUNJUK  yang diturunkan MELALUI RASUL-NYA. Kitab petunjuk itu berisi penjelasan yang sangat lengkap tentang cara mendapatkan tempat di surga dan dijauhkan dari neraka. Dalam al Qur an ada penjelasan yang sangat lengkap untuk diikuti supaya  mendapatkan tempat di surga yaitu iman dan amal shalih. Allah Ta'ala berfirman :

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rizki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (Q.S al Baqarah 25).

Dan juga Allah Ta'ala berfirman :

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۖ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ ٱللَّهِ قِيلًا

Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai sungai. Mereka kekal di dalamnya selama lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah ?. (Q.S an Nisa' 122).

Oleh karena itu pelajarilah dan amalkanlah perintah Allah dalam al Qur an serta petunjuk Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  berupa sunnah sunnah beliau.

Melakukan amal shalih terkadang terasa berat tetapi ketika iman seseorang kokoh maka bisa dilakukan sesuai perintah Allah Ta'ala. Sungguh Allah Ta'ala telah mengingatkan bahwa hamba hamba Allah tidak akan dibebani melebihi kemampuannya. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan dalam firman-Nya

 لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (Q.S Al Baqarah 286)

Syaikh as Sa’di berkata : Allah memudahkan bagi mereka  syariat-Nya dengan sangat mudah. Allah tidak memberatkan mereka dengan kesulitan,  beban dan tambahan seperti yang diberikan kepada orang-orang sebelum mereka dan Allah tidak memberatkan melebihi kemampuan mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Namun demikian, ingatlah satu sabda Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam tentang surga dan neraka :


حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat. (H.R Imam Muslim)

Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu  akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa.

Begitu pula sebaliknya seseorang itu  akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. (Syarah Shahih Muslim).

Wallahu A'lam. (3.652)

 

 

 

      

Minggu, 11 Januari 2026

KEWAJIBAN MENJAGA KEBERSAMAAN SESAMA ORANG BERIMAN

 

KEWAJIBAN MENJAGA KEBERSAMAAN SESAMA ORANG BERIMAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Allah Ta'ala memerintahkan hamba-Nya untuk menjaga kebersamaan atau persaudaraan sesama orang beriman sebagaimana firman-Nya :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ  

Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai. (Q.S Ali Imran 103).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam juga dengan sangat jelas menyebutkan bagaimana seharusnya kebersamaan dan persaudaraan sesama orang beriman. Dari Abu Musa, dari Nabi Salallahu ‘alaihi wa salam, beliau bersabda : 

«الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا» وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

Orang mukmin yang satu dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu dengan yang lainnya saling mengokohkan. Kemudian beliau menganyam jari-jemarinya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ketahuilah bahwa hakikatnya kebersamaan dan persaudaraan orang beriman ditegaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :


إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Sesungguhnya orang beriman itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Q.S al Hujurat 10).

Selanjutnya ketahuilah bahwa  salah satu implementasi dari kebersamaan dan persaudaraan orang orang beriman adalah SALING TOLONG MENOLONG DALAM KEBAIKAN. Dan tentang tolong menolong diperintahkan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa. Dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat berat siksa-Nya. (Q.S al Maidah 2).

Imam Ibnu Katsir berkata : Maknanya adalah bahwa Allah Ta'ala memerintahkan hamba hamba-Nya yang beriman untuk senantiasa tolong menolong DALAM BERBUAT KEBAIKAN. Itulah yang disebut dengan al birru atau kebaikan. (Tafsir Ibnu Katsir).

Imam al Qurthubi  menjelaskan tentang  TA’AWUN yaitu tolong menolong yang dimaksud dalam surat al Maidah ayat 2 menyebutkan beberapa aplikasinya :

(1) Seorang berilmu menolong manusia dengan ilmunya.

(2) Seorang yang berharta menolong manusia dengan hartanya.

(3) Seorang pemberani menolong manusia dengan keberaniannya berjuang di jalan Allah dan yang lainnya. Masing masing orang membantu orang lain sesuai kapasitas dan kemampuannya. (Tafsir al Qurthubi)

Imam al Mawardi  berkata : Allah Azza wa Jalla mengajak untuk tolong-menolong dalam kebaikan dengan beriringan dengan ketakwaan kepada-Nya. Sebab dalam ketakwaan, terkandung ridha Allah Azza wa Jalla . Sementara saat berbuat baik, orang-orang akan menyukai (meridhai).

Barang siapa memadukan antara ridha Allah Azza wa Jalla dan ridha manusia, sungguh kebahagiaannya telah sempurna dan kenikmatan baginya sudah melimpah. (Tafsir al Qurthubi).

Tentang ayat 2 surat al Maidah yang berkaitan dengan tolong menolong dalam kebaikan, Syaikh as Sa'di berkata : Hendaknya sebagian kalian membantu sebagian yang lain dalam kebajikan. Kebajikan adalah nama yang mengumpulkan segala perbuatan,  baik lahir maupun bathin, baik hak Allah maupun hak manusia YANG DICINTAI DAN DIRIDHAI ALLAH TA'ALA.

Setiap perbuatan baik yang diperintahkan untuk dikerjakan atau perbuatan buruk yang diperintahkan untuk dijauhi, maka seorang hamba DIPERINTAHKAN UNTUK MELAKSANAKANNYA sendiri dan dengan bantuan dari orang lain dari kalangan saudara saudaranya yang beriman. Baik dengan ucapan atau perbuatan yang memacu atau mendorong kepadanya. (Tafsir Taisir Karimir Rahman, dengan diringkas).

Wallahu A'lam. (3.651).

 

 

Jumat, 09 Januari 2026

HAMBA ALLAH HARUS BERUSAHA MELAKUKAN AMALAN SUNNAH

 

HAMBA ALLAH HARUS BERUSAHA MELAKUKAN AMALAN SUNNAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Ketahuilah bahwa sungguh, dalam beribadah kepada Allah Ta'ala,   kita mengenal bentuk ibadah  yang sifatnya WAJIB ATAU FARDHU dan  YANG TIDAK WAJIB ATAU SUNNAH.

Diantara ibadah wajib seperti shalat fardhu lima kali sehari semalam dan puasa fardhu di bulan Ramadhan adalah ibadah yang dibebankan kepada kita yang telah baligh dan berakal. Jika dilalaikan mendatangkan dosa dan berbagai keburukan bahkan mendatangkan adzab di dunia, di barzakh dan di akhirat kelak.

Oleh karena itu hamba hamba Allah selalu bersungguh menjaga, memelihara dan mengamalkan IBADAH WAJIB SESUAI KEMAMPUAN. Dan juga dengan menjaga keikhlasan serta mutabaah yaitu mengikuti petunjuk Rasulullah Salallahu 'alai Wassallam dalam beribadah.

Lalu bagaimana dengan ibadah sunnah atau yang tidak diwajibkan, dalam hal ini ada beberapa perkara, diantaranya adalah meskipun tidak wajib tetapi sangatlah banyak saudara kita yang  bersemangat mengamalkannya seperti shalat sunnah rawatib, shalat dhuha, shalat lail. Dan juga puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, puasa ayyamulbidh dan ibadah umrah, bersedekah, berinfak dan yang lainnya.

Tetapi adapula saudara kita yang terkadang mengabaikan ibadah sunnah karena sifatnya tidak wajib. Bahkan adapula yang mengatakan jika tidak mengamalkan ibada sunnah tidak ada dosa padanya. Iya tidak ada dosa jika tidak mengamalkannya tetapi merugi karena tak mendapat banyak kebaikan dan keutamaan.

Sungguh sangatlah banyak keutamaan melakukan ibadah sunnah, diantaranya adalah melengkapi kekurangan pada amalan wajib. Perhatikanlah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna.

Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang  ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya. Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini. (H.R  Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Dalam riwayat Imam Ahmad dengan lafadz :

إِنَّ مِنْ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ ، قَالَ: يَقُولُ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ لِمَلَائِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ : انْظُرُو)ا فِي صَلَاةِ عَبْدِي أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا؟ فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً، وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا، قَالَ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ؟ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ، قَالَ: أَتِمُّوا لِعَبْدِي فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ، ثُمَّ تُؤْخَذُ الْأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ

Sesungguhnya perkara pertama kali yang dihisab pada hari kiamat dari amal manusia adalah shalat.” Rasulullah bersabda, “Allah Ta’ala berfirman kepada malaikat, dan Allah lebih mengetahui, “Periksalah shalat hamba-Ku, apakah sempurna atau ada kekurangan ?. Jika shalatnya sempurna, maka dicatat sempurna untuknya. Jika terdapat suatu kekurangan,

Allah Ta’ala berfirman, “Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki ibadah sunnah?” Jika seorang hamba memiliki amal ibadah sunnah, Allah Ta’ala berfirman, “Sempurnakanlah ibadah wajibnya dengan ibadah sunnahnya.” Lalu setiap amal akan diperlakukan sama seperti itu.  (H.R Imam Ahmad).  

Dua hadits ini mengingatkan bahwa amalan sunnah (seperti puasa sunnah) bisa menyempurnakan kekurangan yang ada pada puasa wajib sebagaimana halnya shalat dan amalan wajib lainnya. Oleh karena itu, jika  ingin amalan wajib kita disempurnakan, maka perbanyaklah amalan sunnah.

Namun demikian jangan salah paham, misalnya seseorang tidak berusaha melakukan ibadah wajib dengan sebaik mungkin karena bersandar  kepada ibadah sunnah yang akan melengkapi kekurangan ibadah wajib.

Wallahu A'lam. (3.650)

Rabu, 07 Januari 2026

ORANG BERIMAN TIDAK MENGELUH DAN MERINTIH JIKA MENGALAMI SAKIT

 

ORANG BERIMAN TIDAK MENGELUH DAN MERINTIH JIKA MENGALAMI SAKIT

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, orang orang beriman akan diuji dirinya, keluarganya, hartanya dan yang lalinnya. Sungguh, Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam firman-Nya :

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, KAMI TELAH BERIMAN DAN MEREKA TIDAK DIUJI ?. Dan sungguh Kami telah menguji orang orang sebelum mereka maka Allah pasti mengetahui orang orang yang benar dan pasti mengetahui orang orang yang berdusta. (Q.S al Ankabut 2-3).

Diantara ujian berupa musibah yang terkadang mendatangi orang orang beriman adalah DIDATANGI PENYAKIT baik yang berat maupun yang ringan. Dalam hal ini tentu terasa tidak menyenangkan dari segala segi. Namun demikian orangorang beriman sangat dianjurkan untuk tidak mengeluh apalagi merintih tersebab sakitnya.

Ketahuilah bahwa  ketika didatangi ujian berupa musibah berupa sakit maka paling utama yang harus dikedepankan adalah sifat sabar yaitu menerima dengan lapang hati dan meyakinkan diri seyakin yakinnya bahwa Allah Ta'ala akan memberikan kebaikan bagi hamba hamba-Nya.

Sungguh sangat banyak kebaikan yang akan mendatangi hamba hamba Allah yang diuji dengan penyakit, TERUTAMA SEKALI  SEBAGAI PENGHAPUS DOSA. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda : 

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضِ إِلَّا حَطَّ اللَّهُ بِهِ سَيِّئَاتُهُ كَمَا تَحَطَّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu musibah berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah akan menggugurkan dosa-dosanya dengan sakitnya itu, sebagaimana sebatang pohon yang menggugurkan daun-daunnya. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Dan juga satu hadits dari Jabir bin Abdullah menyebutkan bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

مَا يَمْرَضُ مُؤْمِنٌ وَلاَ مُؤْمِنَةٌ وَلاَ مُسْلِمٌ وَلاَمُسْلِمَةٌ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِذلِكَ خَطَايَاهُ كَمَا تَنْحَطُّ الْوَرَقَةُ مِنَ الشَّجَرِ

Tidaklah sakit seorang mukmin, laki-laki dan perempuan, dan tidaklah pula dengan seorang muslim, laki-laki dan perempuan, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan hal itu, sebagaimana bergugurannya dedaunan dari pohon. (H.R Imam Ahmad).

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa cobaan, penyakit, kesulitan, kesedihan, gangguan, tidak pula gundah gulana, sampai kiranya duri yang menusuknya, melainkan Allah akan jadikan sebagai penghapus dari kesalahannya (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Selain itu ketahuilah bahwa paling tidak ada lima perkara  yang  ditarik Allah ketika seorang diuji dengan sakit. (1) Selera makan berkurang bahkan hilang. (2) Keceriaan dan kegembiraan hilang. (3) Semangat dan tenaga secara fisik juga hilang. (4) Kemampuan beraktivitas sehari hari juga hilang. (5) DOSA DOSA JUGA HILANG. 

Selanjutnya, ketika Allah menyembuhkannya maka Allah mengembalikan apa yang telah Dia tarik dari diri seseorang ketika dia  sakit.  Selera makan dikembalikan.  Kegembiraan dan keceriaan dikembalikan.  Semangat dan tenaga secara fisik juga dikembalikan. Kemampuan untuk beraktivitas sehari hari juga dikembalikan lagi. TAPI DOSA TAK DIKEMBALIKAN.

JADI, DIANTARA LIMA PERKARA YANG TIDAK DIKEMBALIKAN KEPADA SESEORANG YANG TELAH SEMBUH DARI PENYAKITNYA ADALAH  DOSANYA karena telah dihapus.

Wallahu A'lam. (3.649).

 

Jumat, 02 Januari 2026

ORANG BERIMAN SELALU BERADA DALAM KEBAIKAN

 

ORANG BERIMAN SELALU BERADA DALAM KEBAIKAN

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, orang orang   beriman yang benar imannya dan melakukan amal shalih akan  senantiasa  berada dalam kebaikan. Allah Ta'ala berfirman :


مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal saleh, laki laki atau perempuan sedangkan dia beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an Nahal 97).

Tentang  surat  an Nahal 97 ini, Syaikh as Sa’di berkata : Firman Allah Ta’ala : “Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik”. Maksudnya : Dengan memberikan KETENANGAN HATI DAN KETENTERAMAN JIWA serta tidak menoleh kepada objek yang mengganggu hatinya dan Allah Ta’la memberinya rizki yang halal dari arah yang tak disangka sangka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Selain itu ketahuilah bahwa orang orang beriman senantiasa merasa tenang dalam menjalani kehidupannya karena ketika didatangi ujian berupa musibah maka mereka SANGAT PAHAM  bahwa itu adalah kehendak Allah Ta'ala yaitu sebagaimana firman-Nya :

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Katakanlah (Muhammad). Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah bertawakallah orang orang yang beriman. (Q.S at Taubah 51).

Dan juga orang orang beriman SANGAT PAHAM bahwa ketika didatangi ujian berupa musibah, diantaranya :

= Tidak  merasa cemas tersebab kekurangan harta, karena rizki setiap hamba telah dijamin oleh Allah Ta'ala sebagaimana firman-Nya :


وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ


Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) dibumi melainkan semuanya dijamin Allah rizkinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz). Q.S Hud 6.

Untuk mendapatkan rizki itu manusia memang harus berusaha. Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam menyebutkan perumpamaan tentang bagaimana burung keluar dari sarangnya dan berusaha  mencari rizki bagi dirinya. Beliau bersabda : 

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً

Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rizki sebagaimana burung mendapatkan rizki. Burung tersebut PERGI PADA PAGI HARI dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang. (H.R Imam Ahmad, Ibnu Majah, at Tirmidzi dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

= Tidak merasa berat dan mengeluh ketika didatangi penyakit, karena bisa besabar sehingga penyakitnya menjadi penghapus dosa dan meninggikan derajat. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: « مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

Tidaklah seorang muslim tertimpa cobaan, penyakit, kesulitan, kesedihan, gangguan, tidak pula gundah gulana, sampai kiranya duri yang menusuknya, melainkan Allah akan jadi sebagai penghapus dari kesalahannya (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

 قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إِنّ َّ الرَّجُلَ تَكُونُ لَهُ المَنزِلَةُ عِندَ اللهِ فَمَا يَبلُغُهَا بِعَمَلٍ، فَلَا يَزَالُ يَبتَلِيهِ بِمَا يَكرَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ ذَلِكَ

Sesungguhnya seorang hamba akan memperoleh kedudukan di sisi Allah bukan karena  amal semata, namun, senantiasa dirinya memperoleh ujian dengan perkara yang tidak disenanginya (diantaranya didatangi penyakit) hingga sampai (dia diangkat)  pada derajat yang tinggi. (H.R Ibnu Hibban, al Hakim, dihasankan oleh Syaikh al Albani).

Oleh karena itu hamba hamba Allah selalu menjaga imannya agar tetap kokoh. Ingatlah bahwa iman bisa turun bisa naik. Iman naik karena ketaatan  dan imam turun bahkan bisa hilang karena maksiat.

Wallahu A'lam. (3.648)

 

 

  

 

 

Selasa, 30 Desember 2025

TETAP MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN KERABAT ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT.

 

TETAP MENJAGA HUBUNGAN BAIK DENGAN KERABAT ORANG TUA YANG SUDAH WAFAT.

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

 Ketika orang tua kita masih hidup  tentulah mempunyai teman atau kerabat. Lalu ketika orag tua sudah wafat maka anak anaknya sangat dianjurkan melanjutkan hubungan kekerabatan dengan mereka. Ini adalah salah satu cara berbakti kepada orang tua yang sudah wafat.

Tentang perkara ini,  kita bisa belajar dari apa yang dilakukan Abdullah bin Umar. Dikisahkan bahwa setelah Umar bin Khaththab, ayahnya Abdullah bin Umar wafat, pada suatu waktu ada seorang Arab Badui lewat di sebuah jalan di Makkah. Ibnu Umar memberi salam kepadanya.

Lalu mempersilahkan orang Badui tersebut naik ke atas himar (keledai) yang dia tungggangi. Kemudian dipakaikan imamah (sejenis sorban) diatas kepala orang Badui itu.

Berkata Ibnu Dinar : Wahai Ibnu Umar, semoga Allah memperbaiki urusanmu, mengapa engkau berbuat seperti itu kepada orang Badui tersebut.

Ibnu Umar menjawab : Sesungguhnya ayah orang ini dahulu adalah sahabat karib ayahku dan sungguh aku mendengar Nabi pernah bersabda : 

 

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

 

Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik bapaknya.  (H.R Imam Muslim).

Oleh sebab itu tetaplah pelihara dan teruskan hubungan baik  dengan saudara dan kerabat orang tua kita yang sudah wafat. Jika ini kita lakukan maka berarti kita telah menghidupkan dan mengamalkan sunnah Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam.

Ketahuilah saudaraku, ketika seorang hamba menghidupkan sunnah Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam  maka  dia sangat beruntung. Sungguh  salah satu cara mencintai beliau dan AKAN BERSAMA BELIAU DI SURGA adalah dengan menghidupkan sunnah, sebagaimana sabda :

 من أحيا سنتي فقد أحبني ومن أحبني كان معي في الجنة .

Barangsiapa yang menghidupkan sunnahku maka dia telah mencintaiku. Barangsiapa mencintaiku maka dia akan bersamaku di surga. (H.R at Tirmidzi).

Wallahu A'lam. (3.647)